Sabtu, 25 Juni 2016

Kali Kedua



Jika wangimu saja bisa memindahkan duniaku,
Maka cintamu pasti bisa mengubah jalan hidupku

Cukup sekali saja, aku pernah merasa betapa menyiksa kehilanganmu
Kau tak terganti,
Kau yang slalu kunanti

**
Kali kedua, pada yang sama...

Banyak orang bilang, hati-hati kalau berhubungan lagi dengan masa lalu. Jangan-jangan apa yang belum terselesaikan itu bisa memicu kisah lalu bangkit lagi dan (bukan tidak mungkin) membangkitkan rasa-rasa yang pernah bergolak di masa lalu itu. Sudah banyak kejadian nyata yang membuktikan kenapa kita harus berhati-hati dengan masa lalu. Mungkin terdengar konyol. Tapi siapa sangka? Jika terperangkap, efeknya bisa dahsyat membahana merusak kini dan nanti. 

Aku harus kembali berurusan dengan kisah masa lalu yang kupikir sudah selesai dengan baik-baik itu. Kisah yang kupikir kami sepakat untuk menutupnya dengan tanpa tanda tanya. Ya sudah, seperti itu saja. Memang sempat terkesan gantung. Tapi aku memilih untuk melepaskan karena ingin hidup bebas, tanpa beban dan bahagia. Namun kenyataan berkata lain ketika aku tak sengaja kembali membutuhkan dia. 

Perasaan yang sempat kusimpan rapi dalam kotak berwarna merah muda itu berontak ingin dibongkar. Merengek ingin dijamah. Jahatnya, dia bekerja sama dengan perasaan itu dan menyerangku dengan iming-iming “akan kujelaskan semuanya”.  

Oh tidak. Janji yang pernah terlupakan itu ingin ditepati olehnya.

Semua getaran yang pernah kurasakan itu kembali aktif secara otomatis. Seperti anak-anak kecil yang mendengar suara tukang es krim lantas berebutan  menuju pagar seolah, seperti itulah getaran itu. Berebutan sibuk ingin melihat dia yang sekarang. Berubahkah? Atau masih sama seperti terakhir kali bertemu?
Tinggal aku sendiri berdiri di depan pintu rumah dengan keraguan. Haruskah aku juga menyambut dia lagi? Memberi kesempatan kali kedua bagi dia untuk menjelaskan apa yang selama 2 tahun ini tertunda. Ayolah, perasaanku sudah cukup terombang ambing selama 2 tahun terakhir. Haruskah perasaan yang limbung bagai perahu layar di tengah samudera ini hancur menabrak karang? Haruskah bermuara pada kesedihan? 

Oh tidak. Aku tidak siap dengan kemungkinan buruk itu.

Aku memang masih berharap dia mau memperjelas semua hal yang masih abu-abu ini. Tapi tidak secepat setelah bunga-bunga indah itu ditebar lagi, kan? Tidak sesegera setelah senyumku mengembang karena rindu ini buncah, kan? Apalah yang membuat dia berpikir ini saat yang tepat?

Ini kali kedua aku percaya dia akan menjelaskan semuanya. Menyambung kembali jalan yang pernah terputus. Meluruskan benang yang sempat kusut, mbundet. Menghidupkan lagi asa sekaligus duka yang pernah menjadi rekan sebelum lelap.  

Ini kali kedua. Antara asa dan duka. 
Ini kali kedua. Antara aku dan dia.