Sabtu, 27 September 2014

Kepada Kamu dengan Sepenggal Rasa Rindu


Aku nggak akan membiarkan diriku tertarik atau bahkan sampai jatuh cinta pada sosok yang tak bisa aku miliki. Jangankan untuk memiliki, hanya membawanya dalam mimpi saja rasanya sulit. Namun nyatanya, satu hari aku bertemu dengan seseorang yang bahkan kemudian membuatku sulit tidur, membuatku merasakan getaran-getaran tak wajar yang akhirnya membuatku gelisah setiap malam setelah detik pertemuan itu.

Hingga kemudian, hatiku dengan lugu berdoa supaya Tuhan merestui, mengijinkan kamu untuk hadir dan mengisi hari-hariku yang tak pernah istimewa. Aku terus berharap agar kamu benar-benar nyata dalam hidupku. Tanpa pernah aku sangka, Tuhan mendengarkan doaku. Tuhan menghadirkanmu dalam hari-hariku. Bukan kamu dalam sosok dewasa penuh pesona, namun sebagai malaikat tanpa sayap yang mengubah hidupku selamanya.

Seharusnya, aku tak langsung mengikuti kemana langkahmu pergi. Mengekori setiap gerakmu yang sederhana ibarat leukosit yang bermigrasi menuju pusat luka. Harusnya aku diam di tempat, cukup melihatmu saja ketika kamu berdiri di hadapanku. Tak perlu mencari jika kamu tak ada. Tapi kenyataannya ketika aku tak melihatmu, hatiku merasakan rindu yang begitu menyesakkan. Memaksaku untuk menggumamkan doa dan namamu dalam setiap sujud. Karena kata orang, doa adalah pengganti jumpa yang terbaik.

Lantas begitu saja, dan keesokan harinya kita kembali berjumpa. Mungkin tak seberapa namun begitu cukup bagi hatiku teraliri dengan air pegunungan bergalon-galon. Seajaib itukah? Iya. Karena cinta memang membawa keajaiban yang tak terhitung nilainya.

Hari-hari yang kulalui tak pernah seindah ini sejak kamu hadir dan membawa pengaruh yang begitu besar di dalamnya. Aku tak pernah jenuh menapaki tahap kedewasaanku setiap detiknya karena aku tahu, kamu ada untuk membantuku. Memang tak selalu berdiri di sisiku, namun aku yakin kamu ada.
Hingga akhirnya aku menempatkan kamu begitu istimewa. Tepat setelah dua laki-laki paling berarti dalam hidupku. Ayah dan Kakak. Ya, kamu menempati posisi terhormat dalam hidupku tanpa syarat atau alasan apapun.

Aku tak tahu apakah ini berarti banyak untukmu atau tidak, karena bahkan detik ini saja aku tak tahu bagaimana keadaanmu. Jangankan untuk melihatmu, bertemu via suara atau pesan teks saja sulit bagi kita. entah kamu yang mulai melepaskan aku atau aku yang telah lelah mengingatmu. Namun sepertinya alam tak akan membiarkanku lepas darimu karena setiap orang yang aku temui di kehidupan baruku terang-terangan mengingatkanku padamu. Takdir memang indah.

Sabtu, 13 September 2014

sepenggal rindu dalam kata

Lama tak kusapa dirimu, sosok paling berarti dalam hari-hari sejak bulan pertama di tahun ini. Lama tak kudengar desah tawa yang dulu selalu menghiasi hari. Jangan kau tanyakan bagaimana rasanya di sini, karena aku sendiri tidak mengerti bagaimana lagi keadaan hatiku karena tergerus jutaan rasa setiap harinya karenamu.

Sempat terpikir untuk melepaskan segala kenangan, tapi rupanya kamu terus berdoa agar aku tetap di sisimu ya? Bagaimana mungkin, bahkan ketika aku tidak sedang memikirkanmu, kau terbawa dalam alam bawah sadar. Sungguh aneh, tapi nyata. Bagaimana bisa setiap teman yang kutemui di sana mengingatkanku padamu. Seolah olah kamu bersekongkol dengan mereka agar memperingatkan aku selalu padamu.

Memang, tak satupun dari mereka bisa menggantikan posisimu. Sesenti pun tidak.

Meskipun kita sudah tak lagi bicara baik lewat pesan singkat atau tukar suara, aku masih bisa merasakan getaran yang kamu kirimkan lewat isyarat, begitu pun aku harap doa yang kubisikkan dalam hati tersampaikan untukmu. Aku masih terus berharap kamu menunggu. Paling tidak, di sini aku masih menunggu sepenggal janji yang kutinggalkan dalam genggamanmu di kota kelahiranku.

Meskipun aku tak tahu lagi bagaimana keadaanmu di sana, kuharap kamu selalu berada dalam lindungan-Nya. AKu harap Tuhan selalu memberikan restu untuk kau dan aku dalam setiap rencana yang kita inginkan. seperti yang pernah aku katakan sebelumnya, apapun rencanamu, aku selalu ada dalam doa untukmu. Kau lebih dari cukup untuk tau yang terbaik untukmu. Aku berharap semoga Tuhan mengizinkan aku dan kau melewati segala sesuatu, suka atau duka bersama dengan keluarga yang kita cintai. Mungkin aku di sini hanya sendiri tanpa kedua orangtuaku, tapi aku tahu, seperti yang kau bilang dulu, jarak menjadi penentu janjiku untuk berhasil di sini. Sedang kau yang di sana, kuharap terus berjuang untuk masa depan yang kamu inginkan.

Aku masih ingin berharap agar Tuhan merestui aku dan kamu dalam lembaran sama. Aku percaya, jika memang kau dan aku satu, kita akan dipertemukan lagi pada saatnya.

Dengan jutaan rasa, aku katakan padamu, semoga kau selalu berada dalam lindungan Tuhan.