Jumat, 24 Januari 2014

Kamu



Kamu
Satu kata penuh tanya
Satu kata penuh makna
Satu kata penuh rasa

Kamu
Hanya satu
Namun dengan mudah tancapkan seribu sembilu
Tepat pada satu
Aku

Mungkin bukan salahmu
Karna dari dulu aku yang memilih
Untuk tak hanya menghormati

Kamu
 Dan diammu
Buatku luluh

Kamu 
Juga senyummu
Buatku lumpuh

Kamu
Hanya satu
Satu waktu

Kamu
Satu kata
Sejuta rasa
Cinta
-talitha quratu aini-

Kamis, 23 Januari 2014

Sepenggal, Untukmu



Pernahkah terpikir sedikit saja
Bagaimana bisa dengan mudahnya kau tersenyum padaku?
Bagaimana dengan cepatnya
Kau buat aku melambung tinggi melihat senyum itu?
Tidakkah kau sadari
Hatiku porak poranda
Saat aku tiba,
Dan kau ada menyambutku di sana dengan binar di matamu?
Entah binar apa itu
Mungkinkah binar... cinta?
Mungkin aku gila
Memang aku gila
Mungkin aku akan terus menjadi si pemimpi
Ya, aku memang si pemimpi
Karena melihatmu
Karena merasakan getaran tak wajar di sisimu
Karena dengan bodohnya memilih terus begini
Salahkah bila aku lebih dari sekedar menghormati?
-talitha quratu aini-

Membaca Hati



Aku bukan si pandai membaca hati
Mereka memanggilku si penyimpan rasa dalam hati
Aku bukan si gadis pandai bicara
Mereka mengenalku si gadis pemalu
Ini satu ceritaku
Tak perlu bertanya,
Ini bukan cerita cinta, dengarkanlah saja
Dan bayangkan...
Bagaimana ketika tiba-tiba pada satu hari,
Jantungmu berdegup ribuan kali cepatnya
Tiap kau bertemu dengan sosok dewasa penuh pesona
Yang selalu tersenyum lebar bila kau datang
Yang dengan ramahnya menjawab semua pertanyaan konyolmu
Yang ikut tertawa mendengar tawamu
Ahh.
Bayangkan bagaimana keika tiba-tiba satu hari,
Aliran darahmu ribuan kali derasnya
Karena kau sadar kau jatuh cinta
Bukan pada lelaki sebaya
Namun sosok dewasa penuh pesona
Yang senyumnya sungguh tenangkan hati
Yang tawanya begitu sejukkan hari?
Ini ceritaku
Tak perlulah bertanya, bayangkanlah saja
Bagaimana menjadi aku,
Salahkah bilaku lebih dari sekedar menghormati?
-talitha quratu aini-

Diam



Berkata jujur itu salah
Berbohong pun dosa
Jadi, ketika kupilih diam
Sebaiknya kau terima saja
Berkata jujur itu susah
Berbohong pun membuat resah
Jadi, ketika kupilih diam
Baiknya tak perlu tanya
Tapi asal tahu saja, diamku bukan berarti tak tahu
Diamku bukan berarti tak peduli
Diamku jauh lebih berarti dibandingkan kata-kata
Jadi, ketika kupilih diam,
Aku bukan tak tahu
Aku bukan tak mau
Aku hanya mencoba untuk tidak berkata jujur
Tak juga berkata bohong padamu
Dan baiknya, terimalah saja
Karena aku hanya... lelah
-talitha quratu aini-