Jika
wangimu saja bisa memindahkan duniaku,
Maka
cintamu pasti bisa mengubah jalan hidupku
Cukup
sekali saja, aku pernah merasa betapa menyiksa kehilanganmu
Kau
tak terganti,
Kau
yang slalu kunanti
**
Kali
kedua, pada yang sama...
Banyak orang
bilang, hati-hati kalau berhubungan lagi dengan masa lalu. Jangan-jangan apa
yang belum terselesaikan itu bisa memicu kisah lalu bangkit lagi dan (bukan
tidak mungkin) membangkitkan rasa-rasa yang pernah bergolak di masa lalu itu. Sudah
banyak kejadian nyata yang membuktikan kenapa kita harus berhati-hati
dengan masa lalu. Mungkin terdengar konyol. Tapi siapa sangka? Jika terperangkap, efeknya bisa dahsyat membahana merusak kini dan nanti.
Aku
harus kembali berurusan dengan kisah masa lalu yang kupikir sudah selesai
dengan baik-baik itu. Kisah yang kupikir kami sepakat untuk menutupnya dengan
tanpa tanda tanya. Ya sudah, seperti itu saja. Memang sempat terkesan gantung.
Tapi aku memilih untuk melepaskan karena ingin hidup bebas, tanpa beban dan
bahagia. Namun kenyataan berkata lain ketika aku tak sengaja kembali
membutuhkan dia.
Perasaan yang sempat kusimpan rapi dalam kotak berwarna merah
muda itu berontak ingin dibongkar. Merengek ingin dijamah. Jahatnya, dia
bekerja sama dengan perasaan itu dan menyerangku dengan iming-iming “akan kujelaskan semuanya”.
Oh tidak.
Janji yang pernah terlupakan itu ingin ditepati olehnya.
Semua
getaran yang pernah kurasakan itu kembali aktif secara otomatis. Seperti anak-anak
kecil yang mendengar suara tukang es krim lantas berebutan menuju pagar seolah, seperti itulah getaran
itu. Berebutan sibuk ingin melihat dia yang sekarang. Berubahkah? Atau masih sama
seperti terakhir kali bertemu?
Tinggal aku
sendiri berdiri di depan pintu rumah dengan keraguan. Haruskah aku juga
menyambut dia lagi? Memberi kesempatan kali kedua bagi dia untuk menjelaskan
apa yang selama 2 tahun ini tertunda. Ayolah, perasaanku sudah cukup terombang
ambing selama 2 tahun terakhir. Haruskah perasaan yang limbung bagai perahu
layar di tengah samudera ini hancur menabrak karang? Haruskah bermuara pada
kesedihan?
Oh tidak. Aku tidak siap dengan kemungkinan buruk itu.
Aku memang
masih berharap dia mau memperjelas semua hal yang masih abu-abu ini. Tapi tidak
secepat setelah bunga-bunga indah itu ditebar lagi, kan? Tidak sesegera setelah
senyumku mengembang karena rindu ini buncah, kan? Apalah yang membuat dia
berpikir ini saat yang tepat?
Ini kali
kedua aku percaya dia akan menjelaskan semuanya. Menyambung kembali jalan yang
pernah terputus. Meluruskan benang yang sempat kusut, mbundet. Menghidupkan lagi asa sekaligus duka yang pernah menjadi
rekan sebelum lelap.
Ini kali
kedua. Antara asa dan duka.
Ini kali kedua. Antara aku dan dia.