Sabtu, 30 Agustus 2014

Intermezzo


Assalamualaikum.
Annyeong Haseyo.

Hari ini entah kenapa, aku ingin sekali membahas tentang fenomena dunia maya yang diselami oleh banyak anak sebayaku. Bahkan mungkin hampir semua.

Seperti yang kita tahu, saat ini dengan mudah kita dapat berkenalan, kemudian berbicara banyak hal seolah-olah telah lama saling kenal melalui dunia maya. Juga melalui aplikasi dalam ponsel yang memungkinkan kita untuk mengenal mereka jauh sebelum kita bertemu secara langsung. Hal ini memang menguntungkan. Apalagi bagi mereka yang baru akan memasuki sebuah universitas, atau komunitas baru lainnya. Tidak perlu takut tidak punya teman atau tidak mengenal siapapun saat ospek atau kuliah perdana, karena toh sudah berkenalan dengan banyak orang sebelum hari-H.

Namun, setelah menjalani fenomena berkenalan tanpa tatap muka ini, tidak jarang beberapa di antara mereka merasakan kejanggalan. Kenapa?

Ini dikarenakan banyak hal yang tidak sesuai dengan apa yang mereka pikirkan ketika berhubungan melalui dunia maya. Terkadang apa yang mereka katakan baik-baik saja melalui tulisan tak sama 
dengan apa yang sesungguhnya mereka rasakan. Tulisan memang bisa tersenyum, namun siapa sangka jika saat itu sang penulis tengah bermuram durja? Melalui dunia maya, seseorang bisa terkenal dengan keramahan yang luar biasa, dan mengatakan banyak hal dengan bijak. Namun siapa sangka jika ketika bertemu langsung, dia tak seramah yang kita kira?

Banyak orang yang tertipu karena hidup di dunia maya. Sesungguhnya tulisan tak cukup bisa melukiskan seseorang secara detail. Ketika tatap muka saja, seseorang bisa dengan mudah memalsukan identitas, apalagi jika kita hanya bertemu dengan mereka melalui sosial media atau aplikasi dalam ponsel? Bisa saja dia mengarang nama, usia, bahkan mungkin gender.

Keadaan ini jelas berbeda dengan yang terjadi beberapa tahun lalu. Ketika dunia maya belum semarak seperti sekarang. Ketika aplikasi dalam ponsel hanya berbentuk telepon dan pesan singkat.
Mereka yang akan segera tergabung dalam komunitas baru, jelas berkenalan dengan orang baru melalui tatap muka, langsung bicara dengan si pemilik nama dan suara. Mengetahui secara jelas gender masing-masing. Di sini, kesan pertama akan sangat berpengaruh untuk kelangsungan hubungan pertemanan. Jika kita ramah, maka kita akan mudah membuat teman baru kita nyaman. Tapi jika awalnya saja sudah pelit untuk sekedar tersenyum, maka otomatis dalam hitungan detik, mereka tidak akan nyaman berada di dekat kita.

Hal yang penting ketika memulai pertemanan dengan seseorang adalah dengan membuat mereka tertawa. Karena percaya atau tidak, tawa akan menjadi jembatan menuju pertemanan yang menyenangkan. Tidak jarang mereka yang berbeda gender berusaha untuk melakukan aksi pendekatan dengan cara menyiapkan stok guyon (;D)

Sepertinya, mereka yang memilih hidup di dunia nyata dapat menjalani hidup dengan lebih santai karena mereka tahu medan apa yang mereka hadapi. Alangkah baiknya, kita pun berusaha untuk hidup di dunia nyata. Bertemu dengan orang banyak secara tatap muka.

Jika kita memiliki mata dan mulut yang bisa bicara, kenapa kita harus mengandalkan jempol tangan 
untuk berkenalan dengan mereka melalui sosial media atau aplikasi dalam ponsel? Mari kita hidup di dunia nyata bersama-sama dan menjali hubungan pertemanan yang menyenangkan :D


Wassalamualaikum.
Kansahamnida :D

Jumat, 29 Agustus 2014

ordinary people-john legend

"Ordinary People"

[Verse 1]

Girl im in love with you
This ain't the honeymoon
Past the infatuation phase
Right in the thick of love
At times we get sick of love
It seems like we argue everyday

[Bridge]

I know i misbehaved
And you made your mistakes
And we both still got room left to grow
And though love sometimes hurts
I still put you first
And we'll make this thing work
But I think we should take it slow

[Chorus]

We're just ordinary people
We don't know which way to go
Cuz we're ordinary people
Maybe we should take it slow (Take it slow oh oh ohh)
This time we'll take it slow (Take it slow oh oh ohh)
This time we'll take it slow

[Verse 2]

This ain't a movie no
No fairy tale conclusion ya'll
It gets more confusing everyday
Sometimes it's heaven sent
Then we head back to hell again
We kiss then we make up on the way

[Bridge]

I hang up you call
We rise and we fall
And we feel like just walking away
As our love advances
We take second chances
Though it's not a fantasy
I Still want you to stay

[Chorus]

We're just ordinary people
We don't know which way to go
Cuz we're ordinary people
Maybe we should take it slow (Take it slow oh oh ohh)
This time we'll take it slow (Take it slow oh oh ohh)
This time we'll take it slow

[Verse 3]

Take it slow
Maybe we'll live and learn
Maybe we'll crash and burn
Maybe you'll stay, maybe you'll leave,
maybe you'll return
Maybe another fight
Maybe we won't survive
But maybe we'll grow
We never know baby you and I

[Chorus]

We're just ordinary people
We don't know which way to go
Cuz we're ordinary people
Maybe we should take it slow (Heyyy)
We're just ordinary people
We don't know which way to go
Cuz we're ordinary people
Maybe we should take it slow (Take it slow oh oh ohh)
This time we'll take it slow (Take it slow oh oh ohh)
This time we'll take it slow


 
Dia pernah menyebutkan lagu ini dulu, ketika aku dan dia terlibat percakapan melalui pesan singkat. Awalnya aku bingung ketika dia menyebutkan judul lagu ini. Ternyata setelah aku mencari lagu ini, aku pernah mendengar sebelumnya, ketika SD dulu.

Lagu ini punya makna yang bagus, dan aku suka lagu ini. Aku masih ingat bagian lagu yang ia ambil dalam percakapan kami. Dia teramat benar saat itu dan bahkan hingga detik ini.

maybe we should take it slow. 

Semoga saja kalau dia membaca posting ini, dia juga masih ingat dengan lagu yang pernah masuk dalam percakapan kami ini. Karena dia, aku jatuh cinta dengan lagu ini. Terimakasih.  

Ketika Cinta Menorehkan Luka

Gadis baru saja menginjakkan kakinya di kota Gudeg. Setelah 3 tahun mengenakan seragam putih abu-abu, ini menjadi penanda baru dalam fase hidupnya. Menjadi seorang mahasiswa.

Tatapannya ragu, senyumnya tersungging malu-malu. Takut melangkahkan kaki karena tak yakin jalan mana yang benar. Ia terlalu takut mengulang kesalahan yang menjadi bekas luka tak permanen dalam hidupnya.

Gadis tak terbiasa mengenal orang baru dengan cepat. Ia lebih suka menyendiri di perpustakaan kampus, memilih untuk berkutat dengan puluhan buku yang menurutnya adalah jendela dunia. Tidak peduli suara riuh rendah di balik jendela gedung sejuta ilmu itu.

Hingga suatu hari, Gadis bertemu dengan Pemuda di sebuah toko buku. Pemuda mengenakan kemeja lengan panjang motif kotak-kotak berwarna ungu. Tubuhnya tinggi  dengan bahu yang terlihat kokoh. Senyumnya begitu ramah dan tatapannya hangat menenangkan. Mereka bertemu di salah satu rak buku karena mencari buku yang sama. Sebuah novel detektif. 

Dari pertemuan mereka sore itu, Gadis dan Pemuda tak pernah menyangka bahwa Tuhan kembali mempertemukan mereka dalam sebuah acara seminar motivasi di sebuah gedung pertemuan dekat kampus Gadis. Di sanalah mereka berkenalan dan bertukar cerita. Ternyata Pemuda bekerja di sebuah kantor penerbit di kota itu. Sejak pertemuan di seminar, mereka bertukar nomor telepon dan akhirnya saling mengenal lebih jauh satu sama lain.

Usia keduanya terpaut 6 tahun. Namun Pemuda tak sedikitpun menunjukkan sisi dewasa ketika mereka membahas sebuah masalah. Tak pernah terkesan menggurui, apalagi memihak. Ia selalu membiarkan Gadis mengungkapkan pendapat tanpa menyela. Ia sangat menghargai Gadis. Begitu pula sebaliknya. Gadis begitu mengagumi sosok Pemuda yang penuh dengan stok lelucon. Begitu lihai membuatnya tertawa dan paham titik-titik tertentu ketika Gadis membutuhkan tawa.

Tak sampai menunggu berbulan-bulan, Gadis jatuh cinta pada Pemuda. Pemuda jatuh cinta pada Gadis. Sesederhana itulah pertemuan mereka dan sesederhana itu pula mereka jatuh cinta.

Mereka berdua menikmati hari-hari bersama tanpa pernah saling mengungkapkan perasaan, karena tak ingin merusak hubungan pertemanan yang terjalin di antara keduanya. Mereka sibuk menyimpan rapi perasaan itu, karena diam-diam keduanya menaruh kepercayaan bahwa Tuhan yang menjaganya.

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Gadis tumbuh menjadi seseorang yang dewasa dan semakin menarik. Tak sedikit lawan jenis yang menaruh harap padanya. Namun ia tetap setia pada perasaannya untuk Pemuda walaupun ia sendiri tak tahu bagaimana perasaan Pemuda padanya. Ia tak peduli. Yang penting adalah ia mencintai Pemuda.
Sementara Pemuda, semakin hari pun semakin mencintai Gadis. Namun demi melihat banyaknya sosok di luar sana yang mendekati Gadis, pikirannya lambat laun berubah. Ia mulai berpikir bahwa Gadis mungkin akan lebih bahagia bersama sosok lain.

Hingga kemudian, tepat 2 tahun setelah pertemuan mereka, Pemuda memutuskan untuk tidak lagi berada di sisi Gadis. Ia tak ingin menaruh harapan yang terlalu besar dalam dirinya untuk Gadis karena ia takut harapan itu akan menahan langkah Gadis. Maka, diam-diam ia pergi dari kota Gudeg. Meninggalkan Gadis.

Gadis terkejut dengan kepergian Pemuda. Hari-harinya tak lagi bahagia seperti saat Pemuda masih berada di sisinya. Namun ia masih menyimpan kepercayaan, bahwa Tuhan yang akan mempertemukan mereka kembali. Maka setiap hari, ia tak pernah lupa berdoa untuk kebahagiaan Pemuda, dan agar suatu saat dipertemukan kembali dengan Pemuda.

2 tahun berlalu.
Gadis telah lulus dengan predikat terbaik. Ia bahkan bekerja di salah satu perusahaan besar di kota Surabaya. Namun hatinya tidak pernah sembuh dari luka karena ditinggalkan oleh cinta pertamanya, Pemuda. Ia tak berhenti berharap agar bisa bertemu lagi dengan Pemuda.
Mungkinkah Pemuda telah menikah?

Pemuda kembali ke Indonesia setelah menyelesaikan pelatihan di luar negeri. Ia diterima di sebuah perusahaan besar di kota Surabaya. Namun hatinya tidak pernah berhenti membisikkan nama Gadis. Sepercik harap yang ia kubur itu masih bertahan di sana. Ia ingin kembali bertemu dengan Gadis yang tak pernah tidak menggetarkan jiwanya itu.
Mungkinkah Gadis telah menikah?

Dengan langkah yang tergerus rindu, keduanya menyimpan asa. Mungkinkah takdir kembali mempertemukan Pemuda dan Gadis?

Sabtu, 23 Agustus 2014

Setiap orang memiliki kebebasan untuk memilih. Apakah akan tetap bertahan atau justru melepaskan. Yang berat dirasa adalah untuk ikhlas dengan Apapun keputusan yang dipilih nantinya.

Banyak yang bilang melepaskan bukan berarti tak sanggup lagi memperjuangkan. Mereka hanya lelah terus menerus tergerus jutaan rasa. Mereka butuh istirahat sejenak, namun kemudian Tuhan membelokkan jalan hingga mereka tak kembali lagi untuk meneruskan perjuangan tuk mempertahankan apa yang boleh jadi menjadi milik mereka di kemudian hari.

Semua butuh waktu, tak perlu buru buru, karena setiap kita butuh membiasakan diri dan berpikir. Namun bukan cara yang baik dengan meninggalkan atau melepaskan tanpa memberi jalan pulang.


Jumat, 22 Agustus 2014

Aku bertemu dengan seseorang. Aku tak tahu kenapa, tapi dia mengirimkan getaran aneh dalam diriku. Aku tidak tahu jika ternyata kutub yang aku dan dia miliki berlawanan, sehingga dengan mudah aku terperangkap pasrah dalam jaring yang ia pasang.

Jika saja aku tahu dia akan membuatku begini dalam satu hari, aku rela berlari menjauh sebelum terlambat. Aku rela pontang-panting seperti orang gila asalkan dia tidak tersenyum lebar karena merasa berhasil menangkapku, membawaku masuk ke dalam dunianya yang berbeda denganku.

Namun nyatanya dugaanku salah. Kutubku dan dia memang berbeda. Tapi siapa sangka jika duniaku dan dia sama? Tercipta dengan sistem paralel. Seperti dua garis lurus yang berdampingan awalnya namun kemudian Tuhan membelokkan salah satu garis, hingga bertemu pada satu titik.

Ternyata, hal yang selama ini aku jadikan khayalan dan mimpi masa kecil, terasa nyata baginya. Bahkan ia ingin membuatku mewujudkannya. Dia percaya, aku mampu. Dia menghidupkan lagi mimpi, harapan dan cita-cita. Hal yang selama ini aku pendam sendiri justru ia paksa untuk aku umumkan pada dunia. Lantas apa yang bisa aku lakukan selain mengikuti arah jalannya?

Seseorang yang aku bahkan tak menyangka jika memiliki bakat terpendam yang sama dengan yang aku miliki. Seseorang yang aku tak percaya juga mencintai dunia yang aku tinggali. Dunia penuh deretan kata yang kurasa tak semua temanku melirik dunia itu.

Seseorang yang diam-diam ingin mengejar mimpi, melalangbuana ke negeri orang. Seseorang yang...tanpa pernah aku duga, selalu berdiri nyata di hadapanku sebelum aku pergi dari kota kelahiranku. Juga duduk di sampingku, melontarkan ribuan lelucon. Membuatku tertawa sepanjang sisa hari yang kumiliki.

Seseorang yang harusnya sebatas kuhormati justru aku biarkan menjelma menjadi seseorang paling berarti. Seseorang yang membuatku bersyukur karena dia telah terlahir lebih dulu dariku, dan takdir mempertemukan aku dan dia pada satu hari.

Seseorang yang selamanya takkan berani aku sebutkan namanya.

Senin, 18 Agustus 2014

Detik Menyesakkan


Hari itu benar-benar datang
Ketika aku berdiri di pelataran bandara
Diiringi awan mendung yang bergelayut rendah
Semakin memberatkan langkah
Sungguh
Detik-detik akan segera membawaku pergi
Sekejap memisahkan perasaan
Aku berdiri menatap kaca besar itu
Berharap melihatmu untuk terakhir kali
Yang jelas tak mungkin
Sementara otak kiri menunggu detik keberangkatan
Otak kanan sibuk memutar ulang segala kenangan
Hatiku semakin tergerus jutaan rasa
Maka mau tak mau
Air mata berperan
Seenaknya jatuh ketika bayanganmu merasukiku
Ini membuat mereka bertanya
“Ada apa denganmu?”
Lantas apa yang aku katakan?
Apa aku harus mengakui aku takut meninggalkan ini semua?
Namun aku hanya menggeleng lemah
Aku berusaha tidak mengikuti ego
Menyesakkan

Lagi-Lagi tanpa Jeda



Rindu terkadang menyesakkan
Mengekang, menjerat langkah kaki
Hingga aku terpaksa berhenti untuk banyak saat
Sekedar untuk menunggu
Berharap dia juga rasakan yang sama
Lantas aku ketagihan dengan deretan kalimat itu
Yang kuartikan dengan penuh percaya diri
Seraya tersenyum lebar
Mungkinkah dia?
Namun sentakan tiba-tiba mengejutkanku
Menyeretku kembali pada kenyataan
Bukan dunia khayal hasil rekaan hati yang bekerja sama dengan otak kanan
Berteriak di depan wajahku
“Kamu berkhayal sepanjang hari!”
Otak kiriku tertawa lebar
Lantas ikut meledekku
“Apa kubilang. Kau terlalu banyak membaca dongeng!”
Betapa semakin menyesakkan
Lagi-lagi harus kurasakan
Rindu yang membelenggu
Memudarkan warna biru langit senja
Menjadi kelabu
Mungkinkah kita ini satu
Tertulis indah dalam takdir Tuhan?
Atau selamanya cerita ini diawali namun tanpa akhir?
Ah.

Minggu, 17 Agustus 2014

Lihatlah Lebih Dekat

Sherina-Lihatlah Lebih Dekat
 
Hatiku sedih
Hatiku gundah
Tak ingin pergi berpisah
Hatiku bertanya
Hatiku curiga
Mungkinkah kutemui kebahagiaan seperti di sini
Sahabat yang selalu ada
Dalam suka dan duka
Sahabat yang selalu ada
Dalam suka dan duka

Tempat yang nyaman
Kala ku terjaga
Dalam tidurku yang lelap

Pergilah sedih
Pergilah resah
Jauhkanlah aku dari
Salah prasangka

Pergilah gundah
Jauhkan resah
Lihat segalanya lebih dekat
Dan 'kubisa menilai lebih bijaksana

Mengapa bintang bersinar
Mengapa air mengalir
Mengapa dunia berputar
Lihat segalanya lebih dekat
Dan 'kuakan mengerti
 
 
 Entah kenapa tiba-tiba teringat lagu masa kecil ini, yang justru sesuai dengan perasaan dan keadaanku saat ini. Kegundahan yang selama ini terasa begitu menyakitkan. Kesedihan yang terasa menyesakkan di pintu keberangkatan hari itu, lantas air mata tumpah ruah ketika pesawat tinggal landas. 
 
Namun sekarang, aku tahu aku harus bangkit. Aku harus meneruskan hidupku cepat atau lambat. Menggapai mimpiku menjadi seorang penulis, seperti dukungan seseorang untukku... Dia teramat benar, aku tak pernah sendirian, aku tak harus menggalaukan hari yang sepi karena aku bisa menciptakan keramaian sendiri dengan atau tanpa dia di sini. 
 

Jumat, 15 Agustus 2014

Sekilas Pandangan tentang Anak dan Gadget

Assalamualaikum, Readers!
Annyeong Haseyo...

Wah, udah lama aku nggak ngomongin topik yang sedikit lebih berat dari biasanya. Kali ini, aku ingin mengangkat masalah gadget yang melanda kehidupan sebagian besar anak-anak di bawah umur.

Sebelum membahas contoh yang ada di luar sana, mungkin ada baiknya aku memberikan sepenggal dari keluargaku sendiri mengenai gadget yang menguasai anak "di bawah umur".

Ketika aku berkunjung ke rumah Nenek di kota Solo, aku bertemu sepupuku yang masih duduk di bangku SD dan SMP. Awalnya semua terlihat wajar saja karena mereka duduk di ruang tengah sambil ikut menonton acara TV. Tapi, selang beberapa menit, keduanya mengeluarkan ponsel masing-masing dan lantas asyik memainkannya. Sedikit tergelitik melihat adegan ini. Bayangkan saja, anak-anak jaman sekarang yang ibaratnya masih ingusan saja sudah mengenal kata handphone.Ckckck...

Mungkin banyak yang menganggap ini hal yang lumrah, toh kita hidup di jaman yang serba canggih, jadi bukan hal yang tabu melihat anak kecil memegang ponsel dengan merek mahal yang bisa merangkap menjadi laptop mini.

Tapi, apa iya ini adalah tindakan yang benar dari orangtua?

Dulu, ketika aku dan kita yang telah melewati masa kecil masih duduk di bangku SD, rasanya tidak mungkin memiliki barang semahal itu. Boro-boro memiliki, untuk sekedar mengenal saja rasanya jauh. Kalaupun ada, pasti hanya ponsel yang cukup untuk menelepon dan SMS saja. Alasannya jelas, dulu, ponsel memang barang mahal dan belum sepopuler sekarang. Tapi, poinnya bukan di sana. Dulu, kita selalu punya waktu untuk bermain di luar, berkumpul bersama keluarga, dan melakukan aktivitas lain yang lebih menyehatkan dibandikan memelototi layar ponsel atau gadget lainnya. Sedangkan sekarang? Kita pasti banyak menemukan anak SD yang sudah menenteng gadget kemana-mana. Seolah barang itu adalah bagian dari jari mereka. Mereka punya pilihan untuk meninggalkan gadget dan bermain di luar, tapi kenyataannya mereka memilih bermain dengan benda mati yang canggih tersebut, kan?

Tidak sampai di situ. Mereka jadi tak lagi punya waktu untuk mengenal teman sebaya, bermain robot-robotan, boneka, atau masak-masakan di halaman rumah. Mereka asyik dengan dunia maya, dunia yang mereka ciptakan sendiri. Bermain bersama teman yang bahkan mereka sendiri tidak tahu nyata atau tidak. Bukan tak mungkin mereka justru bergaul dengan orang dewasa. Di dunia maya, seseorang bebas menentukan gender, umur dan bahkan nama, bukan?

Jangankan anak yang duduk di bangku SD, mereka yang masih TK saja sudah ada yang menenteng gadget kemana-mana. Herannya, orangtua mereka begitu bangga memamerkan anak mereka yang pandai mengutak atik barang mahal itu. MasyaAllah...

Kejadian lain yang menggelitik hati adalah ketika di sekolah, aku bertemu dengan seorang anak kira-kira berumur 5 atau 6 tahun, menenteng Ipad keluar dari ruang Tata Usaha, mungkin anak dari salah satu staff TU sekolah, mengenakan kacamata. Entah harus tertawa atau bagaimana melihatnya. Bayangkanlah, anak sekecil itu sudah mengenakan kacamata tebal sehari-harinya. Bagaimana nantinya kalau sudah besar?

Salah satu faktor terbesar dari kasus ini adalah didikan orangtua. Banyak dari mereka yang memanjakan anak dengan memberikan fasilitas gadget yang mewah, tanpa memerdulikan dampak lain yang muncul di kemudian hari. Salah satunya ya kacamata tebal dan tidak peduli lingkungan. Banyak kan, yang jika sudah memegang ponsel, lalu melupakan kewajiban lain seperti membantu pekerjaan rumah? Boro-boro secara sukarela, diminta pun mungkin mereka menunda-nunda. Kalau sudah begini, siapa yang disalahkan?

Dari sedikit penjabaran di atas, aku ingin menyalurkan sedikit pendapatku, ada baiknya orangtua tidak lagi memanjakan anak mereka dengan fasilitas mewah yang belum pantas untuk mereka dapatkan. Tidak baik terlalu memanjakan anak, biarkan mereka tumbuh apa adanya, bermain dengan teman sebaya di luar rumah, merasakan kebahagiaan menjadi seorang anak yang merdeka. Ini akan jauh lebih baik untuk perkembangan pribadi anak.


Wassalamualaikum.
Kansahamnida!

Kamis, 14 Agustus 2014

Sepenggal Lagu

Ku nikmati tiap detikku dengan namamu di hatiku 
Ku rasa bahagia dan hati berbunga-bunga 
Kau buatku tergila-gila, tunduk hati aku setia 
Selayaknya sihir kau buatku terjatuh

 -Tulus, Kisah Sebentar-

Rabu, 13 Agustus 2014

Home-Michael Buble


Another summer day
Has come and gone away
In Paris and Rome
But I wanna go home

May be surrounded by
A million people I
Still feel all alone
I just wanna go home
Oh, I miss you, you know

And I’ve been keeping all the letters that I wrote to you
Each one a line or two
“I’m fine baby, how are you?”
Well I would send them but I know that it’s just not enough
My words were cold and flat
And you deserve more than that

Another aeroplane
Another sunny place
I’m lucky, I know
But I wanna go home
I’ve got to go home

Let me go home
I’m just too far from where you are
I wanna come home

And I feel just like I’m living someone else’s life
It’s like I just stepped outside
When everything was going right
And I know just why you could not
Come along with me
This was not your dream
But you always believed in me

Another winter day has come
And gone away
In either Paris or Rome
And I wanna go home
Let me go home

And I’m surrounded by
A million people I
Still feel alone
And let me go home
Oh, I miss you, you know

Let me go home
I’ve had my run
Baby, I’m done
I gotta go home
Let me go home
It'll all be all right
I’ll be home tonight
I’m coming back home

Hari-Hari Tak Baik


Maafkanlah, aku sedang tak baik beberapa hari ini dan aku membutuhkanmu. 

Entah kepada siapa lagi aku menjelaskan rasa khawatirku sebelum melangkahkan kaki, melewati gerbang itu, selain kepadamu. Namun aku tak cukup berani untuk bercerita secara langsung karena aku tak ingin membuatmu mengernyitkan kening, lantas berpikiran macam-macam. Aku tak ingin membuatmu kepikiran.Aku tak ingin mengganggumu seperti ketika aku masih mengenakan seragam putih abu-abu. 

Hanya saja detik ini, aku benar-benar tidak tahan lagi memendam semuanya. 

Aku merindukan semua yang telah berlalu. Kota kelahiranku, tempat penyimpan ribuan kenangan, dan sebentar lagi juga orangtuaku. Kau mungkin akan mengatakan, ini hanya awalnya saja. Baiklah, jika memang begitu biarkanlah aku menumpahkan semuanya sekarang. Bolehkah aku menangis? Aku tidak tahan menanggung beban ini sendirian.  

Aku takut membayangkan bagaimana hari-hari kedepannya, apakah aku akan mendapatkan teman-teman sebaik mereka yang kutemukan di SMP atau SMA? Apa aku akan merasakan kebahagiaan seperti ketika aku masih mengenakan seragam sekolah dan berstatus siswa? Kau jelas sudah mengalami tahap ini dan tahu dengan pasti bagaimana memulai semuanya. 

Lalu aku harus bagaimana sekarang?

Ini mungkin hanya sebatas rasa khawatir yang tak perlu. Tinggal jalani saja, kan? Tapi bagaimana mungkin jika setiap malam aku menggelisahkan hal-hal yang belum terjadi? Sibuk menerka bagaimana, apa dan siapa. Belum lagi perasaan rindu dengan kota kelahiran. Oh Tuhan.

Aku memang dikelilingi teman yang banyak secara tak kasat mata, tentu saja. Kami kan baru kenal lewat sosial media dan komunitas itu. Belum berkenalan sebagai seseorang seperti katamu. Ponselku berdenting ramai, setiap jam. Namun aku tetap merasa kesepian. Entahlah. Aku sudah pernah menceritakannya padamu, kan? Mungkin kau benar, hanya jasadku yang baru sampai di kota ini. Sedang hati dan pikiran masih terdampar di sisi dermaga, enggan beranjak.
Aku harus bagaimana?