Assalamualaikum.
Annyeong
Haseyo.
Hari
ini entah kenapa, aku ingin sekali membahas tentang fenomena dunia maya yang
diselami oleh banyak anak sebayaku. Bahkan mungkin hampir semua.
Seperti
yang kita tahu, saat ini dengan mudah kita dapat berkenalan, kemudian berbicara
banyak hal seolah-olah telah lama saling kenal melalui dunia maya. Juga melalui
aplikasi dalam ponsel yang memungkinkan kita untuk mengenal mereka jauh sebelum
kita bertemu secara langsung. Hal ini memang menguntungkan. Apalagi bagi mereka
yang baru akan memasuki sebuah universitas, atau komunitas baru lainnya. Tidak
perlu takut tidak punya teman atau tidak mengenal siapapun saat ospek atau
kuliah perdana, karena toh sudah
berkenalan dengan banyak orang sebelum hari-H.
Namun,
setelah menjalani fenomena berkenalan
tanpa tatap muka ini, tidak jarang beberapa di antara mereka merasakan
kejanggalan. Kenapa?
Ini
dikarenakan banyak hal yang tidak sesuai dengan apa yang mereka pikirkan ketika
berhubungan melalui dunia maya. Terkadang apa yang mereka katakan baik-baik saja melalui tulisan tak sama
dengan apa yang sesungguhnya mereka rasakan. Tulisan memang bisa tersenyum,
namun siapa sangka jika saat itu sang penulis tengah bermuram durja? Melalui
dunia maya, seseorang bisa terkenal dengan keramahan yang luar biasa, dan
mengatakan banyak hal dengan bijak. Namun siapa sangka jika ketika bertemu
langsung, dia tak seramah yang kita kira?
Banyak
orang yang tertipu karena hidup di dunia maya. Sesungguhnya tulisan tak cukup
bisa melukiskan seseorang secara detail. Ketika tatap muka saja, seseorang bisa
dengan mudah memalsukan identitas, apalagi jika kita hanya bertemu dengan mereka melalui sosial media atau aplikasi dalam
ponsel? Bisa saja dia mengarang nama, usia, bahkan mungkin gender.
Keadaan
ini jelas berbeda dengan yang terjadi beberapa tahun lalu. Ketika dunia maya
belum semarak seperti sekarang. Ketika aplikasi dalam ponsel hanya berbentuk
telepon dan pesan singkat.
Mereka
yang akan segera tergabung dalam komunitas baru, jelas berkenalan dengan orang
baru melalui tatap muka, langsung bicara dengan si pemilik nama dan suara.
Mengetahui secara jelas gender
masing-masing. Di sini, kesan pertama akan sangat berpengaruh untuk
kelangsungan hubungan pertemanan. Jika kita ramah, maka kita akan mudah membuat
teman baru kita nyaman. Tapi jika awalnya saja sudah pelit untuk sekedar
tersenyum, maka otomatis dalam hitungan detik, mereka tidak akan nyaman berada
di dekat kita.
Hal
yang penting ketika memulai pertemanan dengan seseorang adalah dengan membuat
mereka tertawa. Karena percaya atau tidak, tawa akan menjadi jembatan menuju
pertemanan yang menyenangkan. Tidak jarang mereka yang berbeda gender berusaha untuk melakukan aksi pendekatan
dengan cara menyiapkan stok guyon (;D)
Sepertinya,
mereka yang memilih hidup di dunia nyata dapat menjalani hidup dengan lebih
santai karena mereka tahu medan apa yang mereka hadapi. Alangkah baiknya, kita
pun berusaha untuk hidup di dunia nyata. Bertemu dengan orang banyak secara
tatap muka.
Jika
kita memiliki mata dan mulut yang bisa bicara, kenapa kita harus mengandalkan
jempol tangan
untuk berkenalan dengan mereka melalui sosial media atau aplikasi
dalam ponsel? Mari kita hidup di dunia nyata bersama-sama dan menjali hubungan
pertemanan yang menyenangkan :D
Wassalamualaikum.
Kansahamnida :D