Minggu, 20 April 2014

Tulus - Sepatu

Kita adalah sepasang sepatu 
Selalu bersama tak bisa bersatu 
Kita mati bagai tak berjiwa 
Bergerak karena kaki manusia
 
Aku sang sepatu kanan 
Kamu sang sepatu kiri 
Ku senang bila diajak berlari kencang 
Tapi aku takut kamu kelelahan 
Ku tak masalah bila terkena hujan 
Tapi aku takut kamu kedinginan
 
Kita sadar ingin bersama 
Tapi tak bisa apa-apa 
Terasa lengkap bila kita berdua 
Terasa sedih bila kita di rak berbeda 
Di dekatmu kotak bagai nirwana 
Tapi saling sentuh pun kita tak berdaya
 
Ku senang bila diajak berlari kencang 
Tapi aku takut kamu kelelahan 
Ku tak masalah bila terkena hujan 
Tapi aku takut kamu kedinginan
Kita sadar ingin bersama 
Tapi tak bisa apa-apa 
Kita sadar ingin bersama 
Tapi tak bisa apa-apa 
Terasa lengkap bila kita berdua 
Terasa sedih bila kita di rak berbeda 
Di dekatmu kotak bagai nirwana 
Tapi saling sentuh pun kita tak berdaya
 
Cinta memang banyak bentuknya 
Mungkin tak semua bisa bersatu

  
sumber: http://lirik.kapanlagi.com/artis/tulus/sepatu 

Sabtu, 19 April 2014

Kepada Kamu dengan Sejuta Tanya


Aku benci ketika memasuki duniamu yang penuh dengan tanda tanya. Seperti labirin, aku akan berputar-putar, entah sampai kapan. Bahkan ketika sudah memiliki peta pun aku masih berputar-putar. Mungkin karena setiap menit, kamu mengubah jalan labirinmu, sehingga aku tidak bisa menyelesaikannya dengan mudah.

Aku benci merasakan getaran tak wajar setiap kamu tersenyum padaku, mengisyaratkan seolah-olah aku boleh membalasnya dan yakin kamu tahu perasaanku yang konyol ini. Seolah-olah kamu bisa membaca sinar di mataku dan kamu berkata, “Aku pun merasakan getaran itu,”

Aku benci merasa begitu bodoh ketika membaca pesan darimu, mulai mengetik kemudian menghapus beberapa kali, berusaha berpikir keras bagaimana balasan yang tepat untuk pesanmu. Entah kenapa, kata-kata terdengar begitu penting ketika itu akan kukirimkan untukmu. Kemudian menunggu lagi sambil berharap kamu akan tersenyum ketika membaca pesanku. Ya, persis sama seperti ketika aku menemukan pesanmu di ponselku.  

Aku benci merasa begitu lemah setiap malam, sebelum tidur karena wajahmu memenuhi langit-langit kamarku. Kemudian terbayang hari-hari yang kulewati denganmu, tanda-tanda kecil itu, membuatku bahagia sekaligus putus asa karena takut semuanya hanya fatamorgana. Khayalan tingkat tinggi yang membuat otak kiriku menolaknya mentah-mentah, “Kau terlalu kekanak-kanakan,”

Aku benci terbangun dengan jantung yang berdebar kencang dan pelahan senyum mengembang dengan konyolnya karena memimpikanmu. Kemudian aku teringat satu fakta -entah benar atau tidak- ketika kita memimpikan seseorang, maka sebenarnya orang itulah yang memikirkan kita. Lalu, apakah benar kamu memikirkanku hingga kamu datang dalam mimpi?

Ahh.
Aku benci ketika aku menemukanmu duduk di sana, lantas saja menoleh padaku, kemudian tersenyum. Sementara aku tidak tahu harus bagaimana karena sibuk menata hati, sibuk salah tingkah dengan senyum yang kamu berikan. Dengan bodohnya aku tersenyum canggung dan mengalihkan perhatian, padahal seribu kali aku ingin menyapamu. Sekedar untuk menanyakan kabar. Namun aku tak sanggup menahan debaran jantung. Aku tak sanggup membiarkanmu tahu, bagaimana dahsyatnya getaran yang kurasakan, melahirkan butiran keringat di tanganku.

Aku benci mengakui besarnya pengaruh dirimu dalam hidupku. Bahkan aku tak bisa mencari celah sedikitpun untuk mencela kamu. Begitu sederhananya kamu, sehingga aku tak bisa dengan bebas mengkritikmu. Kamu bisa jadi seorang sosok dewasa yang begitu sempurna dan penuh pseona.

Aku benci mengatakan aku takut. Begitu pasrah, tanpa jeda. Begitu takut ini hanya rasa sesaat yang mudah berlalu begitu saja. Begitu takut semua yang kurasakan tak pernah boleh jadi kenyataan. Begitu takut ternyata gayung cintaku tak bersambut. Namun bukankah seorang upik abu sekalipun bisa hidup bahagia bersama pangeran berkuda putihnya? Lantas bukan tak mungkin aku boleh mengharapkan ini menjadi nyata, kan?

Aku benci menyadari bagaimana jauh dan berbedanya kita. Mungkin aku dianggap gila karena merasakan getaran untukmu. Mungkin aku akan ditertawakan tanpa ampun ketika aku berkata, “Aku serius,”

Namun, coba beritahu aku, bagaimana caranya aku bisa menghindari pertemuan pertama itu? Yang entah bagaimana, kamu membuatku terdiam pada pandangan kita detik itu. Bagaimana caranya aku meredam perasaan yang terlanjur merasukiku begitu saja tanpa membiarkanku berpikir dan berkompromi dengan otak kiriku yang begitu mengedepankan logika? Lantas saja pendapat otak kiriku dikalahkan oleh hati dan otak kananku.

Coba katakan padaku, bagaimana caranya menghindari seseorang yang bisa jadi akan selalu kutemui setiap hari? Bagaimana caranya menguasai diri ketika berhadapan langsung, wajahku tertarik untuk selalu tersenyum? Hatiku bahagia, tak terkendali? Bahkan diammu saja melahirkan euforia berlebihan dalam hatiku dan memacu aliran darahku berlari kencang?

Aku benci menyadari ini. Sejujurnya, aku tak ingin berhenti merasakan ini. Aku tak ingin berhenti berharap suatu saat nanti semuanya akan jadi nyata meskipun aku tahu, rasanya seperti mimpi. Aku tak ingin berhenti merasakan getaran di tubuhku setiap kamu tersenyum padaku. Aku tak ingin berhenti merasakan degupan jantung meningkat setiap kubaca percakapan kita di ponselku. Aku ingin terus berada dalam bayang-bayangmu, meskipun hanya khayalan tingkat tinggi.

Aku benci ketika aku harus mengatakan, aku benar-benar jatuh cinta padamu. Hingga dalam diam pun, aku berdebar membayangkanmu.
Sejujurnya, dalam ribuan tanda tanya ini, aku terlalu takut...kehilangan. 

Kepada Kamu dengan Sejuta Rasa


Aku boleh jadi hanya seorang gadis remaja tanggung yang pemalu dan ceroboh. Kamu boleh jadi seorang laki-laki dewasa dengan pesona luar biasa, yang pendiam namun memiliki tatapan seribu makna.

Aku boleh jadi hanya seorang gadis remaja tanggung yang lugu, tak pandai bergaul dan lebih suka menyendiri walaupun suasana begitu semarak, ramai dan menyenangkan. Kamu boleh jadi seorang laki-laki dewasa dengan pesona luar biasa, yang begitu mudah menarik perhatian mereka meskipun kamu tidak berkata sepatah katapun. Mungkin ini karena senyummu yang begitu hangat.

Aku hanyalah seorang gadis remaja tanggung biasa yang entah bagaimana gilanya, konyolnya, jatuh cinta pada kamu, laki-laki dewasa dengan pesona luar biasa.

Mungkin bagi kebanyakan orang sebuah pertemuan bukan satu hal besar dan istimewa, hanya   kebetulan biasa yang tidak bisa dijadikan sebagai tolak ukur dimulainya sebuah cerita. Namun bagi sebagian kecil orang, satu pertemuan tak terduga memiliki jutaan makna yang tak bisa diuraikan dengan kata-kata, karena percaya pertemuan tak terduga itu adalah takdir Tuhan. Terutama bagiku, aku yakin pertemuan dengan kamu bukanlah sebuah kebetulan. Tapi memang sudah dituliskan, dan menjadi awal dari cerita ini. Kisah yang sungguh aneh tapi nyata, tidak perlu menjadi tangis jika memang menyedihkan, hanya perlu tersenyum karena tak ada kisah yang salah ketika semua karena Tuhan.

Tidak bisa dikatakan cerita cinta karena pada awalnya aku tidak tahu apakah aku memang jatuh cinta padamu, atau ini hanyalah euforia berlebihan yang melahirkan hormon-hormon tak wajar sehingga memacu jantungku berdebar begitu kencang, memaksa keringatku mengalir dingin di kening ketika kita berdekatan. Sungguh getaran ini membuatku gila, begitu lemah ketika mengingatmu namun berusaha tegar menghadapi hari-hari karena kamu juga.

Karena itulah aku kemudian sadar, perasaan ini memang nyata, anugerah Tuhan yang Maha Esa, yang tak ingin aku lepaskan begitu saja. Barulah aku bisa mengatakan ini cerita cinta. Namun bukanlah kisah yang mungkin ingin mereka jalani. Bukan juga kisah cinta yang penuh dengan adegan serba dramatis, dilematis dan melankolis. Ini kisah lucu, membuat siapa saja tertawa dan berkata, “Kisah yang konyol,” Ya, ini bukan pula kisah yang sering terlihat di televisi apalagi terbaca di teenlit-teenlit.

Begitu sederhananya setiap pertemuanku dan kamu. Mengalir saja seperti air yang tenang, walaupun terkadang ombak besar menghancur leburkan perasaanku karena mencari tahu tentang kamu membuatku takut, jangan-jangan aku tak boleh meneruskan perasaan ini.

Begitu sederhananya hubungan pertemanan kita, ah, aku sendiri bingung bagaimana melabelkan hubungan ini. Apakah kita teman, rekan dalam satuan pendidikan, atau hanya sebatas kenal karena situasi dan kondisi? Entahlah. Lebih baik tak perlu kupikirkan status kita. Toh dengan begini saja, aku bahagia. Sudah cukup, tak perlu ditambah garam atau merica lagi. Begitu menyenangkannya obrolan yang terjadi antara kita, sehingga terkadang kamu terasa begitu dekat. Namun suatu kali kamu akan menghilang dan terasa begitu jauh, membuat dinding pembeda antara kita tumbuh tinggi tiba-tiba, menghalangiku untuk sekedar melihatmu.

Ketika kita bertemu, aku tak bisa mempertahankan raut wajahku untuk tidak tersenyum. Entahlah semuanya seolah-olah sudah diatur otomatis. Bahkan aku sendiri tidak bisa mengubahnya menjadi manual lagi dengan bantuan logika otak kiriku. Mungkin dia sudah terlanjur malas denganku karena lebih memilih kata hati yang didukung oleh daya khayal otak kananku. Tapi, kita memang sulit memercayai logika ketika jatuh cinta karena hati jauh lebih kuat.

Kamu begitu mudahnya membuat siapapun tertawa. Mungkin lelucon yang konyol dan sebenarnya tidak lucu. Namun menghibur, menyenangkan. Walaupun terkadang tiba-tiba kamu berubah menjadi sosok misterius, serius, serta canggung. Aku sendiri tidak tahu kenapa. Apakah kamu memang pandai merubah sikap secepat itu? Apa saat kamu tertawa dan melontarkan lelucon konyol kamu hanya berakting? Atau ketika kamu diam dan terlihat begitu misterius sebenarnya kamu hanya berpura-pura?
Sayangnya, aku hanya menemukan kejujuran dan ketulusan di matamu. Aku menemukan keikhlasan dalam derai tawamu, dan keseriusan dalam diammu . Lantas, bagaimana bisa aku menghentikan rasa ini jika semua hal padamu membuatku semakin tertarik?

Maka, kepada kamu, aku bisikkan satu dua patah kata. Aku tak ingin banyak. Hanya saja, aku berharap satu atau dua saat nanti kamu membaca tulisan ini dan mengerti, bagaimana rasanya menjadi aku yang setiap harinya tak pernah tidak tergetar oleh kehadiranmu. Karena kamu, aku melihat cinta dari sisi positif. Aku tak takut lagi menjadi pemimpi. Aku tak lagi ragu pada doa-doaku karena aku tahu, ketika semuanya karena Tuhan, takkan ada kisah yang salah