Kita adalah sepasang sepatu
Selalu bersama tak bisa bersatu
Kita mati bagai tak berjiwa
Bergerak karena kaki manusia
Aku sang sepatu kanan
Kamu sang sepatu kiri
Ku senang bila diajak berlari kencang
Tapi aku takut kamu kelelahan
Ku tak masalah bila terkena hujan
Tapi aku takut kamu kedinginan
Kita sadar ingin bersama
Tapi tak bisa apa-apa
Terasa lengkap bila kita berdua
Terasa sedih bila kita di rak berbeda
Di dekatmu kotak bagai nirwana
Tapi saling sentuh pun kita tak berdaya
Ku senang bila diajak berlari kencang
Tapi aku takut kamu kelelahan
Ku tak masalah bila terkena hujan
Tapi aku takut kamu kedinginan
Kita sadar ingin bersama
Tapi tak bisa apa-apa
Kita sadar ingin bersama
Tapi tak bisa apa-apa
Terasa lengkap bila kita berdua
Terasa sedih bila kita di rak berbeda
Di dekatmu kotak bagai nirwana
Tapi saling sentuh pun kita tak berdaya
Cinta memang banyak bentuknya
Mungkin tak semua bisa bersatu
sumber: http://lirik.kapanlagi.com/artis/tulus/sepatu
Minggu, 20 April 2014
Sabtu, 19 April 2014
Kepada Kamu dengan Sejuta Tanya
Aku
benci ketika memasuki duniamu yang penuh dengan tanda tanya. Seperti labirin,
aku akan berputar-putar, entah sampai kapan. Bahkan ketika sudah memiliki peta
pun aku masih berputar-putar. Mungkin karena setiap menit, kamu mengubah jalan
labirinmu, sehingga aku tidak bisa menyelesaikannya dengan mudah.
Aku
benci merasakan getaran tak wajar setiap kamu tersenyum padaku, mengisyaratkan
seolah-olah aku boleh membalasnya dan yakin kamu tahu perasaanku yang konyol
ini. Seolah-olah kamu bisa membaca sinar di mataku dan kamu berkata, “Aku pun
merasakan getaran itu,”
Aku
benci merasa begitu bodoh ketika membaca pesan darimu, mulai mengetik kemudian
menghapus beberapa kali, berusaha berpikir keras bagaimana balasan yang tepat
untuk pesanmu. Entah kenapa, kata-kata terdengar begitu penting ketika itu akan
kukirimkan untukmu. Kemudian menunggu lagi sambil berharap kamu akan tersenyum
ketika membaca pesanku. Ya, persis sama seperti ketika aku menemukan pesanmu di
ponselku.
Aku
benci merasa begitu lemah setiap malam, sebelum tidur karena wajahmu memenuhi
langit-langit kamarku. Kemudian terbayang hari-hari yang kulewati denganmu,
tanda-tanda kecil itu, membuatku bahagia sekaligus putus asa karena takut
semuanya hanya fatamorgana. Khayalan tingkat tinggi yang membuat otak kiriku
menolaknya mentah-mentah, “Kau terlalu kekanak-kanakan,”
Aku
benci terbangun dengan jantung yang berdebar kencang dan pelahan senyum
mengembang dengan konyolnya karena memimpikanmu. Kemudian aku teringat satu
fakta -entah benar atau tidak- ketika kita memimpikan seseorang, maka
sebenarnya orang itulah yang memikirkan kita. Lalu, apakah benar kamu
memikirkanku hingga kamu datang dalam mimpi?
Ahh.
Aku
benci ketika aku menemukanmu duduk di sana, lantas saja menoleh padaku,
kemudian tersenyum. Sementara aku tidak tahu harus bagaimana karena sibuk
menata hati, sibuk salah tingkah dengan senyum yang kamu berikan. Dengan
bodohnya aku tersenyum canggung dan mengalihkan perhatian, padahal seribu kali
aku ingin menyapamu. Sekedar untuk menanyakan kabar. Namun aku tak sanggup
menahan debaran jantung. Aku tak sanggup membiarkanmu tahu, bagaimana
dahsyatnya getaran yang kurasakan, melahirkan butiran keringat di tanganku.
Aku
benci mengakui besarnya pengaruh dirimu dalam hidupku. Bahkan aku tak bisa
mencari celah sedikitpun untuk mencela kamu. Begitu sederhananya kamu, sehingga
aku tak bisa dengan bebas mengkritikmu. Kamu bisa jadi seorang sosok dewasa
yang begitu sempurna dan penuh pseona.
Aku
benci mengatakan aku takut. Begitu pasrah, tanpa jeda. Begitu takut ini hanya
rasa sesaat yang mudah berlalu begitu saja. Begitu takut semua yang kurasakan
tak pernah boleh jadi kenyataan. Begitu takut ternyata gayung cintaku tak
bersambut. Namun bukankah seorang upik abu sekalipun bisa hidup bahagia bersama
pangeran berkuda putihnya? Lantas bukan tak mungkin aku boleh mengharapkan ini
menjadi nyata, kan?
Aku
benci menyadari bagaimana jauh dan berbedanya kita. Mungkin aku dianggap gila
karena merasakan getaran untukmu. Mungkin aku akan ditertawakan tanpa ampun
ketika aku berkata, “Aku serius,”
Namun,
coba beritahu aku, bagaimana caranya aku bisa menghindari pertemuan pertama
itu? Yang entah bagaimana, kamu membuatku terdiam pada pandangan kita detik
itu. Bagaimana caranya aku meredam perasaan yang terlanjur merasukiku begitu
saja tanpa membiarkanku berpikir dan berkompromi dengan otak kiriku yang begitu
mengedepankan logika? Lantas saja pendapat otak kiriku dikalahkan oleh hati dan
otak kananku.
Coba
katakan padaku, bagaimana caranya menghindari seseorang yang bisa jadi akan
selalu kutemui setiap hari? Bagaimana caranya menguasai diri ketika berhadapan
langsung, wajahku tertarik untuk selalu tersenyum? Hatiku bahagia, tak
terkendali? Bahkan diammu saja melahirkan euforia berlebihan dalam hatiku dan
memacu aliran darahku berlari kencang?
Aku
benci menyadari ini. Sejujurnya, aku tak ingin berhenti merasakan ini. Aku tak
ingin berhenti berharap suatu saat nanti semuanya akan jadi nyata meskipun aku
tahu, rasanya seperti mimpi. Aku tak ingin berhenti merasakan getaran di
tubuhku setiap kamu tersenyum padaku. Aku tak ingin berhenti merasakan degupan
jantung meningkat setiap kubaca percakapan kita di ponselku. Aku ingin terus
berada dalam bayang-bayangmu, meskipun hanya khayalan tingkat tinggi.
Aku
benci ketika aku harus mengatakan, aku benar-benar jatuh cinta padamu. Hingga
dalam diam pun, aku berdebar membayangkanmu.
Sejujurnya,
dalam ribuan tanda tanya ini, aku terlalu takut...kehilangan.
Kepada Kamu dengan Sejuta Rasa
Aku
boleh jadi hanya seorang gadis remaja tanggung yang pemalu dan ceroboh. Kamu
boleh jadi seorang laki-laki dewasa dengan pesona luar biasa, yang pendiam
namun memiliki tatapan seribu makna.
Aku
boleh jadi hanya seorang gadis remaja tanggung yang lugu, tak pandai bergaul
dan lebih suka menyendiri walaupun suasana begitu semarak, ramai dan
menyenangkan. Kamu boleh jadi seorang laki-laki dewasa dengan pesona luar
biasa, yang begitu mudah menarik perhatian mereka meskipun kamu tidak berkata
sepatah katapun. Mungkin ini karena senyummu yang begitu hangat.
Aku
hanyalah seorang gadis remaja tanggung biasa yang entah bagaimana gilanya,
konyolnya, jatuh cinta pada kamu, laki-laki dewasa dengan pesona luar biasa.
Mungkin
bagi kebanyakan orang sebuah pertemuan bukan satu hal besar dan istimewa, hanya kebetulan biasa yang tidak bisa dijadikan sebagai tolak ukur
dimulainya sebuah cerita. Namun bagi sebagian kecil orang, satu pertemuan tak
terduga memiliki jutaan makna yang tak bisa diuraikan dengan kata-kata, karena
percaya pertemuan tak terduga itu adalah takdir Tuhan. Terutama bagiku, aku
yakin pertemuan dengan kamu bukanlah sebuah kebetulan. Tapi memang sudah dituliskan,
dan menjadi awal dari cerita ini. Kisah yang sungguh aneh tapi nyata, tidak perlu
menjadi tangis jika memang menyedihkan, hanya perlu tersenyum karena tak ada
kisah yang salah ketika semua karena Tuhan.
Tidak
bisa dikatakan cerita cinta karena pada awalnya aku tidak tahu apakah aku
memang jatuh cinta padamu, atau ini hanyalah euforia berlebihan yang melahirkan
hormon-hormon tak wajar sehingga memacu jantungku berdebar begitu kencang,
memaksa keringatku mengalir dingin di kening ketika kita berdekatan. Sungguh
getaran ini membuatku gila,
begitu lemah ketika mengingatmu namun berusaha tegar menghadapi hari-hari
karena kamu juga.
Karena
itulah aku kemudian sadar, perasaan ini memang nyata, anugerah Tuhan yang Maha
Esa, yang tak ingin aku lepaskan begitu saja. Barulah aku bisa mengatakan ini
cerita cinta. Namun bukanlah kisah yang mungkin ingin mereka jalani. Bukan juga
kisah cinta yang penuh dengan adegan serba dramatis, dilematis dan melankolis.
Ini kisah lucu, membuat siapa saja tertawa dan berkata, “Kisah yang
konyol,” Ya, ini bukan pula kisah yang sering terlihat di televisi apalagi
terbaca di teenlit-teenlit.
Begitu
sederhananya setiap pertemuanku dan kamu. Mengalir saja seperti air yang
tenang, walaupun terkadang ombak besar menghancur leburkan perasaanku karena
mencari tahu tentang kamu membuatku takut, jangan-jangan aku tak
boleh meneruskan perasaan ini.
Begitu
sederhananya hubungan pertemanan kita, ah, aku sendiri bingung bagaimana
melabelkan hubungan ini. Apakah kita teman, rekan dalam satuan pendidikan, atau
hanya sebatas kenal karena situasi dan kondisi? Entahlah. Lebih baik tak perlu
kupikirkan status kita. Toh dengan begini saja, aku bahagia. Sudah cukup, tak
perlu ditambah garam atau merica lagi. Begitu menyenangkannya obrolan yang
terjadi antara kita, sehingga terkadang kamu terasa begitu dekat. Namun suatu
kali kamu akan menghilang dan terasa begitu jauh, membuat dinding pembeda
antara kita tumbuh tinggi tiba-tiba, menghalangiku untuk sekedar melihatmu.
Ketika
kita bertemu, aku tak bisa mempertahankan raut wajahku untuk tidak tersenyum.
Entahlah semuanya seolah-olah sudah diatur otomatis. Bahkan aku sendiri tidak
bisa mengubahnya menjadi manual lagi dengan bantuan logika otak kiriku. Mungkin
dia sudah terlanjur malas denganku karena lebih memilih kata hati yang didukung
oleh daya khayal otak kananku. Tapi, kita memang sulit memercayai logika ketika
jatuh cinta karena hati jauh lebih kuat.
Kamu
begitu mudahnya membuat siapapun tertawa. Mungkin lelucon yang konyol dan
sebenarnya tidak lucu. Namun menghibur, menyenangkan. Walaupun terkadang
tiba-tiba kamu berubah menjadi sosok misterius, serius, serta canggung. Aku
sendiri tidak tahu kenapa. Apakah kamu memang pandai merubah sikap secepat itu?
Apa saat kamu tertawa dan melontarkan lelucon konyol kamu hanya berakting? Atau
ketika kamu diam dan terlihat begitu misterius sebenarnya kamu hanya
berpura-pura?
Sayangnya,
aku hanya menemukan kejujuran dan ketulusan di matamu. Aku menemukan keikhlasan
dalam derai tawamu, dan keseriusan dalam diammu . Lantas,
bagaimana bisa aku menghentikan rasa ini jika semua hal padamu membuatku semakin tertarik?
Maka, kepada kamu, aku bisikkan satu dua patah kata. Aku tak ingin banyak. Hanya saja, aku berharap satu atau dua saat nanti kamu membaca tulisan ini dan mengerti, bagaimana rasanya menjadi aku yang setiap harinya tak pernah tidak tergetar oleh kehadiranmu. Karena kamu, aku melihat cinta dari sisi positif. Aku tak takut lagi menjadi pemimpi. Aku tak lagi ragu pada doa-doaku karena aku tahu, ketika semuanya karena Tuhan, takkan ada kisah yang salah
Langganan:
Postingan (Atom)