Senin, 26 Mei 2014

Perpisahan atau Perpisahan?


Beberapa malam terakhir
Aku sibuk berpikir
Mondar mandir gelisah
Sekelebat kata perpisahan menyerangku bertubi-tubi
Semakin gencar setiap kita bertemu di siang hari
Selama ini, aku belum pernah memikirkan
Bagaimana nantinya ketika aku harus pergi
Melanjutkan mimpi
Ke kota seribu pelajar
Bisakah aku mengucapkan selamat tinggal padamu?
Entahlah
Ini bukan masalah perpisahan
Aku hanya takut
Ketika nanti aku kembali
Kamu tak lagi menungguku di sana
Ketika nanti aku mendorong pintu itu
Kamu tak lagi menyapaku dan tersenyum
Kamu tak punya lagi lelucon
Aku takut
Bukan aku lagi satu-satunya yang tertawa untuk setiap candamu
Bukan aku lagi satu-satunya yang membuatmu gugup
Bukankah ketika waktu berubah
Orang-orang disekitarnya ikut berubah?
Lantas bagaimana aku bisa meninggalkan semuanya?
Semakin sulit karena kamu seenaknya saja menambahkan namamu
Kamu seenaknya saja mengisi semua hari bahagiaku
Ah

Minggu, 25 Mei 2014

Perpisahan


Perpisahan mendadak menjadi satu kata yang membuat mimpiku berubah buruk. Membuat hariku penuh dengan kelabu. Aku tidak ingin melalui hari itu, disaat aku harus, tidak boleh tidak, mengucapkan selamat tinggal padamu.

Aku sudah lama memimpikan untuk bisa tinggal di kota ini, yang dijuluki kota pelajar. Aku sangat ingin melanjutkan mimpiku, studiku di sini. Ingin rasanya mempercepat waktu supaya bisa segera kuliah karena jujur saja, aku sudah jenuh mengenakan seragam putih abu-abuku. Rasanya menyenangkan bisa menjadi mahasiswa, terdengar keren dan dewasa kan? Ya, itu kata-kataku dulu bersama teman-teman beberapa bulan menjelang ujian. Semua mimpi terdengar menyenangkan.

Tapi, kemudian hari-hari membosankanku menjelang ujian memudar ketika kamu masuk begitu saja. Membuat semuanya berwarna. Tanpa aba-aba, tanpa sinyal apa-apa, membuatku terkejut karena kamu langsung saja mengubah rencanaku, mengubah semua rasa dalam hati.
Aku sadar, ini buka rasa sesaat. Tuhan anugerahkan perasaan ini dalam hatiku. Tuhan ijinkan kita bertemu pada satu hari untuk ubah semuanya. Namun mungkinkah kamu juga rasakan getaran ini setiap pertemuan kita?

Sekarang, aku di sini. Di kota yang ingin kujadikan sebagai tujuan pendidikanku selanjutnya. Aku melepaskan pandanganku ketika melalui jalan kota. Entah kenapa, semua yang kulihat di sini seolah-olah mengingatkan aku padamu. Semua yang kulihat di sini semua menuju kamu. Entah sengaja atau aku yang mengada-ada. Tapi bagaimana bisa? Aku seolah melihatmu di ujung jalan, di perempatan, bahkan di lampu merah, menghadang taksi yang kunaiki!

Aku berdiri sendirian, menatap orang-orang yang balas menatapku dengan tatapan dingin. Bagaimana bisa aku merasa begitu  asing di kota yang ingin segera aku tinggali? Bagaimana mungkin aku bisa bertahan tinggal di sini jika setiap orang yang kutatap balas menatapku dengan tatapan sinis? Aku rindu kota kelahiranku. Aku rindu orang-orang di sana. Bahkan aku merindukanmu, ya, kamu yang sejak awal seenaknya saja secara diam-diam menambahkan namamu di daftar nama orang yang paling penting dalam hidupku.

Semua yang kulakukan serba salah dan aku merindukan masa-masa sekolahku, ketika aku bisa bertemu denganmu masih berseragam pramuka atau putih abu-abu. Melihatmu tersenyum menyapaku di sana. Jawablah, aku akan segeta meninggalkan semuanya kan? Termasuk kamu? Tidakkah kamu berpikir akan sangat sulit meninggalkan orang-orang yang kamu sayang? Akan sangat menyesakkan menahan tangis di pintu keberangkatan nanti?

Mungkin ini karma. Aku pernah sangat bosan dengan kota kelahiranku, tempatku hidup selama 17 tahun dan rasanya aku ingin segera pergi dari sana menuju kota pelajar ini. Aku pernah juga sangat mencintai seseorang yang telah lebih dulu berada di kota ini dan berusaha untuk menemuinya kemudian. Namun sekarang orang itu meninggalkanku, tak menghiraukanku. Sekarang kota impianku ini sungguh menyesakkan. Sekarang, aku jatuh cinta pada laki-laki yang menetap di kota kelahiranku. Yang tak akan mungkin pergi kemana-mana. Yang takkan mungkin kutemui setiap hari setelah aku resmi menjadi mahasiswa nanti.

Laki-laki yang membuatku begitu sulit mengucapkan selamat tinggal pada masa SMA-ku. Membuatku menangis sebelum kata perpisahan itu terucap.
Namun... laki-laki itu jugalah yang menguatkanku. Mengatakan padaku tidak ada yang salah dengan perjumpaan dan perpisahan. Keduanya sama-sama indah, yang bisa menjadi penawar pahitnya perjuanganku nanti. Yang meyakinkan aku, semuanya akan baik-baik saja. Laki-laki itu adalah kamu, yang aku cintai.

Aku mengerti, aku tahu kamu benar. Hanya saja bagaimana jika semuanya berubah ketika aku pergi? Bagaimana jika nanti ketika aku kembali untuk melepas rindu, kotaku tak lagi sama, dan kenangan itu memudar? Bagaimana jika nanti ketika aku kembali untuk bertemu denganmu, senyummu tak lagi sama? Kamu tak lagi menatapku dengan sinar yang berpendaran itu lagi?

Di sini, aku berdiri sendiri. menahan tangis karena tidak mengenal siapapun, karena tersesat diantara mereka yang tidak bersahabat. Aku membisikkan namamu berkali-kali, aku merindukanmu. Sangat.
Ketika kamu membaca ini, aku harap kamu mengerti betapa takutnya aku dengan kata perpisahan. Begitu takutnya aku dengan kehidupan yang baru. Tapi, aku tahu aku harus bertahan.  Hanya saja, aku harap kamu tidak akan berubah. Kamu akan tetap menjadi kamu. kenangan yang paling manis yang kupunya di hari-hari terakhirku menjelang ujian. Terimakasih karena menjadi bagian terpenting dalam hidupku. Kamu benar, seharusnya aku tidak perlu menangisi perpisahan. Aku percaya selama kamu ada di sisiku, paling tidak untuk menguatkan aku dan buatku tersenyum.






Late posting. Harusnya ini di post pas aku ke Jogja setelah UN kemaren. hehe. maaf ya readers... :D 
Alhamdulillah bisa ke-publish juga... 

My Days, Our Days


“Jangan bertanya padaku karena apa yang aku rasakan tertulis begitu saja”


Aku bermimpi ingin menuliskan cerita masa remajaku, masa SMA yang penuh dengan canda tawa berpadu tangis bersama teman-teman, dan kamu. Aku ingin menuliskan dan nantinya aku berharap kamu adalah orang pertama yang membaca bukuku. Aku ingin kamu tahu, aku merasakan getaran dahsyat yang tidak terjabarkan dengan kata-kata. Aku ingin kamu tersenyum ketika mengingat kejadian-kejadian itu dan kuharap, bentuk tulisan itu bukanlah hal yang akan mengganggumu atau bahkan merusak harimu.

Bukankah akan sangat menyenangkan jika aku melukiskan kamu seperti malaikat tak bersayap yang bukan hanya mampir dalam teras hidupku, tetapi bahkan masuk dan menguasai rumah itu. Kamu mewarnainya dengan...entahlah, aku sendiri tidak tahu warna apa yang kamu gunakan sampai aku merasa begitu nyaman tinggal di sana.

Aku ingin menuliskan perjuanganku di hari-hari terakhir di masa SMA untuk lulus ujian bersama teman-teman. Bagaimana kami ketika pulang sekolah dan langsung pergi ke tempat bimbingan belajar, masih dengan seragam sekolah lalu mengobrol tanpa henti dan meramaikan suasana tempat les. Bagaimana melelahkannya ketika kami pulang sore hari, dengan menyimpan ribuan mimpi di kepala setelah selesai mendapatkan pengajaran di les. Lantas ketika malam, kami akan kembali mengulang pelajaran sambil mengulur mimpi satu-satu. Diakhiri dengan menutup mata untuk tidur, akan sangat menyenangkan jika masa depan yang kami inginkan terbawa mimpi. Tapi, bahagiaku lengkap ketika kamu juga mengangguku dalam mimpi.

Aku ingin menggambarkan bagaimana persisnya teman-temanku yang membuat hariku cerah, dan ujian akhir yang sulit untuk dilupakan bersama mereka. Bagaimana mereka juga sangat membantuku untuk beradaptasi dengan “kesendirian”. Mereka seperti alarm merek-ku sendiri karena khusus mengingatkan aku bahwa masih banyak orang yang sayang dan peduli padaku. Lantas kenapa aku harus merasa kesepian? Sahabat terbaik tidak akan meninggalkan aku. 

Aku ingin dunia tahu, hari-hariku indah semenjak kamu ada. Karena kamu adalah sosok tidak terduga yang membantuku berdiri dan kembali percaya pada cinta. Membantuku melihat cinta dari sisi positif, edukatif. Tentu saja setelah aku habis-habisan ditipu, dikhianati dan ditinggalkan sendirian ketika aku membutuhkan cinta itu. Di saat-saat kronis dalam hidupku. Kamu dengan gaya yang sederhana, senyum yang begitu menenangkan, menyapaku. Kamu membawaku masuk ke dalam hidupmu di setiap pertemuan kita.

Aku ingin berbagi rasa pada dunia. Bagaimana konyolnya aku karena mencintaimu. Aku rela belajar mati-matian, merelakan hari Minggu atau hari libur untuk les, hanya untuk bertemu denganmu, mengobrol denganmu, menatap mata beningmu. Aku rela pulang lebih sore dari lainnya untuk menunggu kelasmu selesai dan melihatmu turun dari kelas. Walaupun hanya 1 atau 2 menit, untuk mendengar kamu pamit pulang kemudian aku juga berbalik untuk pulang. Aku rela menunggu lama di tempat les untuk konsultasi dengan guru lain hanya untuk menunggumu nanti masuk ke kelas. Aku rela mengembalikan buku pinjaman bukan di hari les, karena aku tahu kamu ada pada hari itu, hanya untuk melihatmu duduk di sana, tersenyum padaku ketika aku masuk tempat les. Satu tatapan dan senyummu cukup mengaliri hatiku dengan bergalon-galon air pegunungan segar. Aku juga rela belajar sampai malam dan nantinya aku akan bertanya padamu beberapa soal yang aku tidak mengerti, tentu saja pelajaran yang menjadi keahlianmu. Lantas tertidur dengan senyum terkembang karena pertanyaan itu berujung obrolan menyenangkan.

Bagaimana besarnya perjuanganku karena mencintaimu. Aku rela belajar keras dan belajar mencintai satu mata pelajaran karena kamu adalah bagian dari mata pelajaran itu. Aku ingin mendapatkan nilai bagus pada mata pelajaran itu, yang sejak SMP sudah kujauhi, bahkan kumusuhi karena aku tidak mau mengambil kedokteran saat kuliah nanti. Aku belajar mencintai mata pelajaran itu. Aku ingin membuatmu bangga padaku.

Namun, aku bahagia karena obrolan kita semakin hari, pada setiap pertemuan lebih akrab. Aku senang karena kamu menanyakan keluarga, hobi, dan hal kecil tentangku. Bahkan lebih menyenangkan lagi karena kamu ingat setiap detail yang aku ceritakan padamu, setiap rinci hal tentangku. Aku senang karena kamu juga bercerita banyak padaku. Menanyakan saranku, pendapatku. Aku senang karena kamu secara tidak langsung percaya dan men”spesial”kan aku diantara lainnya. Bukankah kamu tidak mudah menceritakan itu pada teman-temanku atau anak dari sekolah lain?

Aku ingin kamu tahu bagaimana gelinya aku ketika dekat denganmu, mendengarmu bicara, mendengar guyonmu yang terkadang tidak lucu, tapi aku... ya, hanya akulah yang kamu bilang selalu tertawa dan tersenyum menanggapimu, untuk hal-hal yang tidak lucu sekalipun. Bagaimana senangnya aku ketika kamu bilang kamu salah tingkah karena itu. Bagaimana senangnya aku ketika kamu bilang hanya aku...ya, hanya aku...yang tertawa dan tersenyum. Bukan mereka. Mungkin aku akan dianggap aneh atau...entahlah. Aku tidak peduli. (Ah, lihatlah, aku tampak begitu cuek dan konyol ketika mencintaimu).

Terkadang semua terasa dekat, semua terasa ringan dan sederhana. Pertemuan kita... begitu sederhana namun selalu mampu meninggalkan bekas di dinding hatiku. Wajahmu menempel di langit-langit kamarku, tersenyum ketika aku menutup mata dan akhirnya kamu menggangguku dalam mimpi. Betapa lucunya.

Terkadang, aku berpikir sendiri, bolehkah rasa ini aku tanam dan kurawat hati-hati? Bolehkah aku menyimpan rasa ini? Benarkah kamu pun masih sendiri? Benarkah kamu pun masih mencari “teman”? Apakah kamu juga merasakan getaran setiap kita berdekatan? Apakah kamu juga mengerti sinar di mataku setiap kita bertatap? Apakah kamu mengerti arti semu merah di pipiku ketika orang-orang menggoda kita? Apakah saat aku pergi, kamu merindukan kehadiranku di tempat les? Apakah kamu juga berharap aku cepat pulang dan cepat les lagi, supaya kamu bisa melihatku tertawa bersama teman-temanku?

Apakah nantinya...kamu pun mencintaiku?
Semua pertanyaan itu... berputar-putar di kepalaku, membuatku ingin menangis karena takut mendengar jawabanmu. Membuatku ingin berlari dari jawaban yang sebenarnya... Aku terlalu takut menghadapi kenyataan. Aku hanya ingin begini saja. Terus begini, mencintaimu, berada di sampingmu, tanpa harus memikirkan hal lain karena aku tidak peduli. Hanya rasa ini dan kamu. Aku ingin kamu terus membiarkan aku mencintaimu. Toh aku bahagia. Aku yakin Tuhan menakdirkan semuanya.
Dari penjabaran ini, aku ingin dunia tahu. Aku memiliki banyak kenangan manis di SMA. Semuanya memberikanku banyak pelajaran. Dari tahun pertama, kedua dan ketiga, semuanya membuatku belajar untuk lebih dewasa.

Aku ingin dunia tahu. Semuanya terjadi karena takdir.

Aku ingin dunia tahu karena kamu adalah duniaku. 

Selasa, 20 Mei 2014

Melihatmu dalam Gelisah


Aku tidak tahu
Beberapa malam ini kau begitu sibuk
Memikirkan perpisahan dan kelulusanmu
Bukankah kau seharusnya tersenyum bahagia?
Kau sebentar lagi akan menjadi gadis dewasa
Mengenakan kemeja dan rok
Membawa binder
Tanpa seragam sekolah lagi
Bukankah kau begitu menginginkannya?
Lantas kenapa harus bersedih?
Jika alasanmu adalah aku
Biarkan aku menjawab semuanya
Jangan pernah ragu meninggalkanku
Jangan berpikir waktu berubah, aku akan ikut berubah
Yakinlah,
Ketika kamu kembali
Aku akan tetap sama
Seperti ini
Leluconku akan tetap sama
Hanya kau yang akan tertawa
Entah lucu atau tidak
Karena hanya kau pendengar canda setiaku
Ketika kamu kembali
Aku akan tetap menunggumu,
Menyapamu ketika kau mendorong pintu itu
Lantas akan kukatakan
Gadis lugu ini sudah dewasa
Gadis polos ini membuatku bangga
Tenanglah
Semuanya baik-baik saja
Aku akan tetap menjadi aku
Yang menunggumu
Yang merindukanmu
Perpisahan bukan akhir dari semuanya
Tersenyumlah seperti ini
Dan buatku bangga padamu