“Jangan
bertanya padaku karena apa yang aku rasakan tertulis begitu saja”
Aku
bermimpi ingin menuliskan cerita masa remajaku, masa SMA yang penuh dengan
canda tawa berpadu tangis bersama teman-teman, dan kamu. Aku ingin menuliskan
dan nantinya aku berharap kamu adalah orang pertama yang membaca bukuku. Aku
ingin kamu tahu, aku merasakan getaran dahsyat yang tidak terjabarkan dengan
kata-kata. Aku ingin kamu tersenyum ketika mengingat kejadian-kejadian itu dan
kuharap, bentuk tulisan itu bukanlah hal yang akan mengganggumu atau bahkan
merusak harimu.
Bukankah
akan sangat menyenangkan jika aku melukiskan kamu seperti malaikat tak bersayap
yang bukan hanya mampir dalam teras hidupku, tetapi bahkan masuk dan menguasai
rumah itu. Kamu mewarnainya dengan...entahlah, aku sendiri tidak tahu warna apa
yang kamu gunakan sampai aku merasa begitu nyaman tinggal di sana.
Aku
ingin menuliskan perjuanganku di hari-hari terakhir di masa SMA untuk lulus
ujian bersama teman-teman. Bagaimana kami ketika pulang sekolah dan langsung
pergi ke tempat bimbingan belajar, masih dengan seragam sekolah lalu mengobrol
tanpa henti dan meramaikan suasana tempat les. Bagaimana melelahkannya ketika
kami pulang sore hari, dengan menyimpan ribuan mimpi di kepala setelah selesai
mendapatkan pengajaran di les. Lantas ketika malam, kami akan kembali mengulang
pelajaran sambil mengulur mimpi satu-satu. Diakhiri dengan menutup mata untuk
tidur, akan sangat menyenangkan jika masa depan yang kami inginkan terbawa
mimpi. Tapi, bahagiaku lengkap ketika kamu juga mengangguku dalam mimpi.
Aku
ingin menggambarkan bagaimana persisnya teman-temanku yang membuat hariku
cerah, dan ujian akhir yang sulit untuk dilupakan bersama mereka. Bagaimana
mereka juga sangat membantuku untuk beradaptasi dengan “kesendirian”. Mereka
seperti alarm merek-ku sendiri karena khusus mengingatkan aku bahwa masih
banyak orang yang sayang dan peduli padaku. Lantas kenapa aku harus merasa
kesepian? Sahabat terbaik tidak akan meninggalkan aku.
Aku
ingin dunia tahu, hari-hariku indah semenjak kamu ada. Karena kamu adalah sosok
tidak terduga yang membantuku berdiri dan kembali percaya pada cinta. Membantuku
melihat cinta dari sisi positif, edukatif. Tentu saja setelah aku habis-habisan
ditipu, dikhianati dan ditinggalkan sendirian ketika aku membutuhkan cinta itu.
Di saat-saat kronis dalam hidupku. Kamu dengan gaya yang sederhana, senyum yang
begitu menenangkan, menyapaku. Kamu membawaku masuk ke dalam hidupmu di setiap
pertemuan kita.
Aku
ingin berbagi rasa pada dunia. Bagaimana konyolnya aku karena mencintaimu. Aku
rela belajar mati-matian, merelakan hari Minggu atau hari libur untuk les,
hanya untuk bertemu denganmu, mengobrol denganmu, menatap mata beningmu. Aku
rela pulang lebih sore dari lainnya untuk menunggu kelasmu selesai dan
melihatmu turun dari kelas. Walaupun hanya 1 atau 2 menit, untuk mendengar kamu
pamit pulang kemudian aku juga berbalik untuk pulang. Aku rela menunggu lama di
tempat les untuk konsultasi dengan guru lain hanya untuk menunggumu nanti masuk
ke kelas. Aku rela mengembalikan buku pinjaman bukan di hari les, karena aku
tahu kamu ada pada hari itu, hanya untuk melihatmu duduk di sana, tersenyum
padaku ketika aku masuk tempat les. Satu tatapan dan senyummu cukup mengaliri
hatiku dengan bergalon-galon air pegunungan segar. Aku juga rela belajar sampai
malam dan nantinya aku akan bertanya padamu beberapa soal yang aku tidak
mengerti, tentu saja pelajaran yang menjadi keahlianmu. Lantas tertidur dengan
senyum terkembang karena pertanyaan itu berujung obrolan menyenangkan.
Bagaimana
besarnya perjuanganku karena mencintaimu. Aku rela belajar keras dan belajar
mencintai satu mata pelajaran karena kamu adalah bagian dari mata pelajaran
itu. Aku ingin mendapatkan nilai bagus pada mata pelajaran itu, yang sejak SMP
sudah kujauhi, bahkan kumusuhi karena aku tidak mau mengambil kedokteran saat
kuliah nanti. Aku belajar mencintai mata pelajaran itu. Aku ingin membuatmu
bangga padaku.
Namun,
aku bahagia karena obrolan kita semakin hari, pada setiap pertemuan lebih
akrab. Aku senang karena kamu menanyakan keluarga, hobi, dan hal kecil
tentangku. Bahkan lebih menyenangkan lagi karena kamu ingat setiap detail yang
aku ceritakan padamu, setiap rinci hal tentangku. Aku senang karena kamu juga
bercerita banyak padaku. Menanyakan saranku, pendapatku. Aku senang karena kamu
secara tidak langsung percaya dan men”spesial”kan aku diantara lainnya.
Bukankah kamu tidak mudah menceritakan itu pada teman-temanku atau anak dari
sekolah lain?
Aku
ingin kamu tahu bagaimana gelinya aku ketika dekat denganmu, mendengarmu
bicara, mendengar guyonmu yang terkadang tidak lucu, tapi aku... ya, hanya akulah
yang kamu bilang selalu tertawa dan tersenyum menanggapimu, untuk hal-hal yang
tidak lucu sekalipun. Bagaimana senangnya aku ketika kamu bilang kamu salah
tingkah karena itu. Bagaimana senangnya aku ketika kamu bilang hanya aku...ya,
hanya aku...yang tertawa dan tersenyum. Bukan mereka. Mungkin aku akan dianggap
aneh atau...entahlah. Aku tidak peduli. (Ah, lihatlah, aku tampak begitu cuek
dan konyol ketika mencintaimu).
Terkadang
semua terasa dekat, semua terasa ringan dan sederhana. Pertemuan kita... begitu
sederhana namun selalu mampu meninggalkan bekas di dinding hatiku. Wajahmu
menempel di langit-langit kamarku, tersenyum ketika aku menutup mata dan
akhirnya kamu menggangguku dalam mimpi. Betapa lucunya.
Terkadang,
aku berpikir sendiri, bolehkah rasa ini aku tanam dan kurawat hati-hati?
Bolehkah aku menyimpan rasa ini? Benarkah kamu pun masih sendiri? Benarkah kamu
pun masih mencari “teman”? Apakah kamu juga merasakan getaran setiap kita
berdekatan? Apakah kamu juga mengerti sinar di mataku setiap kita bertatap?
Apakah kamu mengerti arti semu merah di pipiku ketika orang-orang menggoda
kita? Apakah saat aku pergi, kamu merindukan kehadiranku di tempat les? Apakah
kamu juga berharap aku cepat pulang dan cepat les lagi, supaya kamu bisa
melihatku tertawa bersama teman-temanku?
Apakah
nantinya...kamu pun mencintaiku?
Semua
pertanyaan itu... berputar-putar di kepalaku, membuatku ingin menangis karena
takut mendengar jawabanmu. Membuatku ingin berlari dari jawaban yang
sebenarnya... Aku terlalu takut menghadapi kenyataan. Aku hanya ingin begini
saja. Terus begini, mencintaimu, berada di sampingmu, tanpa harus memikirkan
hal lain karena aku tidak peduli. Hanya rasa ini dan kamu. Aku ingin kamu terus
membiarkan aku mencintaimu. Toh aku bahagia. Aku yakin Tuhan menakdirkan
semuanya.
Dari
penjabaran ini, aku ingin dunia tahu. Aku memiliki banyak kenangan manis di
SMA. Semuanya memberikanku banyak pelajaran. Dari tahun pertama, kedua dan
ketiga, semuanya membuatku belajar untuk lebih dewasa.
Aku
ingin dunia tahu. Semuanya terjadi karena takdir.
Aku
ingin dunia tahu karena kamu adalah duniaku.