Semua orang heran
Semua orang
bertanya
Ada apa dengan si
lugu?
Akhir-akhir ini lebih
banyak diam
Tidak bermain
Seperti anak gadis
lainnya
Aku yang mereka
juluki si lugu
Hanya bisa
tersenyum mendengar tanya itu
Pipiku memerah
melihat kerutan di wajah mereka
Kukatakan, “aku
baik-baik saja”
Aku biarkan rasa
ini terkubur dalam
Biar saja tak ada
yang tahu
Karena aku terlalu
malu
Untuk mengakui
Aku terlalu takut
Untuk mengatakan
Ah
Kejadiannya sebulan
lalu
Ketika aku menunggu
Aku bertemu
seseorang
Sosok dewasa
Yang senyumnya tiba-tiba
melambungkan perasaan
Tatapannya
menghadirkan getaran tak wajar
Aku tak tahu
bagaimana ini dengan mudahnya terjadi
Bagaimana dengan
mudahnya
Kau menjadi bagian
penting dalam ceritaku
Lalu
Bagaimana bisa
kukatakan
Aku jatuh cinta
pada sosok dewasa
Yang harusnya
kuhormati di kelas?
Bagaimana bisa
kuceritakan
Aku merasakan
getaran tak wajar
Setiap sosok dewasa
itu datang
Setengah berlari
karena hampir terlambat
Kemudian begitu kau
mendorong pintu
Kau tersenyum
begitu ramah?
Takkan mungkin
Aku si lugu
Dan kau
Sosok dewasa penuh
pesona
Oh Tuhan
Mungkin aku hanya
bisa katakan dengan satu bait
Atau dua bait
Dan kuharap kau
membacanya
Kuharap kau tahu
Aku, si lugu memang
jatuh padamu, sosok dewasa penuh pesona
-talitha quratu
aini-
Didedikasikan untuk
kamu, sosok dewasa penuh pesona
Terimakasih karena menjadi bagian penting buatku. Aku nggak
tau gimana jadinya kalau sore itu aku pulang tanpa bertemu denganmu. Mungkin
benar, ini bukan kebetulan apalagi rekayasa genetika. Tapi ini takdir.