Rabu, 30 Juli 2014

D dunia ini nggak ada gadis yang sempurna. Yang ada hanya mereka yang berusaha untuk menjadi sempurna, agar sosok sosok yang berarti bagi mereka akan tersenyum bahagia.
Begitu pula sebuah persahabatan. Nggak ada persahabatan yang bisa bertahan sempurna. Yang ada hanyalah mereka yang berusaha untuk mempertahankan persahabatan itu dan berdoa semoga Tuhan yang menjaganya.

Hari bahagia-Raisa


Mungkin hari ini semua hanya mimpi.
Tapi cepat atau lambat semua kan terjadi.
Kau dan rencanamu aku disampingmu. 
Kita erat bersepakat kelak kan kesana.

Cinta bukan satu-satunya yang bawa kita ke sana. 
Sebut saja dia logika. 
Menang mengalah bahagia.

Jeda tak sepaham. 
Bukan tak seberapa. 
Kita erat pasti bisa lalui semua. 
Hari yang bahagia...

Cinta bukan satu-satunya yang bawa kita ke sana. 
Sebut saja dia logika. 
Menang mengalah bahagia.


Lagu ini dinyanyikan oleh Raisa Andriana, dan aku baru tahu kalau ternyata lagu ini sebenarnya ditulis oleh Tulus. 

Setelah dengar lagu ini, aku semakin yakin akan satu hal. Satu hal yang semoga saja diridhoi oleh Tuhan. Aamiin. 

Selasa, 29 Juli 2014

Cinta itu absurd. Nggak ketauan wujudnya tapi seenaknya gentayangan. Kalo nggak digubris, malah makin jadi. Menggerus dinding hati tanpa ampun. Kalo dibiarin, makin parah merajalela, efeknya susah tidur karena sibuk melukiskan hari bahagia. 


Bahagia itu sederhana. 

Senin, 28 Juli 2014

Waktu satu bulan mungkin bagi kebanyakan orang bukanlah waktu yang lama. Justru relatif singkat.

Namun bagi sebagian kecil mereka, satu bulan menjadi hal paling mendebarkan jika satu bulan itu adalah.... Sebuah penantian

Tulus-Sewindu

Sudah sewindu ku di dekatmu
Ada di setiap pagi, di sepanjang harimu
Tak mungkin bila engkau tak tahu
Bila ku menyimpan rasa yang ku pendam sejak lama


Setiap pagi ku menunggu di depan pintu
Siapkan senyum terbaikku agar cerah harimu
Cukup bagiku melihatmu tersenyum manis
Di setiap pagimu, siangmu, malammu


Sesaat dia datang pesona bagai pangeran
Dan beri kau harapan bualan cinta di masa depan
Dan kau lupakan aku semua usahaku
Semua pagi kita, semua malam kita


Oh tak akan lagi ku menunggumu di depan pintu
Dan tak ada lagi tutur manis merayumu


Setiap pagi ku menunggu di depan pintu
Siapkan senyum terbaikku agar cerah harimu
Cukup bagiku melihatmu tersenyum manis
Di setiap pagimu, siangmu, malammu


Sesaat dia datang pesona bagai pangeran
Dan beri kau harapan bualan cinta di masa depan
Dan kau lupakan aku semua usahaku
Semua pagi kita, semua malam kita


Oh tak akan lagi ku menunggumu di depan pintu
Dan tak ada lagi tutur manis ku merayumu
Oh tak akan lagi ku menunggumu di depan pintu
Dan tak ada lagi tutur manis ku merayumu


Jujur memang sakit di hati
Bila kini nyatanya engkau memilih dia
Takkan lagi ku sebodoh ini
Larut di dalam angan-angan tanpa tujuan


Oh tak akan lagi ku menunggumu di depan pintu
Dan tak ada lagi tutur manis ku merayumu
Oh tak akan lagi ku menunggumu di depan pintu
Dan tak ada lagi tutur manis ku merayumu




Dari sekian banyak sifat manusia, mungkin kini sifat ini sudah mendarah daging dalam diri setiap manusia, dan menjadi ciri khas. GENGSI.

Banyak hal yang telah dilalui dalam hari hari namun sering saja mereka enggan untuk mengakui atau melakukan sesuatu hanya karena gengsi. Padahal, gengsi takkan pernah menyelesaikan apapun. Jangankan menyelesaikan, dipandang pun menggelikan dan menimbulkan decak heran. Kenapa harus gengsi, sih?


Waktu mungkin memang nggak akan pernah nunggu kita untuk berani mengatakan kejujuran, terutama jika kejujuran itu kita tujukan untuk sosok paling istimewa dalam hari hari. Sosok luar biasa yang tidak pernah absen membuat hari biasa menjadi tak biasa. Berkata jujur memang tidak pernah mudah. Tak jarang kejujuran menorehkan luka dalam di hati, lantas membekas menjadi rasa trauma untuk kembali percaya.  Namun memilih untuk jujur adalah hal paling tepat dibandingkan berbohong selamanya. Akan lebih menyakitkan lagi jika pada akhirnya semua rahasia terbongkar.

D antara sekian banyak insan yang memendam kejujuran, terlebih rasa dalam hati untuk seseorang yang terkasih, ada sedikit dari mereka yang tak ingin berkata jujur karena malu mengakui rasa itu. Malu, telah jatuh hati pada seseorang yang tak terduga, seseorang yang dipandang aneh oleh orang banyak. Lantas Ia memilih untuk diam dan memendam rasa itu, bahkan mungkin menghindar. Sehingga Ia tak pernah membiarkan yang Ia cintai tahu, apa yang Ia rasakan. Ia tidak tahu, jika yang Ia kasihi pun mencintainya. Ironis memang, tapi dari sekian banyak cerita, ada.

Bahkan tak jarang Ia membuat yang Ia kasihi mengira bahwa cintanya bertepuk tepuk sebelah tangan. Seolah mengindikasikan kepada semua orang bahwa kisah itu tak pantas dilanjutkan. Jangankan itu, bahkan mungkin dimulai saja rasanya sangat menggelikan. Seperti mimpi saja, padahal kita hidup dalam kenyataan, bukan dunia dongeng yang penuh dengan ibu peri yang baik hati, atau pangeran berkuda putih.

Hingga saat ini masih sulit memang untuk memilih harus jujur atau terus memendam sendiri kejujuran itu. Walaupun jika terlambat, akan sangat menyesakkan. Namun untuk memulai pun rasanya meresahkan.

Namun jika memang belum punya cukup keberanian untuk jujur, diam akan jauh lebih baik. Walaupun sekali lagi, waktu tidak akan menunggu kita sampai berani bicara.

Sabtu, 26 Juli 2014

Sebuah cerita untuk melepas kerinduan

Ketika pertama kali bertemu denganmu, aku tidak pernah sekalipun berpikir bahwa kita akan bertemu di sebuah bimbingan belajar. Sungguh menggelikan, ketika aku bertemu dengan sosok yang kemudian berperan begitu penting dalam hari hariku di sebuah bimbel.Sosok yang begitu sederhana, namun pada saat yang sama menjadi sosok paling istimewa yang membuatku susah tidur karena tergerus jutaan rasa.
Aku percaya, Tuhan memang menyiapkan satu hari istimewa untuk kita bertemu, dan memang hari itu adalah Kamis sore yang cerah, di akhir bulan Januari.

Hingga suatu hari, Mom dan Dad asyik bernostalgia, aku tidak berkomentar banyak saat itu, namun satu ha membuatku penasaran dan lantas kutanyakan, "Pertama kali Mama sama Bapak ketemu di mana sih?"

Lantas Mom menjawab, "Mama sama Bapak waktu itu ketemu di Neutron, tempat bimbel di Solo pas intensif sebelum masuk kuliah," kau tahu? Jawaban Mom demi apapun membuatku terdiam beberapa saat, membuat namamu muncul di permukaan begitu saja. Membuatku teringat pada pertemuan kita.

"Tapi waktu itu intensif ya cuman sebentar. Paling sebulan, terus ga ketemu lagi soalnya Mama kan di UNS, Bapak di UGM. Tapi nggak tau Bapak dapat info dari mana kalo Mama sempat kuliah sesemester di UPN, eeh Bapak nyari nyari Mama deh ke UPN, hahaha," Mom melanjutkan cerita dengan deras tawa bahagia. Dari nada bicara Mom, aku tahu, waktu itu Mom begitu bahagia. Itu kenangan yang takkan terlupakan.

Bagaimana mungkin bisa dilupakan hari ketika seorang laki laki yang begitu menyukai Mom, mencari cari Mom ke kampusnya? Surprisingly, dari sekian banyak mahasiswa, mereka bertemu. Jodoh. Bisa kubayangkan sinar mata Mom begitu terang. Berbinar binar ketika mengingat kenangan manis itu.

"Waktu itu Bapak nanya sama mahasiswa lain, 'kenal nggak sama Dewi? Fakultas pertanian,' gitu. Terus langsung dianterin deh ke fakultasnya Mama," Dad gantian bercerita, membuatku tertawa.

"Tapi habis itu Mama keluar UPN soalnya ga kuat kuliah di dua kampus. Jadi balik ke UNS lagi deh. Terus ya Mama sama Bapak cuman ketemu sebulan sekali paling. Apa itu bahasa anak sekarang... LD....." Kata Mom.

"LDR," sahutku

"Nah iya itu, singkatan dari apa sih Pa, LDR tuh?" Nada bicara Mom terdengar menahan tawa

"Long distance relationship," jawab Dad. Aku tersenyum kecut mendengar kata itu.

Jujur, cerita masa lalu Mom dan Dad, pertemuan pertama mereka, membuatku berpikir untuk beberapa saat, mungkinkah.... mungkinkah Tuhan merencanakan sesuatu dengan menakdirkan cerita pertemuan pertama kita sama dengan pertemuan Mom dan Dad? Alangkah lucunya.

Aku tersenyum ketika ingat begitu cinta Dad pada olahraga bulutangkis ketika muda dulu bahkan sampai sekarang pun Dad masih hobi dengan olahraga itu meski hanya menonton saja. Serta merta, Dad menularkan kecintaannya pada bulutangkis itu untukku. Lantas setiap aku dan Dad menonton pertandingan bulutangkis, Mom akan mulai menggodaku, "kalo lagi nonton bulutangkis aja akur banget, hahaha,"

 Mom bercerita dengan nada geli, "iya, saking hobinya nonton bulutangkis, sampe tahan numpang nonton di rumah tetangga pas awal nikah. Ninggalin Mama sendiri di rumah. Padahal Mama kan
sendirian lagi hamil pula waktu itu. Usah ditinggal seharian kerja, malamnya pas Mama pengen Ditemenin eeh malah main ke tetangga. Kebangetan deh," Mom mengakhiri cerita dengan tawa.

"Loh emang dulu di rumah belum ada TV?" Aku penasaran

"Ya udah ada, tapi Mama kan nggak pengen nonton bulutangkis. Eeh Bapak akhirnya malah nonton di rumah tetangga buat nonton bulutangkis," jelas Mom

"Ya kan waktu itu pertandingan bulutangkisnya jarang jarang Ma. Kalau sinetron kan setiap hari. Itu pertandingan penting lho, Thomas Uber kalo ga salah," Dad membela diri, membuatku tertawa geli.


Kembali lagi aku teringat padamu, yang begitu mencintai bulutangkis juga. Bahkan kamu rela jauh jauh datang ke Jakarta untuk menonton pertandingan bulutangkis. Bagaimanakah mungkin aku memendam jutaan rasa pada sosok yang memiliki kesamaan dengan Dad? Apa hanya kebetulan semata? Namun bukankah tak ada segala sesuatu yang kebetulan? Jadi ini takdir?

Memang. Begitu banyak sosok di luar sana yang pun mencintai dunia olahraga khususnya cabang bulutangkis. Tapi, kamu adalah laki laki penting pertama selain Dad yang kutemui dalam hidupku yang sangat menyukai bulu tangkis. Lucu memang.

Ingin menangis rasanya ketika menuliskan ini. Bukan karena sedih, tapi karena terharu dengan kenangan Mom dan Dad.

Ketika aku menceritakan kamu pada Mom, dan sampai pada bagian mimpimu untuk meneruskan pendidikan ke luar negeri, Mom kembali bercerita, " Dulu Bapak juga pernah mau kuliah di luar negeri. Ada beasiswa kalo ga salah pas masih semester 2 gitu. Bapak nanya sama Mama, ambil apa nggak ya... Gitu, " Mom mengulum senyum saat itu.

"Terus gimana Ma? Kok nggak jadi? Mama bilang jangan ya?"

"Ya nggak, mama cuman bilang ambil aja, kok kepikiran aku, gitu. Eeh api akhirnya nggak ngambil deh. Mungkin takut ninggalin Mama hahaha," Mom kembali tertawa di akhir cerita. Aku tidak tahu apa Mom serius soal Dad yang membatalkan beasiswa itu karena takut meninggalkan Mom atau tidak.

Tertawalah. Aku pun tersenyum mendengarnya. Ini bukan kisah yang menyedihkan apalagi dramatis dan melankolis kan? Aku hanya ingin berbagi cerita denganmu. Bukankah kamu pun pernah menuliskan dan mengucapkan selamat ulang tahun pernikahan untuk kedua orangtuamu dalam blogmu?

Tidak aku menulis ini bukan dalam rangka peringatan pernikahan kedua orangtuaku. AKu hanya ingin saja.

Di akhir ceritaku kali ini pernahkah kamu berpikir dan teringat bagaimana hari itu terjadi? Seperti yang pernah kutulis sebelumnya, Mbak Mona adalah orang yang secara tak langsung berperan penting dalam kisah aneh yang tengah kita jalani, pertemuan pertama kita. Jika saja hari itu Mbak Mona tetap mengajar di kelasku, mungkin kita tidak bertemu dengan cara yang sama, mungkin soal ITB bukan soal pertama kita. Mungkin kita tidak saling mengenal dengan cara seperti ini dan hari hari kita mungkin tidak berjalan seperti ini kan? Namun nyatanya Tuhan menggariskan semuanya seindah sekarang.

Tuhan memang telah merencanakan semuanya, mengaturnya sedemikian rupa hingga akuhanyabisa terus bersyukur setiap detiknya karena terus diijinkan merasakan jutaan rasa dalam hati padamu. Tuhan selalu punya cara untuk mempertemukan setiap insan, entah kapan dan di mana yang penting halal... Hehe. Maksudku, kita dipertemukan di hari yang baik  dan di tempat yang baik pula. Semoga

apapun yang terjadi di antara kita ini memang baik dan diridhoi olehNya. Aamiin.

Terima kasih kamu.

Dalam hari, dalam keheningan

Ini satu kisahku
Mungkin kisah cinta atau nyata
Satu hari
Aku bertemu seseorang 
Tak diduga
Tapi menggetarkan
Tak disangka
Membekas di pelupuk mata

Satu hari itu
Gejolak aneh mengusikku
Getaran tak wajar menggangguku
Memaksa jantung berdebar tak tentu
Ketika pandanganmu, pandanganku
Bertemu pada satu detik

Satu hari itu 
Aliran darahku melaju kencang
Ketika kau tersenyum

Hari berikutnya 
Ketika kau tak juga tiba
Perasaan aneh mengaduk perutku
Apa rindu? 
Oh Tuhan
Dan kemudian dunia berhenti
Ketika kau berlari kecil
Mendorong pintu itu
Lantas menarik perhatian mereka
Kau tersenyum
Dan pandanganmu, pandanganku
Kembali bertemu
Entah satu detik
Atau kuharap selamanya

Mungkin 
Aku tak mau akui ini
Namun satu suara mengejutkanku
Memaksaku berbisik dalam hati
Aku jatuh
Tak sakit
Namun luar biasa indah
Aku memang jatuh
Padamu
Malaikat tanpa sayap

Sabtu, 19 Juli 2014

Untuk banyak hari, merindukan

Ucapkanlah kasih, satu kata yang kunantikan
Sebab kutak mampu membaca matamu, mendengar bisikmu
Nyanyikanlah kasih, senandung kata hatimu
Sebab kutak mampu mengartikan getar ini
Sebab kumeragu pada dirimu

Mengapa berat ungkapkan cinta padahal Ia ada
Dalam rinai hujan, dalam terang bulan, juga dalam sedu sedan
Mengapa sulit mengaku cinta, padahal Ia terasa
Dalam rindu dendam, hening malam, cinta terasa ada



Ada cinta. Ost love is cinta.