Ketika pertama kali bertemu denganmu, aku tidak pernah sekalipun berpikir bahwa kita akan bertemu di sebuah bimbingan belajar. Sungguh menggelikan, ketika aku bertemu dengan sosok yang kemudian berperan begitu penting dalam hari hariku di sebuah bimbel.Sosok yang begitu sederhana, namun pada saat yang sama menjadi sosok paling istimewa yang membuatku susah tidur karena tergerus jutaan rasa.
Aku percaya, Tuhan memang menyiapkan satu hari istimewa untuk kita bertemu, dan memang hari itu adalah Kamis sore yang cerah, di akhir bulan Januari.
Hingga suatu hari, Mom dan Dad asyik bernostalgia, aku tidak berkomentar banyak saat itu, namun satu ha membuatku penasaran dan lantas kutanyakan, "Pertama kali Mama sama Bapak ketemu di mana sih?"
Lantas Mom menjawab, "Mama sama Bapak waktu itu ketemu di Neutron, tempat bimbel di Solo pas intensif sebelum masuk kuliah," kau tahu? Jawaban Mom demi apapun membuatku terdiam beberapa saat, membuat namamu muncul di permukaan begitu saja. Membuatku teringat pada pertemuan kita.
"Tapi waktu itu intensif ya cuman sebentar. Paling sebulan, terus ga ketemu lagi soalnya Mama kan di UNS, Bapak di UGM. Tapi nggak tau Bapak dapat info dari mana kalo Mama sempat kuliah sesemester di UPN, eeh Bapak nyari nyari Mama deh ke UPN, hahaha," Mom melanjutkan cerita dengan deras tawa bahagia. Dari nada bicara Mom, aku tahu, waktu itu Mom begitu bahagia. Itu kenangan yang takkan terlupakan.
Bagaimana mungkin bisa dilupakan hari ketika seorang laki laki yang begitu menyukai Mom, mencari cari Mom ke kampusnya? Surprisingly, dari sekian banyak mahasiswa, mereka bertemu. Jodoh. Bisa kubayangkan sinar mata Mom begitu terang. Berbinar binar ketika mengingat kenangan manis itu.
"Waktu itu Bapak nanya sama mahasiswa lain, 'kenal nggak sama Dewi? Fakultas pertanian,' gitu. Terus langsung dianterin deh ke fakultasnya Mama," Dad gantian bercerita, membuatku tertawa.
"Tapi habis itu Mama keluar UPN soalnya ga kuat kuliah di dua kampus. Jadi balik ke UNS lagi deh. Terus ya Mama sama Bapak cuman ketemu sebulan sekali paling. Apa itu bahasa anak sekarang... LD....." Kata Mom.
"LDR," sahutku
"Nah iya itu, singkatan dari apa sih Pa, LDR tuh?" Nada bicara Mom terdengar menahan tawa
"Long distance relationship," jawab Dad. Aku tersenyum kecut mendengar kata itu.
Jujur, cerita masa lalu Mom dan Dad, pertemuan pertama mereka, membuatku berpikir untuk beberapa saat, mungkinkah.... mungkinkah Tuhan merencanakan sesuatu dengan menakdirkan cerita pertemuan pertama kita sama dengan pertemuan Mom dan Dad? Alangkah lucunya.
Aku tersenyum ketika ingat begitu cinta Dad pada olahraga bulutangkis ketika muda dulu bahkan sampai sekarang pun Dad masih hobi dengan olahraga itu meski hanya menonton saja. Serta merta, Dad menularkan kecintaannya pada bulutangkis itu untukku. Lantas setiap aku dan Dad menonton pertandingan bulutangkis, Mom akan mulai menggodaku, "kalo lagi nonton bulutangkis aja akur banget, hahaha,"
Mom bercerita dengan nada geli, "iya, saking hobinya nonton bulutangkis, sampe tahan numpang nonton di rumah tetangga pas awal nikah. Ninggalin Mama sendiri di rumah. Padahal Mama kan
sendirian lagi hamil pula waktu itu. Usah ditinggal seharian kerja, malamnya pas Mama pengen Ditemenin eeh malah main ke tetangga. Kebangetan deh," Mom mengakhiri cerita dengan tawa.
"Loh emang dulu di rumah belum ada TV?" Aku penasaran
"Ya udah ada, tapi Mama kan nggak pengen nonton bulutangkis. Eeh Bapak akhirnya malah nonton di rumah tetangga buat nonton bulutangkis," jelas Mom
"Ya kan waktu itu pertandingan bulutangkisnya jarang jarang Ma. Kalau sinetron kan setiap hari. Itu pertandingan penting lho, Thomas Uber kalo ga salah," Dad membela diri, membuatku tertawa geli.
Kembali lagi aku teringat padamu, yang begitu mencintai bulutangkis juga. Bahkan kamu rela jauh jauh datang ke Jakarta untuk menonton pertandingan bulutangkis. Bagaimanakah mungkin aku memendam jutaan rasa pada sosok yang memiliki kesamaan dengan Dad? Apa hanya kebetulan semata? Namun bukankah tak ada segala sesuatu yang kebetulan? Jadi ini takdir?
Memang. Begitu banyak sosok di luar sana yang pun mencintai dunia olahraga khususnya cabang bulutangkis. Tapi, kamu adalah laki laki penting pertama selain Dad yang kutemui dalam hidupku yang sangat menyukai bulu tangkis. Lucu memang.
Ingin menangis rasanya ketika menuliskan ini. Bukan karena sedih, tapi karena terharu dengan kenangan Mom dan Dad.
Ketika aku menceritakan kamu pada Mom, dan sampai pada bagian mimpimu untuk meneruskan pendidikan ke luar negeri, Mom kembali bercerita, " Dulu Bapak juga pernah mau kuliah di luar negeri. Ada beasiswa kalo ga salah pas masih semester 2 gitu. Bapak nanya sama Mama, ambil apa nggak ya... Gitu, " Mom mengulum senyum saat itu.
"Terus gimana Ma? Kok nggak jadi? Mama bilang jangan ya?"
"Ya nggak, mama cuman bilang ambil aja, kok kepikiran aku, gitu. Eeh api akhirnya nggak ngambil deh. Mungkin takut ninggalin Mama hahaha," Mom kembali tertawa di akhir cerita. Aku tidak tahu apa Mom serius soal Dad yang membatalkan beasiswa itu karena takut meninggalkan Mom atau tidak.
Tertawalah. Aku pun tersenyum mendengarnya. Ini bukan kisah yang menyedihkan apalagi dramatis dan melankolis kan? Aku hanya ingin berbagi cerita denganmu. Bukankah kamu pun pernah menuliskan dan mengucapkan selamat ulang tahun pernikahan untuk kedua orangtuamu dalam blogmu?
Tidak aku menulis ini bukan dalam rangka peringatan pernikahan kedua orangtuaku. AKu hanya ingin saja.
Di akhir ceritaku kali ini pernahkah kamu berpikir dan teringat bagaimana hari itu terjadi? Seperti yang pernah kutulis sebelumnya, Mbak Mona adalah orang yang secara tak langsung berperan penting dalam kisah aneh yang tengah kita jalani, pertemuan pertama kita. Jika saja hari itu Mbak Mona tetap mengajar di kelasku, mungkin kita tidak bertemu dengan cara yang sama, mungkin soal ITB bukan soal pertama kita. Mungkin kita tidak saling mengenal dengan cara seperti ini dan hari hari kita mungkin tidak berjalan seperti ini kan? Namun nyatanya Tuhan menggariskan semuanya seindah sekarang.
Tuhan memang telah merencanakan semuanya, mengaturnya sedemikian rupa hingga akuhanyabisa terus bersyukur setiap detiknya karena terus diijinkan merasakan jutaan rasa dalam hati padamu. Tuhan selalu punya cara untuk mempertemukan setiap insan, entah kapan dan di mana yang penting halal... Hehe. Maksudku, kita dipertemukan di hari yang baik dan di tempat yang baik pula. Semoga
apapun yang terjadi di antara kita ini memang baik dan diridhoi olehNya. Aamiin.
Terima kasih kamu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar