Aku
boleh jadi hanya seorang gadis remaja tanggung yang pemalu dan ceroboh. Kamu
boleh jadi seorang laki-laki dewasa dengan pesona luar biasa, yang pendiam
namun memiliki tatapan seribu makna.
Aku
boleh jadi hanya seorang gadis remaja tanggung yang lugu, tak pandai bergaul
dan lebih suka menyendiri walaupun suasana begitu semarak, ramai dan
menyenangkan. Kamu boleh jadi seorang laki-laki dewasa dengan pesona luar
biasa, yang begitu mudah menarik perhatian mereka meskipun kamu tidak berkata
sepatah katapun. Mungkin ini karena senyummu yang begitu hangat.
Aku
hanyalah seorang gadis remaja tanggung biasa yang entah bagaimana gilanya,
konyolnya, jatuh cinta pada kamu, laki-laki dewasa dengan pesona luar biasa.
Mungkin
bagi kebanyakan orang sebuah pertemuan bukan satu hal besar dan istimewa, hanya kebetulan biasa yang tidak bisa dijadikan sebagai tolak ukur
dimulainya sebuah cerita. Namun bagi sebagian kecil orang, satu pertemuan tak
terduga memiliki jutaan makna yang tak bisa diuraikan dengan kata-kata, karena
percaya pertemuan tak terduga itu adalah takdir Tuhan. Terutama bagiku, aku
yakin pertemuan dengan kamu bukanlah sebuah kebetulan. Tapi memang sudah dituliskan,
dan menjadi awal dari cerita ini. Kisah yang sungguh aneh tapi nyata, tidak perlu
menjadi tangis jika memang menyedihkan, hanya perlu tersenyum karena tak ada
kisah yang salah ketika semua karena Tuhan.
Tidak
bisa dikatakan cerita cinta karena pada awalnya aku tidak tahu apakah aku
memang jatuh cinta padamu, atau ini hanyalah euforia berlebihan yang melahirkan
hormon-hormon tak wajar sehingga memacu jantungku berdebar begitu kencang,
memaksa keringatku mengalir dingin di kening ketika kita berdekatan. Sungguh
getaran ini membuatku gila,
begitu lemah ketika mengingatmu namun berusaha tegar menghadapi hari-hari
karena kamu juga.
Karena
itulah aku kemudian sadar, perasaan ini memang nyata, anugerah Tuhan yang Maha
Esa, yang tak ingin aku lepaskan begitu saja. Barulah aku bisa mengatakan ini
cerita cinta. Namun bukanlah kisah yang mungkin ingin mereka jalani. Bukan juga
kisah cinta yang penuh dengan adegan serba dramatis, dilematis dan melankolis.
Ini kisah lucu, membuat siapa saja tertawa dan berkata, “Kisah yang
konyol,” Ya, ini bukan pula kisah yang sering terlihat di televisi apalagi
terbaca di teenlit-teenlit.
Begitu
sederhananya setiap pertemuanku dan kamu. Mengalir saja seperti air yang
tenang, walaupun terkadang ombak besar menghancur leburkan perasaanku karena
mencari tahu tentang kamu membuatku takut, jangan-jangan aku tak
boleh meneruskan perasaan ini.
Begitu
sederhananya hubungan pertemanan kita, ah, aku sendiri bingung bagaimana
melabelkan hubungan ini. Apakah kita teman, rekan dalam satuan pendidikan, atau
hanya sebatas kenal karena situasi dan kondisi? Entahlah. Lebih baik tak perlu
kupikirkan status kita. Toh dengan begini saja, aku bahagia. Sudah cukup, tak
perlu ditambah garam atau merica lagi. Begitu menyenangkannya obrolan yang
terjadi antara kita, sehingga terkadang kamu terasa begitu dekat. Namun suatu
kali kamu akan menghilang dan terasa begitu jauh, membuat dinding pembeda
antara kita tumbuh tinggi tiba-tiba, menghalangiku untuk sekedar melihatmu.
Ketika
kita bertemu, aku tak bisa mempertahankan raut wajahku untuk tidak tersenyum.
Entahlah semuanya seolah-olah sudah diatur otomatis. Bahkan aku sendiri tidak
bisa mengubahnya menjadi manual lagi dengan bantuan logika otak kiriku. Mungkin
dia sudah terlanjur malas denganku karena lebih memilih kata hati yang didukung
oleh daya khayal otak kananku. Tapi, kita memang sulit memercayai logika ketika
jatuh cinta karena hati jauh lebih kuat.
Kamu
begitu mudahnya membuat siapapun tertawa. Mungkin lelucon yang konyol dan
sebenarnya tidak lucu. Namun menghibur, menyenangkan. Walaupun terkadang
tiba-tiba kamu berubah menjadi sosok misterius, serius, serta canggung. Aku
sendiri tidak tahu kenapa. Apakah kamu memang pandai merubah sikap secepat itu?
Apa saat kamu tertawa dan melontarkan lelucon konyol kamu hanya berakting? Atau
ketika kamu diam dan terlihat begitu misterius sebenarnya kamu hanya
berpura-pura?
Sayangnya,
aku hanya menemukan kejujuran dan ketulusan di matamu. Aku menemukan keikhlasan
dalam derai tawamu, dan keseriusan dalam diammu . Lantas,
bagaimana bisa aku menghentikan rasa ini jika semua hal padamu membuatku semakin tertarik?
Maka, kepada kamu, aku bisikkan satu dua patah kata. Aku tak ingin banyak. Hanya saja, aku berharap satu atau dua saat nanti kamu membaca tulisan ini dan mengerti, bagaimana rasanya menjadi aku yang setiap harinya tak pernah tidak tergetar oleh kehadiranmu. Karena kamu, aku melihat cinta dari sisi positif. Aku tak takut lagi menjadi pemimpi. Aku tak lagi ragu pada doa-doaku karena aku tahu, ketika semuanya karena Tuhan, takkan ada kisah yang salah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar