Sabtu, 19 April 2014

Kepada Kamu dengan Sejuta Rasa


Aku boleh jadi hanya seorang gadis remaja tanggung yang pemalu dan ceroboh. Kamu boleh jadi seorang laki-laki dewasa dengan pesona luar biasa, yang pendiam namun memiliki tatapan seribu makna.

Aku boleh jadi hanya seorang gadis remaja tanggung yang lugu, tak pandai bergaul dan lebih suka menyendiri walaupun suasana begitu semarak, ramai dan menyenangkan. Kamu boleh jadi seorang laki-laki dewasa dengan pesona luar biasa, yang begitu mudah menarik perhatian mereka meskipun kamu tidak berkata sepatah katapun. Mungkin ini karena senyummu yang begitu hangat.

Aku hanyalah seorang gadis remaja tanggung biasa yang entah bagaimana gilanya, konyolnya, jatuh cinta pada kamu, laki-laki dewasa dengan pesona luar biasa.

Mungkin bagi kebanyakan orang sebuah pertemuan bukan satu hal besar dan istimewa, hanya   kebetulan biasa yang tidak bisa dijadikan sebagai tolak ukur dimulainya sebuah cerita. Namun bagi sebagian kecil orang, satu pertemuan tak terduga memiliki jutaan makna yang tak bisa diuraikan dengan kata-kata, karena percaya pertemuan tak terduga itu adalah takdir Tuhan. Terutama bagiku, aku yakin pertemuan dengan kamu bukanlah sebuah kebetulan. Tapi memang sudah dituliskan, dan menjadi awal dari cerita ini. Kisah yang sungguh aneh tapi nyata, tidak perlu menjadi tangis jika memang menyedihkan, hanya perlu tersenyum karena tak ada kisah yang salah ketika semua karena Tuhan.

Tidak bisa dikatakan cerita cinta karena pada awalnya aku tidak tahu apakah aku memang jatuh cinta padamu, atau ini hanyalah euforia berlebihan yang melahirkan hormon-hormon tak wajar sehingga memacu jantungku berdebar begitu kencang, memaksa keringatku mengalir dingin di kening ketika kita berdekatan. Sungguh getaran ini membuatku gila, begitu lemah ketika mengingatmu namun berusaha tegar menghadapi hari-hari karena kamu juga.

Karena itulah aku kemudian sadar, perasaan ini memang nyata, anugerah Tuhan yang Maha Esa, yang tak ingin aku lepaskan begitu saja. Barulah aku bisa mengatakan ini cerita cinta. Namun bukanlah kisah yang mungkin ingin mereka jalani. Bukan juga kisah cinta yang penuh dengan adegan serba dramatis, dilematis dan melankolis. Ini kisah lucu, membuat siapa saja tertawa dan berkata, “Kisah yang konyol,” Ya, ini bukan pula kisah yang sering terlihat di televisi apalagi terbaca di teenlit-teenlit.

Begitu sederhananya setiap pertemuanku dan kamu. Mengalir saja seperti air yang tenang, walaupun terkadang ombak besar menghancur leburkan perasaanku karena mencari tahu tentang kamu membuatku takut, jangan-jangan aku tak boleh meneruskan perasaan ini.

Begitu sederhananya hubungan pertemanan kita, ah, aku sendiri bingung bagaimana melabelkan hubungan ini. Apakah kita teman, rekan dalam satuan pendidikan, atau hanya sebatas kenal karena situasi dan kondisi? Entahlah. Lebih baik tak perlu kupikirkan status kita. Toh dengan begini saja, aku bahagia. Sudah cukup, tak perlu ditambah garam atau merica lagi. Begitu menyenangkannya obrolan yang terjadi antara kita, sehingga terkadang kamu terasa begitu dekat. Namun suatu kali kamu akan menghilang dan terasa begitu jauh, membuat dinding pembeda antara kita tumbuh tinggi tiba-tiba, menghalangiku untuk sekedar melihatmu.

Ketika kita bertemu, aku tak bisa mempertahankan raut wajahku untuk tidak tersenyum. Entahlah semuanya seolah-olah sudah diatur otomatis. Bahkan aku sendiri tidak bisa mengubahnya menjadi manual lagi dengan bantuan logika otak kiriku. Mungkin dia sudah terlanjur malas denganku karena lebih memilih kata hati yang didukung oleh daya khayal otak kananku. Tapi, kita memang sulit memercayai logika ketika jatuh cinta karena hati jauh lebih kuat.

Kamu begitu mudahnya membuat siapapun tertawa. Mungkin lelucon yang konyol dan sebenarnya tidak lucu. Namun menghibur, menyenangkan. Walaupun terkadang tiba-tiba kamu berubah menjadi sosok misterius, serius, serta canggung. Aku sendiri tidak tahu kenapa. Apakah kamu memang pandai merubah sikap secepat itu? Apa saat kamu tertawa dan melontarkan lelucon konyol kamu hanya berakting? Atau ketika kamu diam dan terlihat begitu misterius sebenarnya kamu hanya berpura-pura?
Sayangnya, aku hanya menemukan kejujuran dan ketulusan di matamu. Aku menemukan keikhlasan dalam derai tawamu, dan keseriusan dalam diammu . Lantas, bagaimana bisa aku menghentikan rasa ini jika semua hal padamu membuatku semakin tertarik?

Maka, kepada kamu, aku bisikkan satu dua patah kata. Aku tak ingin banyak. Hanya saja, aku berharap satu atau dua saat nanti kamu membaca tulisan ini dan mengerti, bagaimana rasanya menjadi aku yang setiap harinya tak pernah tidak tergetar oleh kehadiranmu. Karena kamu, aku melihat cinta dari sisi positif. Aku tak takut lagi menjadi pemimpi. Aku tak lagi ragu pada doa-doaku karena aku tahu, ketika semuanya karena Tuhan, takkan ada kisah yang salah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar