Sabtu, 19 April 2014

Kepada Kamu dengan Sejuta Tanya


Aku benci ketika memasuki duniamu yang penuh dengan tanda tanya. Seperti labirin, aku akan berputar-putar, entah sampai kapan. Bahkan ketika sudah memiliki peta pun aku masih berputar-putar. Mungkin karena setiap menit, kamu mengubah jalan labirinmu, sehingga aku tidak bisa menyelesaikannya dengan mudah.

Aku benci merasakan getaran tak wajar setiap kamu tersenyum padaku, mengisyaratkan seolah-olah aku boleh membalasnya dan yakin kamu tahu perasaanku yang konyol ini. Seolah-olah kamu bisa membaca sinar di mataku dan kamu berkata, “Aku pun merasakan getaran itu,”

Aku benci merasa begitu bodoh ketika membaca pesan darimu, mulai mengetik kemudian menghapus beberapa kali, berusaha berpikir keras bagaimana balasan yang tepat untuk pesanmu. Entah kenapa, kata-kata terdengar begitu penting ketika itu akan kukirimkan untukmu. Kemudian menunggu lagi sambil berharap kamu akan tersenyum ketika membaca pesanku. Ya, persis sama seperti ketika aku menemukan pesanmu di ponselku.  

Aku benci merasa begitu lemah setiap malam, sebelum tidur karena wajahmu memenuhi langit-langit kamarku. Kemudian terbayang hari-hari yang kulewati denganmu, tanda-tanda kecil itu, membuatku bahagia sekaligus putus asa karena takut semuanya hanya fatamorgana. Khayalan tingkat tinggi yang membuat otak kiriku menolaknya mentah-mentah, “Kau terlalu kekanak-kanakan,”

Aku benci terbangun dengan jantung yang berdebar kencang dan pelahan senyum mengembang dengan konyolnya karena memimpikanmu. Kemudian aku teringat satu fakta -entah benar atau tidak- ketika kita memimpikan seseorang, maka sebenarnya orang itulah yang memikirkan kita. Lalu, apakah benar kamu memikirkanku hingga kamu datang dalam mimpi?

Ahh.
Aku benci ketika aku menemukanmu duduk di sana, lantas saja menoleh padaku, kemudian tersenyum. Sementara aku tidak tahu harus bagaimana karena sibuk menata hati, sibuk salah tingkah dengan senyum yang kamu berikan. Dengan bodohnya aku tersenyum canggung dan mengalihkan perhatian, padahal seribu kali aku ingin menyapamu. Sekedar untuk menanyakan kabar. Namun aku tak sanggup menahan debaran jantung. Aku tak sanggup membiarkanmu tahu, bagaimana dahsyatnya getaran yang kurasakan, melahirkan butiran keringat di tanganku.

Aku benci mengakui besarnya pengaruh dirimu dalam hidupku. Bahkan aku tak bisa mencari celah sedikitpun untuk mencela kamu. Begitu sederhananya kamu, sehingga aku tak bisa dengan bebas mengkritikmu. Kamu bisa jadi seorang sosok dewasa yang begitu sempurna dan penuh pseona.

Aku benci mengatakan aku takut. Begitu pasrah, tanpa jeda. Begitu takut ini hanya rasa sesaat yang mudah berlalu begitu saja. Begitu takut semua yang kurasakan tak pernah boleh jadi kenyataan. Begitu takut ternyata gayung cintaku tak bersambut. Namun bukankah seorang upik abu sekalipun bisa hidup bahagia bersama pangeran berkuda putihnya? Lantas bukan tak mungkin aku boleh mengharapkan ini menjadi nyata, kan?

Aku benci menyadari bagaimana jauh dan berbedanya kita. Mungkin aku dianggap gila karena merasakan getaran untukmu. Mungkin aku akan ditertawakan tanpa ampun ketika aku berkata, “Aku serius,”

Namun, coba beritahu aku, bagaimana caranya aku bisa menghindari pertemuan pertama itu? Yang entah bagaimana, kamu membuatku terdiam pada pandangan kita detik itu. Bagaimana caranya aku meredam perasaan yang terlanjur merasukiku begitu saja tanpa membiarkanku berpikir dan berkompromi dengan otak kiriku yang begitu mengedepankan logika? Lantas saja pendapat otak kiriku dikalahkan oleh hati dan otak kananku.

Coba katakan padaku, bagaimana caranya menghindari seseorang yang bisa jadi akan selalu kutemui setiap hari? Bagaimana caranya menguasai diri ketika berhadapan langsung, wajahku tertarik untuk selalu tersenyum? Hatiku bahagia, tak terkendali? Bahkan diammu saja melahirkan euforia berlebihan dalam hatiku dan memacu aliran darahku berlari kencang?

Aku benci menyadari ini. Sejujurnya, aku tak ingin berhenti merasakan ini. Aku tak ingin berhenti berharap suatu saat nanti semuanya akan jadi nyata meskipun aku tahu, rasanya seperti mimpi. Aku tak ingin berhenti merasakan getaran di tubuhku setiap kamu tersenyum padaku. Aku tak ingin berhenti merasakan degupan jantung meningkat setiap kubaca percakapan kita di ponselku. Aku ingin terus berada dalam bayang-bayangmu, meskipun hanya khayalan tingkat tinggi.

Aku benci ketika aku harus mengatakan, aku benar-benar jatuh cinta padamu. Hingga dalam diam pun, aku berdebar membayangkanmu.
Sejujurnya, dalam ribuan tanda tanya ini, aku terlalu takut...kehilangan. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar