Aku
benci ketika memasuki duniamu yang penuh dengan tanda tanya. Seperti labirin,
aku akan berputar-putar, entah sampai kapan. Bahkan ketika sudah memiliki peta
pun aku masih berputar-putar. Mungkin karena setiap menit, kamu mengubah jalan
labirinmu, sehingga aku tidak bisa menyelesaikannya dengan mudah.
Aku
benci merasakan getaran tak wajar setiap kamu tersenyum padaku, mengisyaratkan
seolah-olah aku boleh membalasnya dan yakin kamu tahu perasaanku yang konyol
ini. Seolah-olah kamu bisa membaca sinar di mataku dan kamu berkata, “Aku pun
merasakan getaran itu,”
Aku
benci merasa begitu bodoh ketika membaca pesan darimu, mulai mengetik kemudian
menghapus beberapa kali, berusaha berpikir keras bagaimana balasan yang tepat
untuk pesanmu. Entah kenapa, kata-kata terdengar begitu penting ketika itu akan
kukirimkan untukmu. Kemudian menunggu lagi sambil berharap kamu akan tersenyum
ketika membaca pesanku. Ya, persis sama seperti ketika aku menemukan pesanmu di
ponselku.
Aku
benci merasa begitu lemah setiap malam, sebelum tidur karena wajahmu memenuhi
langit-langit kamarku. Kemudian terbayang hari-hari yang kulewati denganmu,
tanda-tanda kecil itu, membuatku bahagia sekaligus putus asa karena takut
semuanya hanya fatamorgana. Khayalan tingkat tinggi yang membuat otak kiriku
menolaknya mentah-mentah, “Kau terlalu kekanak-kanakan,”
Aku
benci terbangun dengan jantung yang berdebar kencang dan pelahan senyum
mengembang dengan konyolnya karena memimpikanmu. Kemudian aku teringat satu
fakta -entah benar atau tidak- ketika kita memimpikan seseorang, maka
sebenarnya orang itulah yang memikirkan kita. Lalu, apakah benar kamu
memikirkanku hingga kamu datang dalam mimpi?
Ahh.
Aku
benci ketika aku menemukanmu duduk di sana, lantas saja menoleh padaku,
kemudian tersenyum. Sementara aku tidak tahu harus bagaimana karena sibuk
menata hati, sibuk salah tingkah dengan senyum yang kamu berikan. Dengan
bodohnya aku tersenyum canggung dan mengalihkan perhatian, padahal seribu kali
aku ingin menyapamu. Sekedar untuk menanyakan kabar. Namun aku tak sanggup
menahan debaran jantung. Aku tak sanggup membiarkanmu tahu, bagaimana
dahsyatnya getaran yang kurasakan, melahirkan butiran keringat di tanganku.
Aku
benci mengakui besarnya pengaruh dirimu dalam hidupku. Bahkan aku tak bisa
mencari celah sedikitpun untuk mencela kamu. Begitu sederhananya kamu, sehingga
aku tak bisa dengan bebas mengkritikmu. Kamu bisa jadi seorang sosok dewasa
yang begitu sempurna dan penuh pseona.
Aku
benci mengatakan aku takut. Begitu pasrah, tanpa jeda. Begitu takut ini hanya
rasa sesaat yang mudah berlalu begitu saja. Begitu takut semua yang kurasakan
tak pernah boleh jadi kenyataan. Begitu takut ternyata gayung cintaku tak
bersambut. Namun bukankah seorang upik abu sekalipun bisa hidup bahagia bersama
pangeran berkuda putihnya? Lantas bukan tak mungkin aku boleh mengharapkan ini
menjadi nyata, kan?
Aku
benci menyadari bagaimana jauh dan berbedanya kita. Mungkin aku dianggap gila
karena merasakan getaran untukmu. Mungkin aku akan ditertawakan tanpa ampun
ketika aku berkata, “Aku serius,”
Namun,
coba beritahu aku, bagaimana caranya aku bisa menghindari pertemuan pertama
itu? Yang entah bagaimana, kamu membuatku terdiam pada pandangan kita detik
itu. Bagaimana caranya aku meredam perasaan yang terlanjur merasukiku begitu
saja tanpa membiarkanku berpikir dan berkompromi dengan otak kiriku yang begitu
mengedepankan logika? Lantas saja pendapat otak kiriku dikalahkan oleh hati dan
otak kananku.
Coba
katakan padaku, bagaimana caranya menghindari seseorang yang bisa jadi akan
selalu kutemui setiap hari? Bagaimana caranya menguasai diri ketika berhadapan
langsung, wajahku tertarik untuk selalu tersenyum? Hatiku bahagia, tak
terkendali? Bahkan diammu saja melahirkan euforia berlebihan dalam hatiku dan
memacu aliran darahku berlari kencang?
Aku
benci menyadari ini. Sejujurnya, aku tak ingin berhenti merasakan ini. Aku tak
ingin berhenti berharap suatu saat nanti semuanya akan jadi nyata meskipun aku
tahu, rasanya seperti mimpi. Aku tak ingin berhenti merasakan getaran di
tubuhku setiap kamu tersenyum padaku. Aku tak ingin berhenti merasakan degupan
jantung meningkat setiap kubaca percakapan kita di ponselku. Aku ingin terus
berada dalam bayang-bayangmu, meskipun hanya khayalan tingkat tinggi.
Aku
benci ketika aku harus mengatakan, aku benar-benar jatuh cinta padamu. Hingga
dalam diam pun, aku berdebar membayangkanmu.
Sejujurnya,
dalam ribuan tanda tanya ini, aku terlalu takut...kehilangan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar