Minggu, 01 Juni 2014

Kakakku yang Ngangenin


Rasanya ingin menulis dengan genre yang berbeda dari biasanya. Bukan berbau ekonomi apalagi politik. Tapi keluargaku. Rekan bertengkar namun menjaga. Rekan beradu ejekan namun ngangenin. Siapa lagi kalau bukan Yoyo, kakak laki-lakiku satu-satunya.

Sekedar pengantar saja, entah keinginan darimana, aku begitu sering memikirkan seandainya aku tidak pernah dewasa. Aku tidak perlu memikirkan kuliah, pekerjaan, bahkan menikah. Aku ingin terus menjalani hari-hari yang terasa ringan walaupun terkadang menegangkan dan menggerus dinding hati. Tentunya permasalahan yang aku temui masih persoalan sepele. Apalagi kalau bukan belajar, tugas, teman-teman dan... oke, yang terakhir tak perlulah aku sebutkan.

Perasaan rindu tiba-tiba menyeruak dan kenangan masa kecil memenuhi benakku ketika aku melihat dua kakak beradik dengan riangnya berlarian, berkejar-kejaran diselingi derai tawa. Begitu akur. Ah, lihatlah mereka, apa yang mereka rasakan selain bahagia? Mereka belum tahu bagaimana sulitnya masa sekolah nanti, dan bagaimana teganya “cinta” mengekang langkah. Apa yang mereka dapatkan selain kasih sayang orangtua? Belum. Mereka belum memasuki tahap yang kini tengah aku jalani. Mereka akan menangis ketika bertengkar, entah merebutkan mainan, permen, atau remote TV. Mereka akan menangis ketika jatuh, entah dari sepeda atau dari tempat tidur. Yang pasti, mereka belum akan menangis karena jatuh cinta. (aih)

Aku rindu masa kecilku, ketika aku dengan ributnya bermain dengan kakak laki-lakiku yang baru kusadari sangat menyayangiku. Aku rindu bagaimana bisingnya rumah karena tangisanku setelah bertengkar hebat dengan kakak laki-lakiku yang bisa sangat “jahat” ketika kami bermain playstation. Aku bahkan rindu “mengacaukan kerajaan” kakak laki-lakiku ketika kami bermusuhan, lantas dia akan balik “menyerang kerajaanku”. Bahkan lebih dahsyat lagi, sehingga aku akan berlari, mengadu pada Mama dengan tangis. Betapa lucunya.

Aku rindu bermain boneka, rumah-rumahan, atau petak umpet dengan teman-teman sebaya. Lantas tidak memikirkan bagaimana besok. Hanya hari ini saja. Tidak memikirkan bagaimana beratnya “dunia”. Terus berlarian dan tertawa saja sepanjang hari. Lalu ketika malam dan merasa lelah, aku akan menutup mataku, tidur bersisian dengan kakak laki-lakiku dengan akur. Merasa begitu tenang karena kakakku, menjagaku.

Meskipun kami sering bertengkar, aku baru sadar ketika kami berjauhan. Dia sangat sayang padaku. Sangat menjagaku. Peduli. Hanya saja dia tidak mau menunjukkannya secara terang-terangan. Terlalu gengsi untuk mengakui, “Kamu tuh cantik kok, Dek,” atau, “Aku kangen juga, Dek,” alhasil, bukannya mengobrol dengan akur, kami justru bertengkar lagi. Namun aku yakin, pertengkaran kami lebih membuatnya nyaman, dan mengisyaratkan bagaimana sayangnya kakakku padaku.

Seiring berjalannya waktu dan menjadikan kami sama-sama dewasa, naluri “menjaga” dari dia semakin kuat padaku. Meskipun perhatian darinya sering terputus dengan nada ketus atau kata-kata, “Udah dulu ya, aku sibuk nih. Jangan nangis terus lah,” Apalagi ketika aku patah hati beberapa bulan lalu. Ah, usahanya menghiburku memang menyenangkan. Dia selalu punya cara membuatku tertawa lagi, setidaknya melupakan rasa sakit yang memang sampai sekarang masih menyesakkan dan tak jarang mengikat oksigen di sekitarku tiba-tiba.

Tidak cukup sampai di situ, ketika aku kembali “jatuh” karena masa depan yang belum menyambutku dengan baik beberapa hari lalu pun, dia kembali menjaga dan mendukungku. Mengatakan semuanya akan lebih baik. Mengatakan, “Kamu nggak akan jadi cewek kuat kalo nggak pernah ngerasain yang namanya jatuh,”

Begitu menguatkan aku dengan kalimat, “Ini wajar. Kamu bersaing nilai sama orang seIndonesia. Yang punya nilai 9 bukan kamu doang. Yang pinter bukan kamu doang. Jamanku dulu, PMDK tuh emang susah dan cuman juara umum yang dapet. Lagian masih ada SPMB kan?”

Membuatku terdiam ketika dia membuka kenangan pahitnya, “Kamu baru dicoba sekali. Kamu lupa aku dulu ditolak dan gagal sampai 3 kali sama Bandung dan 2 kali sama Jogja?”

Ah. Dia benar. Lebih menyesakkan saat itu. Kok rasanya lemah sekali aku jika aku menyerah hanya karena 

Mungkin dia bukan kakak laki-laki paling romantis sedunia. Bukan juga kakak laki-laki paling perhatian sedunia. Tapi dia memang kakak laki-laki satu-satunya yang tidak akan terganti oleh sosok manapun.
Di akhir tulisanku, ada beberapa hal yang ingin aku sampaikan pada dia, kakak laki-lakiku. Coba dia tahu aku ada blog...dan aku nulis satu post khusus buat dia J

“Yo, kalo kamu baca blogku kamu pasti bilang aku lebay. Tapi serius deh, aku sayang kamu lho, Yo. Maacih ya udah jadi kakak yang nyebelin tapi ngangenin. Kalo twittermu aktif, aku bakal mention kamu tiap hari. Kalo aku ada line, aku bakalan nge-line kamu deh tiap hari. Cepetan KP di sini dong, biar kita bisa main lagi. Aku pengen curhat nih!!! Hahaha :D”



yoyo bangun bobok dan talitha :D



                                            

Tidak ada komentar:

Posting Komentar