Rasanya
ingin menulis dengan genre yang berbeda dari biasanya. Bukan berbau ekonomi
apalagi politik. Tapi keluargaku. Rekan bertengkar namun menjaga. Rekan beradu
ejekan namun ngangenin. Siapa lagi
kalau bukan Yoyo, kakak laki-lakiku satu-satunya.
Sekedar
pengantar saja, entah keinginan darimana, aku begitu sering memikirkan
seandainya aku tidak pernah dewasa. Aku tidak perlu memikirkan kuliah,
pekerjaan, bahkan menikah. Aku ingin terus menjalani hari-hari yang terasa
ringan walaupun terkadang menegangkan dan menggerus dinding hati. Tentunya
permasalahan yang aku temui masih persoalan sepele. Apalagi kalau bukan
belajar, tugas, teman-teman dan... oke, yang terakhir tak perlulah aku
sebutkan.
Perasaan
rindu tiba-tiba menyeruak dan kenangan masa kecil memenuhi benakku ketika aku
melihat dua kakak beradik dengan riangnya berlarian, berkejar-kejaran diselingi
derai tawa. Begitu akur. Ah, lihatlah mereka, apa yang mereka rasakan selain
bahagia? Mereka belum tahu bagaimana sulitnya masa sekolah nanti, dan bagaimana
teganya “cinta” mengekang langkah. Apa yang mereka dapatkan selain kasih sayang
orangtua? Belum. Mereka belum memasuki tahap yang kini tengah aku jalani.
Mereka akan menangis ketika bertengkar, entah merebutkan mainan, permen, atau
remote TV. Mereka akan menangis ketika jatuh, entah dari sepeda atau dari
tempat tidur. Yang pasti, mereka belum akan menangis karena jatuh cinta. (aih)
Aku
rindu masa kecilku, ketika aku dengan ributnya bermain dengan kakak laki-lakiku
yang baru kusadari sangat menyayangiku. Aku rindu bagaimana bisingnya rumah
karena tangisanku setelah bertengkar hebat dengan kakak laki-lakiku yang bisa
sangat “jahat” ketika kami bermain playstation.
Aku bahkan rindu “mengacaukan kerajaan” kakak laki-lakiku ketika kami
bermusuhan, lantas dia akan balik “menyerang kerajaanku”. Bahkan lebih dahsyat
lagi, sehingga aku akan berlari, mengadu pada Mama dengan tangis. Betapa
lucunya.
Aku
rindu bermain boneka, rumah-rumahan, atau petak umpet dengan teman-teman
sebaya. Lantas tidak memikirkan bagaimana besok. Hanya hari ini saja. Tidak
memikirkan bagaimana beratnya “dunia”. Terus berlarian dan tertawa saja
sepanjang hari. Lalu ketika malam dan merasa lelah, aku akan menutup mataku,
tidur bersisian dengan kakak laki-lakiku dengan akur. Merasa begitu tenang
karena kakakku, menjagaku.
Meskipun
kami sering bertengkar, aku baru sadar ketika kami berjauhan. Dia sangat sayang
padaku. Sangat menjagaku. Peduli. Hanya saja dia tidak mau menunjukkannya
secara terang-terangan. Terlalu gengsi untuk mengakui, “Kamu tuh cantik kok,
Dek,” atau, “Aku kangen juga, Dek,” alhasil, bukannya mengobrol dengan akur,
kami justru bertengkar lagi. Namun aku yakin, pertengkaran kami lebih
membuatnya nyaman, dan mengisyaratkan bagaimana sayangnya kakakku padaku.
Seiring
berjalannya waktu dan menjadikan kami sama-sama dewasa, naluri “menjaga” dari
dia semakin kuat padaku. Meskipun perhatian darinya sering terputus dengan nada
ketus atau kata-kata, “Udah dulu ya, aku sibuk nih. Jangan nangis terus lah,”
Apalagi ketika aku patah hati beberapa bulan lalu. Ah, usahanya menghiburku
memang menyenangkan. Dia selalu punya cara membuatku tertawa lagi, setidaknya
melupakan rasa sakit yang memang sampai sekarang masih menyesakkan dan tak
jarang mengikat oksigen di sekitarku tiba-tiba.
Tidak
cukup sampai di situ, ketika aku kembali “jatuh” karena masa depan yang belum
menyambutku dengan baik beberapa hari lalu pun, dia kembali menjaga dan
mendukungku. Mengatakan semuanya akan lebih baik. Mengatakan, “Kamu nggak akan
jadi cewek kuat kalo nggak pernah ngerasain yang namanya jatuh,”
Begitu
menguatkan aku dengan kalimat, “Ini wajar. Kamu bersaing nilai sama orang
seIndonesia. Yang punya nilai 9 bukan kamu doang. Yang pinter bukan kamu doang. Jamanku dulu, PMDK tuh emang susah dan cuman juara umum yang dapet. Lagian masih ada SPMB kan?”
Membuatku terdiam ketika dia membuka kenangan pahitnya, “Kamu baru dicoba sekali.
Kamu lupa aku dulu ditolak dan gagal sampai 3 kali sama Bandung dan 2 kali sama Jogja?”
Ah. Dia benar. Lebih menyesakkan saat itu. Kok rasanya lemah sekali aku jika aku menyerah hanya karena
Mungkin
dia bukan kakak laki-laki paling romantis sedunia. Bukan juga kakak laki-laki
paling perhatian sedunia. Tapi dia memang kakak laki-laki satu-satunya yang
tidak akan terganti oleh sosok manapun.
Di
akhir tulisanku, ada beberapa hal yang ingin aku sampaikan pada dia, kakak
laki-lakiku. Coba dia tahu aku ada blog...dan aku nulis satu post khusus buat
dia J
“Yo, kalo kamu baca blogku kamu
pasti bilang aku lebay. Tapi serius deh, aku sayang kamu lho, Yo. Maacih ya
udah jadi kakak yang nyebelin tapi ngangenin. Kalo twittermu aktif, aku bakal
mention kamu tiap hari. Kalo aku ada line, aku bakalan nge-line kamu deh tiap
hari. Cepetan KP di sini dong, biar kita bisa main lagi. Aku pengen curhat
nih!!! Hahaha :D”
![]() |
| yoyo bangun bobok dan talitha :D |

Tidak ada komentar:
Posting Komentar