Perpisahan
mendadak menjadi satu kata yang membuat mimpiku berubah buruk. Membuat hariku
penuh dengan kelabu. Aku tidak ingin melalui hari itu, disaat aku harus, tidak
boleh tidak, mengucapkan selamat tinggal padamu.
Aku
sudah lama memimpikan untuk bisa tinggal di kota ini, yang dijuluki kota pelajar.
Aku sangat ingin melanjutkan mimpiku, studiku di sini. Ingin rasanya
mempercepat waktu supaya bisa segera kuliah karena jujur saja, aku sudah jenuh
mengenakan seragam putih abu-abuku. Rasanya menyenangkan bisa menjadi
mahasiswa, terdengar keren dan dewasa kan? Ya, itu kata-kataku dulu bersama
teman-teman beberapa bulan menjelang ujian. Semua mimpi terdengar menyenangkan.
Tapi,
kemudian hari-hari membosankanku menjelang ujian memudar ketika kamu masuk
begitu saja. Membuat semuanya berwarna. Tanpa aba-aba, tanpa sinyal apa-apa, membuatku
terkejut karena kamu langsung saja mengubah rencanaku, mengubah semua rasa
dalam hati.
Aku
sadar, ini buka rasa sesaat. Tuhan anugerahkan perasaan ini dalam hatiku. Tuhan
ijinkan kita bertemu pada satu hari untuk ubah semuanya. Namun mungkinkah kamu
juga rasakan getaran ini setiap pertemuan kita?
Sekarang,
aku di sini. Di kota yang ingin kujadikan sebagai tujuan pendidikanku
selanjutnya. Aku melepaskan pandanganku ketika melalui jalan kota. Entah
kenapa, semua yang kulihat di sini seolah-olah mengingatkan aku padamu. Semua
yang kulihat di sini semua menuju kamu. Entah sengaja atau aku yang
mengada-ada. Tapi bagaimana bisa? Aku seolah melihatmu di ujung jalan, di
perempatan, bahkan di lampu merah, menghadang taksi yang kunaiki!
Aku
berdiri sendirian, menatap orang-orang yang balas menatapku dengan tatapan
dingin. Bagaimana bisa aku merasa begitu
asing di kota yang ingin segera aku tinggali? Bagaimana mungkin aku bisa
bertahan tinggal di sini jika setiap orang yang kutatap balas menatapku dengan
tatapan sinis? Aku rindu kota kelahiranku. Aku rindu orang-orang di sana.
Bahkan aku merindukanmu, ya, kamu yang sejak awal seenaknya saja secara
diam-diam menambahkan namamu di daftar nama orang yang paling penting dalam
hidupku.
Semua
yang kulakukan serba salah dan aku merindukan masa-masa sekolahku, ketika aku
bisa bertemu denganmu masih berseragam pramuka atau putih abu-abu. Melihatmu
tersenyum menyapaku di sana. Jawablah, aku akan segeta meninggalkan semuanya
kan? Termasuk kamu? Tidakkah kamu berpikir akan sangat sulit meninggalkan
orang-orang yang kamu sayang? Akan sangat menyesakkan menahan tangis di pintu
keberangkatan nanti?
Mungkin
ini karma. Aku pernah sangat bosan dengan kota kelahiranku, tempatku hidup
selama 17 tahun dan rasanya aku ingin segera pergi dari sana menuju kota pelajar
ini. Aku pernah juga sangat mencintai seseorang yang telah lebih dulu berada di
kota ini dan berusaha untuk menemuinya kemudian. Namun sekarang orang itu
meninggalkanku, tak menghiraukanku. Sekarang kota impianku ini sungguh
menyesakkan. Sekarang, aku jatuh cinta pada laki-laki yang menetap di kota
kelahiranku. Yang tak akan mungkin pergi kemana-mana. Yang takkan mungkin
kutemui setiap hari setelah aku resmi menjadi mahasiswa nanti.
Laki-laki
yang membuatku begitu sulit mengucapkan selamat tinggal pada masa SMA-ku.
Membuatku menangis sebelum kata perpisahan itu terucap.
Namun...
laki-laki itu jugalah yang menguatkanku. Mengatakan padaku tidak ada yang salah
dengan perjumpaan dan perpisahan. Keduanya sama-sama indah, yang bisa menjadi
penawar pahitnya perjuanganku nanti. Yang meyakinkan aku, semuanya akan
baik-baik saja. Laki-laki itu adalah kamu, yang aku cintai.
Aku
mengerti, aku tahu kamu benar. Hanya saja bagaimana jika semuanya berubah
ketika aku pergi? Bagaimana jika nanti ketika aku kembali untuk melepas rindu,
kotaku tak lagi sama, dan kenangan itu memudar? Bagaimana jika nanti ketika aku
kembali untuk bertemu denganmu, senyummu tak lagi sama? Kamu tak lagi menatapku
dengan sinar yang berpendaran itu lagi?
Di
sini, aku berdiri sendiri. menahan tangis karena tidak mengenal siapapun,
karena tersesat diantara mereka yang tidak bersahabat. Aku membisikkan namamu
berkali-kali, aku merindukanmu. Sangat.
Ketika
kamu membaca ini, aku harap kamu mengerti betapa takutnya aku dengan kata
perpisahan. Begitu takutnya aku dengan kehidupan yang baru. Tapi, aku tahu aku
harus bertahan. Hanya saja, aku harap
kamu tidak akan berubah. Kamu akan tetap menjadi kamu. kenangan yang paling
manis yang kupunya di hari-hari terakhirku menjelang ujian. Terimakasih karena
menjadi bagian terpenting dalam hidupku. Kamu benar, seharusnya aku tidak perlu
menangisi perpisahan. Aku percaya selama kamu ada di sisiku, paling tidak untuk
menguatkan aku dan buatku tersenyum.
Late posting. Harusnya ini di post pas aku ke Jogja setelah UN kemaren. hehe. maaf ya readers... :D
Alhamdulillah bisa ke-publish juga...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar