Minggu, 25 Mei 2014

Perpisahan


Perpisahan mendadak menjadi satu kata yang membuat mimpiku berubah buruk. Membuat hariku penuh dengan kelabu. Aku tidak ingin melalui hari itu, disaat aku harus, tidak boleh tidak, mengucapkan selamat tinggal padamu.

Aku sudah lama memimpikan untuk bisa tinggal di kota ini, yang dijuluki kota pelajar. Aku sangat ingin melanjutkan mimpiku, studiku di sini. Ingin rasanya mempercepat waktu supaya bisa segera kuliah karena jujur saja, aku sudah jenuh mengenakan seragam putih abu-abuku. Rasanya menyenangkan bisa menjadi mahasiswa, terdengar keren dan dewasa kan? Ya, itu kata-kataku dulu bersama teman-teman beberapa bulan menjelang ujian. Semua mimpi terdengar menyenangkan.

Tapi, kemudian hari-hari membosankanku menjelang ujian memudar ketika kamu masuk begitu saja. Membuat semuanya berwarna. Tanpa aba-aba, tanpa sinyal apa-apa, membuatku terkejut karena kamu langsung saja mengubah rencanaku, mengubah semua rasa dalam hati.
Aku sadar, ini buka rasa sesaat. Tuhan anugerahkan perasaan ini dalam hatiku. Tuhan ijinkan kita bertemu pada satu hari untuk ubah semuanya. Namun mungkinkah kamu juga rasakan getaran ini setiap pertemuan kita?

Sekarang, aku di sini. Di kota yang ingin kujadikan sebagai tujuan pendidikanku selanjutnya. Aku melepaskan pandanganku ketika melalui jalan kota. Entah kenapa, semua yang kulihat di sini seolah-olah mengingatkan aku padamu. Semua yang kulihat di sini semua menuju kamu. Entah sengaja atau aku yang mengada-ada. Tapi bagaimana bisa? Aku seolah melihatmu di ujung jalan, di perempatan, bahkan di lampu merah, menghadang taksi yang kunaiki!

Aku berdiri sendirian, menatap orang-orang yang balas menatapku dengan tatapan dingin. Bagaimana bisa aku merasa begitu  asing di kota yang ingin segera aku tinggali? Bagaimana mungkin aku bisa bertahan tinggal di sini jika setiap orang yang kutatap balas menatapku dengan tatapan sinis? Aku rindu kota kelahiranku. Aku rindu orang-orang di sana. Bahkan aku merindukanmu, ya, kamu yang sejak awal seenaknya saja secara diam-diam menambahkan namamu di daftar nama orang yang paling penting dalam hidupku.

Semua yang kulakukan serba salah dan aku merindukan masa-masa sekolahku, ketika aku bisa bertemu denganmu masih berseragam pramuka atau putih abu-abu. Melihatmu tersenyum menyapaku di sana. Jawablah, aku akan segeta meninggalkan semuanya kan? Termasuk kamu? Tidakkah kamu berpikir akan sangat sulit meninggalkan orang-orang yang kamu sayang? Akan sangat menyesakkan menahan tangis di pintu keberangkatan nanti?

Mungkin ini karma. Aku pernah sangat bosan dengan kota kelahiranku, tempatku hidup selama 17 tahun dan rasanya aku ingin segera pergi dari sana menuju kota pelajar ini. Aku pernah juga sangat mencintai seseorang yang telah lebih dulu berada di kota ini dan berusaha untuk menemuinya kemudian. Namun sekarang orang itu meninggalkanku, tak menghiraukanku. Sekarang kota impianku ini sungguh menyesakkan. Sekarang, aku jatuh cinta pada laki-laki yang menetap di kota kelahiranku. Yang tak akan mungkin pergi kemana-mana. Yang takkan mungkin kutemui setiap hari setelah aku resmi menjadi mahasiswa nanti.

Laki-laki yang membuatku begitu sulit mengucapkan selamat tinggal pada masa SMA-ku. Membuatku menangis sebelum kata perpisahan itu terucap.
Namun... laki-laki itu jugalah yang menguatkanku. Mengatakan padaku tidak ada yang salah dengan perjumpaan dan perpisahan. Keduanya sama-sama indah, yang bisa menjadi penawar pahitnya perjuanganku nanti. Yang meyakinkan aku, semuanya akan baik-baik saja. Laki-laki itu adalah kamu, yang aku cintai.

Aku mengerti, aku tahu kamu benar. Hanya saja bagaimana jika semuanya berubah ketika aku pergi? Bagaimana jika nanti ketika aku kembali untuk melepas rindu, kotaku tak lagi sama, dan kenangan itu memudar? Bagaimana jika nanti ketika aku kembali untuk bertemu denganmu, senyummu tak lagi sama? Kamu tak lagi menatapku dengan sinar yang berpendaran itu lagi?

Di sini, aku berdiri sendiri. menahan tangis karena tidak mengenal siapapun, karena tersesat diantara mereka yang tidak bersahabat. Aku membisikkan namamu berkali-kali, aku merindukanmu. Sangat.
Ketika kamu membaca ini, aku harap kamu mengerti betapa takutnya aku dengan kata perpisahan. Begitu takutnya aku dengan kehidupan yang baru. Tapi, aku tahu aku harus bertahan.  Hanya saja, aku harap kamu tidak akan berubah. Kamu akan tetap menjadi kamu. kenangan yang paling manis yang kupunya di hari-hari terakhirku menjelang ujian. Terimakasih karena menjadi bagian terpenting dalam hidupku. Kamu benar, seharusnya aku tidak perlu menangisi perpisahan. Aku percaya selama kamu ada di sisiku, paling tidak untuk menguatkan aku dan buatku tersenyum.






Late posting. Harusnya ini di post pas aku ke Jogja setelah UN kemaren. hehe. maaf ya readers... :D 
Alhamdulillah bisa ke-publish juga... 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar