Minggu, 25 Mei 2014

My Days, Our Days


“Jangan bertanya padaku karena apa yang aku rasakan tertulis begitu saja”


Aku bermimpi ingin menuliskan cerita masa remajaku, masa SMA yang penuh dengan canda tawa berpadu tangis bersama teman-teman, dan kamu. Aku ingin menuliskan dan nantinya aku berharap kamu adalah orang pertama yang membaca bukuku. Aku ingin kamu tahu, aku merasakan getaran dahsyat yang tidak terjabarkan dengan kata-kata. Aku ingin kamu tersenyum ketika mengingat kejadian-kejadian itu dan kuharap, bentuk tulisan itu bukanlah hal yang akan mengganggumu atau bahkan merusak harimu.

Bukankah akan sangat menyenangkan jika aku melukiskan kamu seperti malaikat tak bersayap yang bukan hanya mampir dalam teras hidupku, tetapi bahkan masuk dan menguasai rumah itu. Kamu mewarnainya dengan...entahlah, aku sendiri tidak tahu warna apa yang kamu gunakan sampai aku merasa begitu nyaman tinggal di sana.

Aku ingin menuliskan perjuanganku di hari-hari terakhir di masa SMA untuk lulus ujian bersama teman-teman. Bagaimana kami ketika pulang sekolah dan langsung pergi ke tempat bimbingan belajar, masih dengan seragam sekolah lalu mengobrol tanpa henti dan meramaikan suasana tempat les. Bagaimana melelahkannya ketika kami pulang sore hari, dengan menyimpan ribuan mimpi di kepala setelah selesai mendapatkan pengajaran di les. Lantas ketika malam, kami akan kembali mengulang pelajaran sambil mengulur mimpi satu-satu. Diakhiri dengan menutup mata untuk tidur, akan sangat menyenangkan jika masa depan yang kami inginkan terbawa mimpi. Tapi, bahagiaku lengkap ketika kamu juga mengangguku dalam mimpi.

Aku ingin menggambarkan bagaimana persisnya teman-temanku yang membuat hariku cerah, dan ujian akhir yang sulit untuk dilupakan bersama mereka. Bagaimana mereka juga sangat membantuku untuk beradaptasi dengan “kesendirian”. Mereka seperti alarm merek-ku sendiri karena khusus mengingatkan aku bahwa masih banyak orang yang sayang dan peduli padaku. Lantas kenapa aku harus merasa kesepian? Sahabat terbaik tidak akan meninggalkan aku. 

Aku ingin dunia tahu, hari-hariku indah semenjak kamu ada. Karena kamu adalah sosok tidak terduga yang membantuku berdiri dan kembali percaya pada cinta. Membantuku melihat cinta dari sisi positif, edukatif. Tentu saja setelah aku habis-habisan ditipu, dikhianati dan ditinggalkan sendirian ketika aku membutuhkan cinta itu. Di saat-saat kronis dalam hidupku. Kamu dengan gaya yang sederhana, senyum yang begitu menenangkan, menyapaku. Kamu membawaku masuk ke dalam hidupmu di setiap pertemuan kita.

Aku ingin berbagi rasa pada dunia. Bagaimana konyolnya aku karena mencintaimu. Aku rela belajar mati-matian, merelakan hari Minggu atau hari libur untuk les, hanya untuk bertemu denganmu, mengobrol denganmu, menatap mata beningmu. Aku rela pulang lebih sore dari lainnya untuk menunggu kelasmu selesai dan melihatmu turun dari kelas. Walaupun hanya 1 atau 2 menit, untuk mendengar kamu pamit pulang kemudian aku juga berbalik untuk pulang. Aku rela menunggu lama di tempat les untuk konsultasi dengan guru lain hanya untuk menunggumu nanti masuk ke kelas. Aku rela mengembalikan buku pinjaman bukan di hari les, karena aku tahu kamu ada pada hari itu, hanya untuk melihatmu duduk di sana, tersenyum padaku ketika aku masuk tempat les. Satu tatapan dan senyummu cukup mengaliri hatiku dengan bergalon-galon air pegunungan segar. Aku juga rela belajar sampai malam dan nantinya aku akan bertanya padamu beberapa soal yang aku tidak mengerti, tentu saja pelajaran yang menjadi keahlianmu. Lantas tertidur dengan senyum terkembang karena pertanyaan itu berujung obrolan menyenangkan.

Bagaimana besarnya perjuanganku karena mencintaimu. Aku rela belajar keras dan belajar mencintai satu mata pelajaran karena kamu adalah bagian dari mata pelajaran itu. Aku ingin mendapatkan nilai bagus pada mata pelajaran itu, yang sejak SMP sudah kujauhi, bahkan kumusuhi karena aku tidak mau mengambil kedokteran saat kuliah nanti. Aku belajar mencintai mata pelajaran itu. Aku ingin membuatmu bangga padaku.

Namun, aku bahagia karena obrolan kita semakin hari, pada setiap pertemuan lebih akrab. Aku senang karena kamu menanyakan keluarga, hobi, dan hal kecil tentangku. Bahkan lebih menyenangkan lagi karena kamu ingat setiap detail yang aku ceritakan padamu, setiap rinci hal tentangku. Aku senang karena kamu juga bercerita banyak padaku. Menanyakan saranku, pendapatku. Aku senang karena kamu secara tidak langsung percaya dan men”spesial”kan aku diantara lainnya. Bukankah kamu tidak mudah menceritakan itu pada teman-temanku atau anak dari sekolah lain?

Aku ingin kamu tahu bagaimana gelinya aku ketika dekat denganmu, mendengarmu bicara, mendengar guyonmu yang terkadang tidak lucu, tapi aku... ya, hanya akulah yang kamu bilang selalu tertawa dan tersenyum menanggapimu, untuk hal-hal yang tidak lucu sekalipun. Bagaimana senangnya aku ketika kamu bilang kamu salah tingkah karena itu. Bagaimana senangnya aku ketika kamu bilang hanya aku...ya, hanya aku...yang tertawa dan tersenyum. Bukan mereka. Mungkin aku akan dianggap aneh atau...entahlah. Aku tidak peduli. (Ah, lihatlah, aku tampak begitu cuek dan konyol ketika mencintaimu).

Terkadang semua terasa dekat, semua terasa ringan dan sederhana. Pertemuan kita... begitu sederhana namun selalu mampu meninggalkan bekas di dinding hatiku. Wajahmu menempel di langit-langit kamarku, tersenyum ketika aku menutup mata dan akhirnya kamu menggangguku dalam mimpi. Betapa lucunya.

Terkadang, aku berpikir sendiri, bolehkah rasa ini aku tanam dan kurawat hati-hati? Bolehkah aku menyimpan rasa ini? Benarkah kamu pun masih sendiri? Benarkah kamu pun masih mencari “teman”? Apakah kamu juga merasakan getaran setiap kita berdekatan? Apakah kamu juga mengerti sinar di mataku setiap kita bertatap? Apakah kamu mengerti arti semu merah di pipiku ketika orang-orang menggoda kita? Apakah saat aku pergi, kamu merindukan kehadiranku di tempat les? Apakah kamu juga berharap aku cepat pulang dan cepat les lagi, supaya kamu bisa melihatku tertawa bersama teman-temanku?

Apakah nantinya...kamu pun mencintaiku?
Semua pertanyaan itu... berputar-putar di kepalaku, membuatku ingin menangis karena takut mendengar jawabanmu. Membuatku ingin berlari dari jawaban yang sebenarnya... Aku terlalu takut menghadapi kenyataan. Aku hanya ingin begini saja. Terus begini, mencintaimu, berada di sampingmu, tanpa harus memikirkan hal lain karena aku tidak peduli. Hanya rasa ini dan kamu. Aku ingin kamu terus membiarkan aku mencintaimu. Toh aku bahagia. Aku yakin Tuhan menakdirkan semuanya.
Dari penjabaran ini, aku ingin dunia tahu. Aku memiliki banyak kenangan manis di SMA. Semuanya memberikanku banyak pelajaran. Dari tahun pertama, kedua dan ketiga, semuanya membuatku belajar untuk lebih dewasa.

Aku ingin dunia tahu. Semuanya terjadi karena takdir.

Aku ingin dunia tahu karena kamu adalah duniaku. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar