Senin, 19 Mei 2014

Kamu, Aku.


Selama ini mereka belum sadar, hanya belum sadar ada yang terjadi antara kamu dan aku. Kita. Ada sesuatu di mataku setiap pandangan kita bertemu pada satu detik, dan dengan manisnya kamu membalas pandanganku dengan sejuta tanda tanya dalam hati yang kutafsirkan diam-diam entah dengan percaya diri atau tidak, “Bolehkah aku berharap?”

Selama ini mereka belum bisa melihat, hanya belum bisa melihat. Ada yang terjadi antara kamu dan aku. Kita. Ada getaran di setiap ucapanku padamu. Ada derai tawa di ujung percakapan yang berbeda. Ada pesan tersirat di setiap kata yang berbalas antara kita, dan kemudian melahirkan decak penasaran dalam benak mereka. “Mungkinkah gadis dan laki-laki itu...?”

Mungkin memang aku mencintaimu, sosok dewasa penuh pesona yang bahkan dalam diam pun mampu menarik perhatian gadis-gadis seusiaku. Bahkan hanya duduk saja, kamu berhasil menarik pandangan gadis-gadis seusiaku terpaku padamu. Namun kamu tidak memberikan respon apa-apa. Seolah-olah kamu tidak tahu mereka berbisik, melemparkan lirikan nakal dan tawa manja, sengaja untuk menarik perhatianmu.

Anehnya, ketika itu adalah aku, ketika aku tanpa sengaja terjebak dalam fragmen konyol atau melakukan hal bodoh yang jelas bukan untuk menarik pandanganmu dengan segala cara centil seperti mereka, kamu justru menatapku dengan sorot mata tajam tanpa ampun, menggetarkan jiwa dan otomatis meruntuhkan dinding pertahananku. Maka dengan sisa rasa malu, aku mengeluh dalam hati, “Kenapa kamu harus selalu menangkapku dalam fragmen konyol? Kenapa aku tidak bisa sedikit saja terlihat anggun seperti mereka di depanmu?”

Bukankah tidak adil rasanya jika aku selalu terlihat salah tingkah di hadapanmu? Bukankah itu makin menguatkan sinyal perasaanku padamu? Namun kenapa kamu tampak seperti tidak menyadari semuanya? Apakah kamu hanya berpura-pura tidak tahu? Apakah kamu sengaja menyembunyikan rasa tahumu?

Mungkin Mama benar. Aku hanya mengagumimu. Sosok dewasa dengan sejuta pesona. Bukankah sangat wajar seorang gadis lugu menaruh rasa kagum yang luar biasa pada figur gurunya? Lantas benarkah aku hanya kagum padamu, caramu bicara, caramu menatap, caramu tertawa dan semuanya tanpa ada embel-embel perasaan lainnya? Cukup, kagum saja?

Aku berpikir lebih jauh, kurasakan lebih dalam, dan kutemukan jawabannya. Jika saja aku hanya menaruh kagum padamu, kenapa aku tidak bisa berhenti memikirkanmu? Kenapa aku tidak bisa melenyapkan bayanganmu dari benakku? Kenapa aku dengan lugunya memutar ulang video pertemuan kita tanpa rasa bosan? Lantas tersenyum bodoh sambil berbisik dalam hati, “Aku merindukanmu,” begitu pasrah dalam diam. Maka, aku katakan. Aku memang sudah jatuh cinta padamu.

Barulah kini beribu pertanyaan menyerangku bertubi-tubi. Bahkan di antara pertanyaan itu, tersirat makna larangan. Mungkin karena perbedaan umur dan status yang kita sandang saat ini menguatkan larangan itu meski tidak tertulis secara resmi dalam undang-undang negara kita. Awalnya, aku mendengarkan dan hampir saja aku mengangguk setuju untuk tidak meneruskan lebih jauh perasaan ini. Aku menurut untuk melangkah pergi dari sisimu sebelum semuanya terlambat. Namun, aku salah. Hatiku menarikku dari langkah seribu itu untuk kembali menemuimu. Apa yang terjadi? Ketika aku berbalik, kamu memang menungguku, dengan senyum lebar. Seolah-olah kamu bekerja sama dengan hatiku untuk membawaku kembali padamu.

Kenapa kamu selalu dan selalu membiarkan aku datang padamu? Apakah memang kutub magnet kita berbeda sehingga kemanapun aku atau kamu pergi, kita akan kembali bersama? Ini dibuktikan dengan kejadian-kejadian kecil dan pertemuan yang dikatakan “kebetulan” namun sebenarnya... takdir Tuhan. Kenapa kamu selalu dan selalu memaksaku untuk bertanya dalam hati, “Bolehkah?” membuatku terjebak dalam kondisi ekstrem. Memangnya aku ini jenis Archaebacteria?
Aku tidak pernah menyalahkan takdir karena Tuhan mempertemukan kita. Hanya saja sampai detik ini, aku terganggu dengan semua pertanyaan yang membuatku ragu dan takut untuk melangkah lebih jauh. 

Ah, lihatlah kini cerita kita tampak seperti dongeng Cinderella. Aku jelas berperan sebagai upik abu dan kamu, dengan segala pesonamu sebagai pangeran berkuda putih itu. Dengan segala kekurangan yang aku miliki, aku berharap dalam hati supaya kamu memilihku. Padahal aku tidak punya apapun yang bisa kubanggakan. Memang jika dilihat lebih rasional, akan sangat jelas kamu pantas untuk mendapatkan gadis yang jauh lebih dariku. Namun semuanya masih tanda tanya. Cerita kita belum sampai pada pukul 12 malam itu. Kita hanya baru bertemu.

Terkadang tenggelam dalam angan-angan memang indah dan membahagiakan. Hingga kita lupa untuk bangun dan menatap kenyataan. Kita terlalu sibuk melukiskan hari-hari bahagia. Seperti itulah aku. Terlalu sibuk tenggelam dalam angan-angan ketika kita bersisian, pandangan bertemu, lantas aku menikmati kesejukan yang kamu berikan lewat bola mata hitammu. Aku semakin sulit untuk bangun karena kamu membiarkanku tersenyum padamu.

Kamu membuatku ketagihan karena ucapanmu di sosial media yang merujuk padaku. Membuatku berharap besok dan besok lagi kamu akan menuliskan hal lain yang berhubungan denganku. Lantas kamu buat aku melayang karena artinya kamu mengingatku dengan baik. Tak jarang kamu membalas tulisanku di sosial media dengan nasihat-nasihat yang membuatku mengangguk, tersenyum, kemudian berbisik, “Kamu benar,”

Kehadiranmu memang tidak pernah kuperhitungkan, karena membawa banyak pengaruh untukku. Mengubah selera musikku, selera makan, bahkan hobi. Diam-diam aku menekuni hal-hal baru yang berhubungan denganmu, dan berusaha untuk menjadi gadis yang lebih baik lagi kedepannya.

Namun lagi-lagi, dari semua hal positif yang kurasakan setelah takdir mempertemukan kita, aku mulai berpikir, aku tidak siap dan belum sanggup melepaskanmu nantinya. Aku masih akan meniti jalan hidupku. Kamu pun akan segera melalangbuana ke negeri orang. Bukankah kita akan berpisah pada saatnya? Mungkin bukan perpisahan layaknya sepasang kekasih yang tidak lagi cocok. Hanya saja kita harus berusaha untuk hidup yang lebih baik. Jadi, apakah jarak akan menjadi tema dalam ceritaku lagi? Jika memang iya, aku percaya, kamu mampu menguatkan aku

Tidak ada komentar:

Posting Komentar