Hari
itu, sesuatu terjadi di antara kita. Untuk pertama kalinya dalam sekian hari
yang kita jalani, hal buruk menguji kita. Terutama perasaanku padamu. Aku tidak
tahu bagaimana menyebut kejadian ini. Mungkinkah kita bertengkar? Mungkin
tidak. Aku melakukan kesalahan besar yang membuatmu kecewa. Bodohnya aku,
menyakiti kamu, orang yang aku sayang. Laki-laki yang berperan penting dalam
hariku setelah seorang bapak dan kakak kandung. Kamu, sosok dewasa yang datang
tanpa aba-aba dan seenaknya saja menambahkan nama pada daftar orang penting di
buku harianku.
Sungguh, aku tidak pernah membayangkan hari itu akan terjadi padaku. Hari ketika aku mengecewakanmu. Tidak ada hal yang lebih menyakitkan selain mendengar, orang yang aku sayang mengatakan padaku bahwa ia kecewa padaku, dan nyatanya kamu mengatakan itu. Jika saja aku bisa memutar waktu, aku akan berusaha untuk tidak melakukannya. Bahkan maafku tidak akan cukup untuk mengobati lukamu. Tanpa menatap matamu pun aku bisa merasakan bagaimana luka itu. Terbayang di benakku sinar matamu meredup, senyummu memudar dan kata-katamu begitu lirih.
Lantas setelah malam itu, aku tidak lagi punya keberanian untuk bertemu denganmu esok hari. aku tidak lagi punya keberanian untuk menatap matamu, membalas senyummu atau memulai percakapan menyenangkan bersamamu lagi seperti biasa. Seperti yang selama ini kita lalui. Mungkinkah nanti kamu tidak akan mau lagi menemuiku? Mungkinkah nanti kamu tidak mau lagi tersenyum padaku? Aku terlalu takut membayangkannya.
Aku sibuk berpikir, apakah ini menjadi akhir dari pertemuan kita? Haruskah seperti ini, sedangkan hari yang tersisa untuk kita tidak banyak lagi? Percuma menangis karena tangisan tidak merubah apapun. Namun, aku benar-benar tidak sanggup menahan sakit dalam hati karena merindukanmu. Di satu sisi aku ingin bertemu denganmu, melihatmu. Di sisi lain, aku terlalu takut menyadari kamu tak lagi sama. Mungkin kamu akan membenciku? Semua pikiran buruk dan perasaan rinduku beradu, bertengkar di benakku, membuat tangisku semakin deras, namun masih tak memperbaiki apapun.
Sampai esok hari, takdir kembali mempertemukan kita. Tahukah kau? Ketika melihatmu duduk di sana, jantungku berpacu dengan cepat. Keringat dingin membanjiri tubuhku. Lidahku kelu seketika. Haruskah secepat ini kita bertemu lagi? apa yang harus aku katakan? Apa yang harus aku lakukan? Bolehkah aku menyapa dan tersenyum padamu?
Namun
apa yang kemudian terjadi? Dengan bodohnya, aku mempercepat tanganku dan
langkah kakiku, bahkan tak sedikitpun berusaha menatapmu karena takut dan
gugup. Betapa bodohnya aku melewatkan detik-detik bersamamu. Memilih untuk
pergi karena rasa takut yang merajaiku.
Mungkin Tuhan ingin kita segera berbaikan ketika tanpa sengaja kita berpapasan. Namun apa yang lagi-lagi aku lakukan? Aku melewatimu begitu saja tanpa menatapmu apalagi mengucapkan kata “halo,” meskipun saat itu... aku tahu kamu menatapku. Sungguh, ini menyesakkan. Aku ingin menatapmu, tersenyum malu-malu dan menyapamu seperti dulu. Namun apa daya? Lututku gemetaran dan jantungku berdegup begitu cepat. Dan lagi, aku tak bisa membiarkan kamu mendengar debaran jantungku.
Ah...
Kepura-puraan
ini membuatku lelah. Kita seperti orang asing yang berada pada satu ruangan,
namun tak satupun dari kita mencoba untuk saling bicara. Begitu aneh, canggung tapi
menggelikan. Aku berusaha untuk tidak menatapmu, sementara kamu pun berusaha
untuk tidak membuatku terganggu atas kehadiranmu dengan mempercepat waktumu di
sana. Lantas kamu melangkah pergi tanpa mengucapkan apapun padaku. Tahukah kau?
Hatiku sakit dengan fragmen yang konyol ini. Tidak bisakah aku kembali bersikap
normal?
Ketika menuliskan beberapa paragraf ini, aku terus membayangkanmu, memutar ulang suaramu yang melekat di langit-langit otakku dan memenuhi dinding hatiku. Tawamu bergema di telingaku, membuatku semakin merindukanmu.
Andai saja aku bisa mengatakan semuanya padamu. Alasan-alasan kenapa aku begitu berbeda dengan gadis lain, dengan anak-anak lain. kenapa aku begitu sulit menyapamu atau mengajakmu bicara sebelum kejadian itu. namun aku tak cukup berani, aku tak cukup yakin kamu akan bahagia.
Bagaimana
jika aku katakan, “Aku tidak pernah menganggapmu sebagai guruku, aku melihatmu
sebagai seorang laki-laki dewasa yang bisa aku rindukan. Aku merasakan getaran
di setiap pertemuan kita dan... aku menyimpan harapan besar padamu. Dalam diam,
aku merasakan perasaan ini padamu,” Bagaimana? Apakah kamu akan langsung
membenciku? Atau kamu justru tertawa dan mengira aku bercanda? Aku tidak bisa
menerka reaksi apa yang akan kamu tunjukkan. Maka aku memilih untuk
mengisyaratkan semuanya. Berharap kamu mengerti. Berharap kamu menyusun puzzle
ini sehingga nantinya tersusun sempurna, melukiskan kata-kata itu.
Mungkin maafku tidak pernah cukup untuk mengobati lukamu. Namun, aku mohon padamu, jangan membenciku. Biarkan aku tetap merasakan ini. Biarkan aku tetap di sisimu. Karena dalam diam, aku benar-benar merindukanmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar