Gadis baru saja menginjakkan kakinya di kota Gudeg. Setelah 3 tahun mengenakan seragam putih abu-abu, ini menjadi penanda baru dalam fase hidupnya. Menjadi seorang mahasiswa.
Tatapannya ragu, senyumnya tersungging malu-malu. Takut melangkahkan kaki karena tak yakin jalan mana yang benar. Ia terlalu takut mengulang kesalahan yang menjadi bekas luka tak permanen dalam hidupnya.
Gadis tak terbiasa mengenal orang baru dengan cepat. Ia lebih suka menyendiri di perpustakaan kampus, memilih untuk berkutat dengan puluhan buku yang menurutnya adalah jendela dunia. Tidak peduli suara riuh rendah di balik jendela gedung sejuta ilmu itu.
Hingga suatu hari, Gadis bertemu dengan Pemuda di sebuah toko buku. Pemuda mengenakan kemeja lengan panjang motif kotak-kotak berwarna ungu. Tubuhnya tinggi dengan bahu yang terlihat kokoh. Senyumnya begitu ramah dan tatapannya hangat menenangkan. Mereka bertemu di salah satu rak buku karena mencari buku yang sama. Sebuah novel detektif.
Dari pertemuan mereka sore itu, Gadis dan Pemuda tak pernah menyangka bahwa Tuhan kembali mempertemukan mereka dalam sebuah acara seminar motivasi di sebuah gedung pertemuan dekat kampus Gadis. Di sanalah mereka berkenalan dan bertukar cerita. Ternyata Pemuda bekerja di sebuah kantor penerbit di kota itu. Sejak pertemuan di seminar, mereka bertukar nomor telepon dan akhirnya saling mengenal lebih jauh satu sama lain.
Usia keduanya terpaut 6 tahun. Namun Pemuda tak sedikitpun menunjukkan sisi dewasa ketika mereka membahas sebuah masalah. Tak pernah terkesan menggurui, apalagi memihak. Ia selalu membiarkan Gadis mengungkapkan pendapat tanpa menyela. Ia sangat menghargai Gadis. Begitu pula sebaliknya. Gadis begitu mengagumi sosok Pemuda yang penuh dengan stok lelucon. Begitu lihai membuatnya tertawa dan paham titik-titik tertentu ketika Gadis membutuhkan tawa.
Tak sampai menunggu berbulan-bulan, Gadis jatuh cinta pada Pemuda. Pemuda jatuh cinta pada Gadis. Sesederhana itulah pertemuan mereka dan sesederhana itu pula mereka jatuh cinta.
Mereka berdua menikmati hari-hari bersama tanpa pernah saling mengungkapkan perasaan, karena tak ingin merusak hubungan pertemanan yang terjalin di antara keduanya. Mereka sibuk menyimpan rapi perasaan itu, karena diam-diam keduanya menaruh kepercayaan bahwa Tuhan yang menjaganya.
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Gadis tumbuh menjadi seseorang yang dewasa dan semakin menarik. Tak sedikit lawan jenis yang menaruh harap padanya. Namun ia tetap setia pada perasaannya untuk Pemuda walaupun ia sendiri tak tahu bagaimana perasaan Pemuda padanya. Ia tak peduli. Yang penting adalah ia mencintai Pemuda.
Sementara Pemuda, semakin hari pun semakin mencintai Gadis. Namun demi melihat banyaknya sosok di luar sana yang mendekati Gadis, pikirannya lambat laun berubah. Ia mulai berpikir bahwa Gadis mungkin akan lebih bahagia bersama sosok lain.
Hingga kemudian, tepat 2 tahun setelah pertemuan mereka, Pemuda memutuskan untuk tidak lagi berada di sisi Gadis. Ia tak ingin menaruh harapan yang terlalu besar dalam dirinya untuk Gadis karena ia takut harapan itu akan menahan langkah Gadis. Maka, diam-diam ia pergi dari kota Gudeg. Meninggalkan Gadis.
Gadis terkejut dengan kepergian Pemuda. Hari-harinya tak lagi bahagia seperti saat Pemuda masih berada di sisinya. Namun ia masih menyimpan kepercayaan, bahwa Tuhan yang akan mempertemukan mereka kembali. Maka setiap hari, ia tak pernah lupa berdoa untuk kebahagiaan Pemuda, dan agar suatu saat dipertemukan kembali dengan Pemuda.
2 tahun berlalu.
Gadis telah lulus dengan predikat terbaik. Ia bahkan bekerja di salah satu perusahaan besar di kota Surabaya. Namun hatinya tidak pernah sembuh dari luka karena ditinggalkan oleh cinta pertamanya, Pemuda. Ia tak berhenti berharap agar bisa bertemu lagi dengan Pemuda.
Mungkinkah Pemuda telah menikah?
Pemuda kembali ke Indonesia setelah menyelesaikan pelatihan di luar negeri. Ia diterima di sebuah perusahaan besar di kota Surabaya. Namun hatinya tidak pernah berhenti membisikkan nama Gadis. Sepercik harap yang ia kubur itu masih bertahan di sana. Ia ingin kembali bertemu dengan Gadis yang tak pernah tidak menggetarkan jiwanya itu.
Mungkinkah Gadis telah menikah?
Dengan langkah yang tergerus rindu, keduanya menyimpan asa. Mungkinkah takdir kembali mempertemukan Pemuda dan Gadis?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar