Jumat, 15 Agustus 2014

Sekilas Pandangan tentang Anak dan Gadget

Assalamualaikum, Readers!
Annyeong Haseyo...

Wah, udah lama aku nggak ngomongin topik yang sedikit lebih berat dari biasanya. Kali ini, aku ingin mengangkat masalah gadget yang melanda kehidupan sebagian besar anak-anak di bawah umur.

Sebelum membahas contoh yang ada di luar sana, mungkin ada baiknya aku memberikan sepenggal dari keluargaku sendiri mengenai gadget yang menguasai anak "di bawah umur".

Ketika aku berkunjung ke rumah Nenek di kota Solo, aku bertemu sepupuku yang masih duduk di bangku SD dan SMP. Awalnya semua terlihat wajar saja karena mereka duduk di ruang tengah sambil ikut menonton acara TV. Tapi, selang beberapa menit, keduanya mengeluarkan ponsel masing-masing dan lantas asyik memainkannya. Sedikit tergelitik melihat adegan ini. Bayangkan saja, anak-anak jaman sekarang yang ibaratnya masih ingusan saja sudah mengenal kata handphone.Ckckck...

Mungkin banyak yang menganggap ini hal yang lumrah, toh kita hidup di jaman yang serba canggih, jadi bukan hal yang tabu melihat anak kecil memegang ponsel dengan merek mahal yang bisa merangkap menjadi laptop mini.

Tapi, apa iya ini adalah tindakan yang benar dari orangtua?

Dulu, ketika aku dan kita yang telah melewati masa kecil masih duduk di bangku SD, rasanya tidak mungkin memiliki barang semahal itu. Boro-boro memiliki, untuk sekedar mengenal saja rasanya jauh. Kalaupun ada, pasti hanya ponsel yang cukup untuk menelepon dan SMS saja. Alasannya jelas, dulu, ponsel memang barang mahal dan belum sepopuler sekarang. Tapi, poinnya bukan di sana. Dulu, kita selalu punya waktu untuk bermain di luar, berkumpul bersama keluarga, dan melakukan aktivitas lain yang lebih menyehatkan dibandikan memelototi layar ponsel atau gadget lainnya. Sedangkan sekarang? Kita pasti banyak menemukan anak SD yang sudah menenteng gadget kemana-mana. Seolah barang itu adalah bagian dari jari mereka. Mereka punya pilihan untuk meninggalkan gadget dan bermain di luar, tapi kenyataannya mereka memilih bermain dengan benda mati yang canggih tersebut, kan?

Tidak sampai di situ. Mereka jadi tak lagi punya waktu untuk mengenal teman sebaya, bermain robot-robotan, boneka, atau masak-masakan di halaman rumah. Mereka asyik dengan dunia maya, dunia yang mereka ciptakan sendiri. Bermain bersama teman yang bahkan mereka sendiri tidak tahu nyata atau tidak. Bukan tak mungkin mereka justru bergaul dengan orang dewasa. Di dunia maya, seseorang bebas menentukan gender, umur dan bahkan nama, bukan?

Jangankan anak yang duduk di bangku SD, mereka yang masih TK saja sudah ada yang menenteng gadget kemana-mana. Herannya, orangtua mereka begitu bangga memamerkan anak mereka yang pandai mengutak atik barang mahal itu. MasyaAllah...

Kejadian lain yang menggelitik hati adalah ketika di sekolah, aku bertemu dengan seorang anak kira-kira berumur 5 atau 6 tahun, menenteng Ipad keluar dari ruang Tata Usaha, mungkin anak dari salah satu staff TU sekolah, mengenakan kacamata. Entah harus tertawa atau bagaimana melihatnya. Bayangkanlah, anak sekecil itu sudah mengenakan kacamata tebal sehari-harinya. Bagaimana nantinya kalau sudah besar?

Salah satu faktor terbesar dari kasus ini adalah didikan orangtua. Banyak dari mereka yang memanjakan anak dengan memberikan fasilitas gadget yang mewah, tanpa memerdulikan dampak lain yang muncul di kemudian hari. Salah satunya ya kacamata tebal dan tidak peduli lingkungan. Banyak kan, yang jika sudah memegang ponsel, lalu melupakan kewajiban lain seperti membantu pekerjaan rumah? Boro-boro secara sukarela, diminta pun mungkin mereka menunda-nunda. Kalau sudah begini, siapa yang disalahkan?

Dari sedikit penjabaran di atas, aku ingin menyalurkan sedikit pendapatku, ada baiknya orangtua tidak lagi memanjakan anak mereka dengan fasilitas mewah yang belum pantas untuk mereka dapatkan. Tidak baik terlalu memanjakan anak, biarkan mereka tumbuh apa adanya, bermain dengan teman sebaya di luar rumah, merasakan kebahagiaan menjadi seorang anak yang merdeka. Ini akan jauh lebih baik untuk perkembangan pribadi anak.


Wassalamualaikum.
Kansahamnida!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar