Sabtu, 09 Agustus 2014

Sebuah Pesan Untukmu.


pesan yang hanya aku dan kamu yang pahami.

Aku tidak tahu bagaimana harus memulainya karena hingga detik ini, aku masih belum mengerti dengan semua hal yang kamu isyaratkan. Kamu tidak mengatakannya padaku, hanya mengirimkan getaran lewat pertemuan pandang terakhir kita siang itu, dan sesuatu yang kau berikan padaku. Entah benar atau tidak, juga lewat kata-kata yang kamu kutip, dan kamu tuliskan lewat sosial media malam harinya.

Awalnya, segumpal rasa kecewa menyelimutiku ketika aku tahu, kamu mengurungkan niat untuk menjelaskan semuanya. Namun, sesaat setelah kamu mengutip kata-kata itu, kesadaran lain menyergapku. Mungkinkah kamu sengaja tak ingin menjelaskan apapun? Bahkan dengan sesuatu yang kamu berikan pun, aku mulai mengerti. Kamu ingin aku mengejar mimpiku menjadi seorang penulis, kelak. Menerbitkan semua tulisan, kata-kata yang kamu bilang menghadirkan jiwa.

Entah kenapa aku merasa kamu seolah mengatakan bahwa kamu berusaha hadir lewat sesuatu yang kamu berikan untukku. Yang seperti katamu, menjadi hiburan dan motivasi untukku. Kamu tak lagi berusaha ada di sisiku, namun hadir dalam wujud lain. Sesuatu  yang selalu menemaniku di sana nanti untuk menggapai mimpiku sejak kecil.
Benarkah apa yang kutafsirkan ini?

Saat menuliskan ini, jutaan rasa ikut mengalir bersama kata-kataku. Mungkinkah kamu sengaja tak ingin menjelaskan apapun karena kamu tak ingin nantinya aku terbebani dengan segala hal antara kita, yang mungkin mengekang langkah?

Apakah benar, harap yang akan membebaniku di sana adalah perasaan yang Tuhan anugerahkan? Namun kamu tak ingin aku terkekang oleh harapan tak pasti hingga kamu putuskan untuk tidak menjelaskan apapun, dan membiarkanku bebas? Seperti kata-kata yang kau kutip, “if you love someone, set them free...”

Mungkin kamu benar, harap itu akan mengekang langkah. Kita tidak tahu, aku tidak tahu akan bertemu siapa dan apa nantinya. Sehingga kamu tak ingin meneruskan apapun. Namun, saat ini, ketika menulis ini, aku bertanya-tanya apakah benar itu tujuanmu? Atau ini hanya sangkaanku saja?

Jika boleh kukatakan padamu, aku memang tak ingin memiliki hubungan seperti yang banyak remaja jalani. Aku pun tahu, kamu tak ingin memiliki seorang kekasih, kan? Aku tahu. Pacaran tak ada dalam agama kita. Mungkin jika kau menjelaskan semuanya, mungkin aku akan menghianati prinsipku dan membuatmu dilema dengan keteguhanmu.

Hubungan tanpa status. Aku akan terjerat rasa galau tak menentu setiap hari, mencemaskan banyak hal yang tak perlu. Itukah yang tak kau inginkan?

Kamu biarkan aku bebas, bertemu dengan banyak tokoh di kota Gudeg, meraih gelar sarjana sebagai gadis yang merdeka, meraih mimpiku untuk menjadi seorang penulis, tanpa harapan konyol. Benarkah yang kutafsirkan ini?

Hingga saatnya ketika aku sudah menjadi seorang wanita, jika memang kau dan aku adalah satu, Tuhan yang akan pertemukan kita dalam satu hari bahagia. Namun jika tidak, kau dan aku akan bahagia di jalan yang berbeda. Itukah yang kau maksud?

Dengarkan aku, aku tak mengerti kenapa kamu berusaha untuk menghindariku, setelah hari pertemuan kita. Katakanlah, kenapa? Bukankah di balik semua rasa, kita masih berteman? Atau setidaknya, kita masih punya banyak hal di luar lingkaran perasaan itu. Namun kenapa, kamu justru merubuhkan jembatan itu? Aku sungguh tidak mengerti. Kamu memang membiarkanku bebas. Namun bukan begini cara yang tepat. Kamu justru melepaskan tanpa membiarkanku kembali padamu.

Bukankah sudah kukatakan, perasaanku ini bukan kendaran bermotor? Kenapa kamu justru memaksaku untuk berhenti? Apa kau ingin membumihanguskan perasaan yang kita yakini sebagai anugerah Tuhan?
Dengarkan aku. Sekali saja. Ini bukan kau yang kukenal.


**


Aku ingin terus menulis. Aku harus terus menulis. Aku akan mengejar mimpiku sejak kecil. Bersama sebagian jiwa yang kamu titipkan lewat sesuatu yang kamu berikan padaku.

Kamu, adalah dan selalu menjadi laki-laki ketiga dalam hidupku yang akan kujaga dalam hati. Tanpa peduli sebagai apa, namun yang kuyakini adalah Tuhan ijinkan aku menyimpan jutaan rasa ini untukmu. Entah sampai kapan.

Kamu dan semua pilihanmu, aku yakin kamu tahu yang terbaik. Kamu dan rencanamu, aku selalu mendoakan dan pun berusaha hadir lewat sebagian jiwa yang kuberikan padamu ketika aku pulang dari liburan saat minggu pertama intensif, masihkah kau ingat?

Semoga baik  kamu dan aku, akan selalu berada dalam lindungan Tuhan. Hingga saatnya nanti ketika kita dipertemukan. 




"Cinta bukan satu-satunya yang bawa kita ke sana. 
Sebut saja dia logika. 
Menang mengalah bahagia,"
-Raisa oleh Tulus-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar