pesan yang hanya aku dan kamu yang pahami.
Aku
tidak tahu bagaimana harus memulainya karena hingga detik ini, aku masih belum
mengerti dengan semua hal yang kamu isyaratkan. Kamu tidak mengatakannya
padaku, hanya mengirimkan getaran lewat pertemuan pandang terakhir kita siang
itu, dan sesuatu yang kau berikan
padaku. Entah benar atau tidak, juga lewat kata-kata yang kamu kutip, dan kamu
tuliskan lewat sosial media malam harinya.
Awalnya,
segumpal rasa kecewa menyelimutiku ketika aku tahu, kamu mengurungkan niat
untuk menjelaskan semuanya. Namun, sesaat setelah kamu mengutip kata-kata itu,
kesadaran lain menyergapku. Mungkinkah kamu
sengaja tak ingin menjelaskan apapun? Bahkan dengan sesuatu yang kamu berikan pun, aku mulai mengerti. Kamu ingin aku
mengejar mimpiku menjadi seorang penulis, kelak. Menerbitkan semua tulisan,
kata-kata yang kamu bilang menghadirkan
jiwa.
Entah
kenapa aku merasa kamu seolah mengatakan bahwa kamu berusaha hadir lewat sesuatu yang kamu berikan untukku. Yang
seperti katamu, menjadi hiburan dan
motivasi untukku. Kamu tak lagi berusaha ada di sisiku, namun hadir dalam
wujud lain. Sesuatu yang selalu menemaniku di sana nanti untuk
menggapai mimpiku sejak kecil.
Benarkah
apa yang kutafsirkan ini?
Saat
menuliskan ini, jutaan rasa ikut mengalir bersama kata-kataku. Mungkinkah kamu
sengaja tak ingin menjelaskan apapun karena kamu tak ingin nantinya aku
terbebani dengan segala hal antara kita, yang mungkin mengekang langkah?
Apakah
benar, harap yang akan membebaniku di
sana adalah perasaan yang Tuhan anugerahkan? Namun kamu tak ingin aku
terkekang oleh harapan tak pasti hingga kamu putuskan untuk tidak menjelaskan
apapun, dan membiarkanku bebas?
Seperti kata-kata yang kau kutip, “if you
love someone, set them free...”
Mungkin
kamu benar, harap itu akan mengekang
langkah. Kita tidak tahu, aku tidak tahu akan bertemu siapa dan apa
nantinya. Sehingga kamu tak ingin meneruskan apapun. Namun, saat ini, ketika
menulis ini, aku bertanya-tanya apakah benar itu tujuanmu? Atau ini hanya
sangkaanku saja?
Jika
boleh kukatakan padamu, aku memang tak ingin memiliki hubungan seperti yang
banyak remaja jalani. Aku pun tahu, kamu tak ingin memiliki seorang kekasih, kan? Aku tahu. Pacaran tak ada dalam agama kita.
Mungkin jika kau menjelaskan semuanya, mungkin aku akan menghianati prinsipku dan
membuatmu dilema dengan keteguhanmu.
Hubungan tanpa status.
Aku akan terjerat rasa galau tak menentu setiap hari, mencemaskan banyak hal
yang tak perlu. Itukah yang tak kau inginkan?
Kamu
biarkan aku bebas, bertemu dengan banyak tokoh di kota Gudeg, meraih gelar
sarjana sebagai gadis yang merdeka, meraih
mimpiku untuk menjadi seorang penulis, tanpa harapan konyol. Benarkah yang
kutafsirkan ini?
Hingga
saatnya ketika aku sudah menjadi seorang
wanita, jika memang kau dan aku
adalah satu, Tuhan yang akan pertemukan kita dalam satu hari bahagia. Namun
jika tidak, kau dan aku akan bahagia
di jalan yang berbeda. Itukah yang kau maksud?
Dengarkan
aku, aku tak mengerti kenapa kamu berusaha untuk menghindariku, setelah hari
pertemuan kita. Katakanlah, kenapa? Bukankah di balik semua rasa, kita masih
berteman? Atau setidaknya, kita masih punya banyak hal di luar lingkaran
perasaan itu. Namun kenapa, kamu justru merubuhkan jembatan itu? Aku sungguh
tidak mengerti. Kamu memang membiarkanku bebas.
Namun bukan begini cara yang tepat. Kamu
justru melepaskan tanpa membiarkanku kembali padamu.
Bukankah
sudah kukatakan, perasaanku ini bukan kendaran bermotor? Kenapa kamu justru
memaksaku untuk berhenti? Apa kau ingin membumihanguskan perasaan yang kita
yakini sebagai anugerah Tuhan?
Dengarkan
aku. Sekali saja. Ini bukan kau yang
kukenal.
**
Aku
ingin terus menulis. Aku harus terus menulis. Aku akan mengejar mimpiku sejak
kecil. Bersama sebagian jiwa yang
kamu titipkan lewat sesuatu yang kamu
berikan padaku.
Kamu,
adalah dan selalu menjadi laki-laki ketiga dalam hidupku yang akan kujaga dalam hati. Tanpa peduli sebagai
apa, namun yang kuyakini adalah Tuhan ijinkan aku menyimpan jutaan rasa ini
untukmu. Entah sampai kapan.
Kamu
dan semua pilihanmu, aku yakin kamu tahu yang terbaik. Kamu dan rencanamu, aku
selalu mendoakan dan pun berusaha hadir lewat sebagian jiwa yang kuberikan padamu ketika aku pulang dari liburan
saat minggu pertama intensif, masihkah kau ingat?
Semoga
baik kamu dan aku, akan selalu berada
dalam lindungan Tuhan. Hingga saatnya nanti ketika kita dipertemukan.
"Cinta bukan satu-satunya yang bawa kita ke sana.
Sebut saja dia logika.
Menang mengalah bahagia,"
-Raisa oleh Tulus-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar