Hari
itu benar-benar datang
Ketika
aku berdiri di pelataran bandara
Diiringi
awan mendung yang bergelayut rendah
Semakin
memberatkan langkah
Sungguh
Detik-detik
akan segera membawaku pergi
Sekejap
memisahkan perasaan
Aku
berdiri menatap kaca besar itu
Berharap melihatmu untuk terakhir kali
Yang
jelas tak mungkin
Sementara
otak kiri menunggu detik keberangkatan
Otak
kanan sibuk memutar ulang segala kenangan
Hatiku
semakin tergerus jutaan rasa
Maka
mau tak mau
Air
mata berperan
Seenaknya
jatuh ketika bayanganmu merasukiku
Ini
membuat mereka bertanya
“Ada
apa denganmu?”
Lantas
apa yang aku katakan?
Apa
aku harus mengakui aku takut meninggalkan ini semua?
Namun
aku hanya menggeleng lemah
Aku
berusaha tidak mengikuti ego
Menyesakkan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar