Maafkanlah, aku sedang tak baik beberapa hari ini dan aku membutuhkanmu.
Entah
kepada siapa lagi aku menjelaskan rasa khawatirku sebelum melangkahkan kaki,
melewati gerbang itu, selain kepadamu. Namun aku tak cukup berani untuk
bercerita secara langsung karena aku tak ingin membuatmu mengernyitkan kening,
lantas berpikiran macam-macam. Aku tak ingin membuatmu kepikiran.Aku tak ingin mengganggumu seperti ketika aku masih mengenakan seragam putih abu-abu.
Hanya
saja detik ini, aku benar-benar tidak tahan lagi memendam semuanya.
Aku merindukan
semua yang telah berlalu. Kota kelahiranku, tempat penyimpan ribuan kenangan, dan
sebentar lagi juga orangtuaku. Kau mungkin akan mengatakan, ini hanya awalnya
saja. Baiklah, jika memang begitu biarkanlah aku menumpahkan semuanya sekarang. Bolehkah
aku menangis? Aku tidak tahan menanggung beban ini sendirian.
Aku
takut membayangkan bagaimana hari-hari kedepannya, apakah aku akan mendapatkan
teman-teman sebaik mereka yang kutemukan di SMP atau SMA? Apa aku akan
merasakan kebahagiaan seperti ketika aku masih mengenakan seragam sekolah dan
berstatus siswa? Kau jelas sudah mengalami tahap ini dan tahu dengan pasti
bagaimana memulai semuanya.
Lalu aku harus bagaimana sekarang?
Ini
mungkin hanya sebatas rasa khawatir yang tak perlu. Tinggal jalani
saja, kan? Tapi bagaimana mungkin jika setiap malam aku menggelisahkan hal-hal
yang belum terjadi? Sibuk menerka bagaimana, apa dan siapa. Belum lagi perasaan
rindu dengan kota kelahiran. Oh Tuhan.
Aku
memang dikelilingi teman yang banyak secara tak kasat mata, tentu saja. Kami kan
baru kenal lewat sosial media dan komunitas itu. Belum berkenalan sebagai seseorang seperti katamu. Ponselku berdenting
ramai, setiap jam. Namun aku tetap merasa kesepian. Entahlah. Aku sudah pernah
menceritakannya padamu, kan? Mungkin kau benar, hanya jasadku yang baru sampai di
kota ini. Sedang hati dan pikiran masih terdampar di sisi dermaga, enggan
beranjak.
Aku harus bagaimana?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar