Sabtu, 30 Agustus 2014

Intermezzo


Assalamualaikum.
Annyeong Haseyo.

Hari ini entah kenapa, aku ingin sekali membahas tentang fenomena dunia maya yang diselami oleh banyak anak sebayaku. Bahkan mungkin hampir semua.

Seperti yang kita tahu, saat ini dengan mudah kita dapat berkenalan, kemudian berbicara banyak hal seolah-olah telah lama saling kenal melalui dunia maya. Juga melalui aplikasi dalam ponsel yang memungkinkan kita untuk mengenal mereka jauh sebelum kita bertemu secara langsung. Hal ini memang menguntungkan. Apalagi bagi mereka yang baru akan memasuki sebuah universitas, atau komunitas baru lainnya. Tidak perlu takut tidak punya teman atau tidak mengenal siapapun saat ospek atau kuliah perdana, karena toh sudah berkenalan dengan banyak orang sebelum hari-H.

Namun, setelah menjalani fenomena berkenalan tanpa tatap muka ini, tidak jarang beberapa di antara mereka merasakan kejanggalan. Kenapa?

Ini dikarenakan banyak hal yang tidak sesuai dengan apa yang mereka pikirkan ketika berhubungan melalui dunia maya. Terkadang apa yang mereka katakan baik-baik saja melalui tulisan tak sama 
dengan apa yang sesungguhnya mereka rasakan. Tulisan memang bisa tersenyum, namun siapa sangka jika saat itu sang penulis tengah bermuram durja? Melalui dunia maya, seseorang bisa terkenal dengan keramahan yang luar biasa, dan mengatakan banyak hal dengan bijak. Namun siapa sangka jika ketika bertemu langsung, dia tak seramah yang kita kira?

Banyak orang yang tertipu karena hidup di dunia maya. Sesungguhnya tulisan tak cukup bisa melukiskan seseorang secara detail. Ketika tatap muka saja, seseorang bisa dengan mudah memalsukan identitas, apalagi jika kita hanya bertemu dengan mereka melalui sosial media atau aplikasi dalam ponsel? Bisa saja dia mengarang nama, usia, bahkan mungkin gender.

Keadaan ini jelas berbeda dengan yang terjadi beberapa tahun lalu. Ketika dunia maya belum semarak seperti sekarang. Ketika aplikasi dalam ponsel hanya berbentuk telepon dan pesan singkat.
Mereka yang akan segera tergabung dalam komunitas baru, jelas berkenalan dengan orang baru melalui tatap muka, langsung bicara dengan si pemilik nama dan suara. Mengetahui secara jelas gender masing-masing. Di sini, kesan pertama akan sangat berpengaruh untuk kelangsungan hubungan pertemanan. Jika kita ramah, maka kita akan mudah membuat teman baru kita nyaman. Tapi jika awalnya saja sudah pelit untuk sekedar tersenyum, maka otomatis dalam hitungan detik, mereka tidak akan nyaman berada di dekat kita.

Hal yang penting ketika memulai pertemanan dengan seseorang adalah dengan membuat mereka tertawa. Karena percaya atau tidak, tawa akan menjadi jembatan menuju pertemanan yang menyenangkan. Tidak jarang mereka yang berbeda gender berusaha untuk melakukan aksi pendekatan dengan cara menyiapkan stok guyon (;D)

Sepertinya, mereka yang memilih hidup di dunia nyata dapat menjalani hidup dengan lebih santai karena mereka tahu medan apa yang mereka hadapi. Alangkah baiknya, kita pun berusaha untuk hidup di dunia nyata. Bertemu dengan orang banyak secara tatap muka.

Jika kita memiliki mata dan mulut yang bisa bicara, kenapa kita harus mengandalkan jempol tangan 
untuk berkenalan dengan mereka melalui sosial media atau aplikasi dalam ponsel? Mari kita hidup di dunia nyata bersama-sama dan menjali hubungan pertemanan yang menyenangkan :D


Wassalamualaikum.
Kansahamnida :D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar