Rindu
terkadang menyesakkan
Mengekang,
menjerat langkah kaki
Hingga
aku terpaksa berhenti untuk banyak saat
Sekedar
untuk menunggu
Berharap
dia juga rasakan yang sama
Lantas
aku ketagihan dengan deretan kalimat itu
Yang
kuartikan dengan penuh percaya diri
Seraya
tersenyum lebar
Mungkinkah dia?
Namun
sentakan tiba-tiba mengejutkanku
Menyeretku
kembali pada kenyataan
Bukan
dunia khayal hasil rekaan hati yang bekerja sama dengan otak kanan
Berteriak
di depan wajahku
“Kamu
berkhayal sepanjang hari!”
Otak
kiriku tertawa lebar
Lantas ikut meledekku
“Apa
kubilang. Kau terlalu banyak membaca dongeng!”
Betapa semakin menyesakkan
Lagi-lagi
harus kurasakan
Rindu
yang membelenggu
Memudarkan
warna biru langit senja
Menjadi
kelabu
Mungkinkah
kita ini satu
Tertulis
indah dalam takdir Tuhan?
Atau
selamanya cerita ini diawali namun tanpa akhir?
Ah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar